Ekspor RI Dipermudah, Prabowo “Kunci” CEPA untuk Buka Pasar Baru
astakom.com, DAVOS — World Economic Forum (WEF) Annual Meeting 2026 berlangsung di Davos-Klosters, Swiss pada 19–23 Januari 2026. Dalam pidato khususnya di Davos (22 Januari 2026), Presiden RI Prabowo Subianto menegaskan Indonesia ingin menjadi “mitra setara” di ekonomi global: bukan cuma tempat orang menanam modal, tapi juga partner co-invest sambil mengunci akses pasar lewat rangkaian CEPA/FTA.
Di depan audiens global, Prabowo menekankan pesan yang gampang dicerna investor: kalau aturan jelas dan perjanjian dagang kuat, bisnis lebih berani masuk. Narasi itu disambungkan ke agenda reform, penegakan hukum, dan pembenahan tata kelola, yang ia tampilkan sebagai prasyarat “iklim investasi”.
CEPA bisa dibaca sebagai “paket aturan dagang yang lebih lengkap”: tujuannya mengurangi hambatan (misalnya tarif/biaya), bikin aturan lintas-negara lebih pasti, dan memperlebar ruang kerja sama (barang, jasa, investasi). Di Davos, ini yang ditonjolkan Prabowo sebagai jalur legal agar Indonesia “nyambung” ke pasar dunia tanpa banyak drama regulasi.
Poin yang paling terasa “diplomasi ekonomi”-nya adalah daftar perjanjian yang disebut atau relevan dengan arah pidato Prabowo:
- Uni Eropa – Indonesia (IEU-CEPA) Negosiasi disimpulkan pada 23 September 2025 dan memasuki tahapan finalisasi lanjutan. Bagi pasar, ini sinyal: akses ke salah satu pasar terbesar dunia sedang “dikunci” lewat aturan main yang lebih jelas.
- Kanada – Indonesia (ICA-CEPA) Pemerintah RI menyatakan Indonesia dan Kanada telah menandatangani ICA-CEPA pada September 2025. Ini memperluas jalur dagang-investasi di Amerika Utara dan memberi kerangka kerja sama yang lebih terstruktur.
- Peru – Indonesia (IP-CEPA) IP-CEPA ditandatangani 11 Agustus 2025. Prabowo bahkan pernah menekankan prosesnya relatif cepat, dengan target menaikkan perdagangan dan kerja sama lintas sektor.
- Eurasian Economic Union (EAEU) – Indonesia (FTA) Indonesia menandatangani FTA dengan blok EAEU pada Desember 2025; Reuters melaporkan adanya preferensi tarif yang luas, yang intinya membuka akses lebih besar ke pasar Eurasia.
- Inggris – Indonesia (Strategic Partnership + Economic Growth Partnership) Kerja sama baru RI–Inggris diumumkan 21 Januari 2026, termasuk pengaturan Economic Growth Partnership yang secara eksplisit bertujuan memperdalam hubungan ekonomi dan membuka peluang pengaturan yang lebih komprehensif ke depan.
- Ekspor lebih mudah karena jalur pasar makin banyak dan aturan makin jelas (lebih sedikit hambatan).
- Investasi lebih berani masuk karena ada kepastian aturan main dan kanal kerja sama yang “diikat” lewat perjanjian.
- Proyek bersama (co-invest) bisa digarap lebih cepat karena Indonesia memposisikan diri sebagai partner yang siap “ikut modal”, bukan hanya minta modal.
GenZTakeAway CEPA itu versi “kontrak besar” biar dagang lintas negara nggak ribet dan lebih pasti dan di Davos, Prabowo lagi bilang ke dunia: Indonesia bukan cuma “pasar”, tapi partner; pintu dagang dibuka lewat perjanjian, lalu investor diajak masuk lewat proyek nyata.











