Penangkapan Epic! Junta Myanmar Grebek 3 Pabrik Narkoba Terbesar di Tengah Hutan Shan
astakom.com, Jakarta – Rekor baru pecah setelah aparat keamanan Myanmar sukses meluluhlantakkan tiga pusat produksi narkotika skala besar yang tersembunyi di balik rimbunnya hutan belantara.
Operasi pembersihan yang berlangsung dramatis ini disebut-sebut sebagai aksi shutdown fasilitas barang haram paling masif sepanjang sejarah negara tersebut.
Saking gedenya, satu lokasi pabrik ini punya fasilitas selengkap desa, bahkan menyumbang sepertiga dari total pasokan metamfetamin yang beredar di seluruh negeri sepanjang tahun lalu.
Melansir AFP, Kamis, (15/1/2025) Juru bicara militer, Zaw Min Tun, secara blak-blakan mengungkapkan kepada para jurnalis bahwa penggerebekan di wilayah Pyin Oo Lwin ini adalah biggest win dalam misi anti-narkoba mereka."Ini adalah penyitaan dan penghancuran terbesar oleh operasi anti-narkoba dalam sejarah kami," kata juru bicara junta Zaw Min Tun kepada wartawan di kota Pyin Oo Lwin.
Berdasarkan intelijen kepolisian, tiga pabrik yang saling terkoneksi ini diduga kuat memproduksi lebih dari 12 ton sabu dari total target sitaan 37 ton pada tahun 2025. Fakta ini terungkap setelah tim ahli mencocokkan kemasan teh dan kopi yang biasa dipakai sindikat untuk hidden gem alias menyembunyikan narkoba saat penyelundupan.
Vibes Desa Tersembunyi tapi Isinya Red Flag
Dalam tur pers yang digelar militer di selatan kota Hsipaw, pemandangan bekas laboratorium tersebut terlihat sangat unreal. Alih-alih gudang kumuh, tempat ini justru dibangun layaknya pemukiman mini yang dilengkapi akses jalan, barak tempat tinggal, hingga jaringan listrik dan air yang proper.Namun, alih-alih kegiatan warga, yang ditemukan justru ribuan masker gas dan sarung tangan karet yang berserakan di lantai, serta tong-tong berisi kristal metamfetamin yang siap diproses jadi pil.
Plot Twist Perang Saudara dan Cuan Narkoba
Situasi di Myanmar memang lagi not okay sejak kudeta militer tahun 2021, di mana perang saudara justru bikin produksi barang terlarang ini makin stonks. Para analis menyebut kalau wilayah-wilayah yang dikuasai berbagai faksi pemberontak seringkali dijadikan ladang cuan untuk mendanai operasional perang mereka. Semua pihak yang terlibat dalam konflik dituding saling memanfaatkan hasil penjualan narkotika demi menjaga “kas perang” tetap tebal.Momentum Gencatan Senjata Berkat Campur Tangan China
Ditemukannya pabrik-pabrik ini gak lepas dari situasi politik yang mulai bergeser setelah adanya mediasi dari China. Sebelumnya, militer sempat kehilangan banyak wilayah di negara bagian Shan akibat serangan masif kelompok oposisi pada akhir 2023.Namun, lewat kesepakatan gencatan senjata yang difasilitasi Beijing, intensitas tempur dua kelompok pemberontak paling berpengaruh mulai mereda, sehingga militer punya celah untuk bergerak.
Backstory: Misi Rebut Balik Wilayah yang Hilang
Keberhasilan penggerebekan ini merupakan kelanjutan dari upaya junta untuk melakukan comeback di wilayah-wilayah yang sempat jatuh ke tangan pemberontak. Saat intensitas baku tembak menurun, militer Myanmar mulai menyisir kembali area yang mereka kuasai dan menemukan infrastruktur gelap ini.Sebelum operasi besar ini, Myanmar memang sudah lama dikenal sebagai titik panas perdagangan ilegal di Asia Tenggara, namun skala produksi yang ditemukan di hutan Shan kali ini benar-benar berada di level yang berbeda.













