Trump Spill Opsi Serangan Udara ke Iran Usai Tragedi Demonstran Mati di Jalanan
astakom.com, washington – Pemerintah Amerika Serikat di bawah komando Donald Trump kini tengah menimbang langkah drastis berupa operasi serangan udara terhadap wilayah Iran guna menghentikan aksi kekerasan aparat terhadap para pendemo.
Pernyataan resmi dari gedung putih pada Senin 12/1/2026 waktu setempat mengkonfirmasi situasi darurat tersebut dengan menekankan fakta pilu bahwa banyak warga sipil yang kehilangan nyawa di area publik akibat tindakan represif rezim.
Sekretaris pers Gedung Putih Karoline Leavitt mengungkapkan bahwa Sang Presiden selalu menyiapkan berbagai strategi matang, di mana serangan udara menjadi salah satu opsi militer yang siap dieksekusi oleh panglima tertinggi.
“Satu hal yang sangat dikuasai Presiden Trump adalah selalu mempertimbangkan semua opsi yang ada. Dan serangan udara akan menjadi salah satu dari banyak opsi yang tersedia bagi panglima tertinggi," kata Leavitt kepada wartawan, dilansir kantor berita AFP, Selasa (13/1/2026).
Meski tensi memanas, Leavitt menyebutkan jika jalur negosiasi belum tertutup rapat mengingat utusan khusus Steve Witkoff menangkap sinyal yang berbeda dan lebih lunak dari pihak Teheran dalam komunikasi tertutup, berbanding terbalik dengan narasi agresif yang biasanya mereka tunjukkan di depan kamera.Diplomasi tetap jadi pilihan utama
Meskipun opsi militer sudah di depan mata, leavitt menegaskan bahwa pendekatan persuasif masih menjadi prioritas utama bagi Donald Trump. Pemerintah AS saat ini sedang mendalami pesan rahasia dari pihak Iran yang dinilai lebih kooperatif dibandingkan pernyataan publik mereka. Hal ini menunjukkan adanya ruang bagi solusi damai sebelum langkah ekstrem benar-benar diambil.“Diplomasi selalu menjadi pilihan pertama bagi presiden." Ucap Leavitt. "Apa yang Anda dengar secara publik dari rezim Iran sangat berbeda dari pesan-pesan yang diterima pemerintah secara pribadi, dan saya pikir presiden tertarik untuk mengeksplorasi pesan-pesan tersebut," tambah Leavitt.
Komunikasi intens Araghchi dan utusan khusus
Senada dengan kabar dari Washington, Kementerian Luar Negeri Iran pada Senin pagi juga mengakui adanya saluran komunikasi yang tetap terkoneksi antara menurut Abbas Araghchi dengan tim Trump.Walaupun kedua negara tidak memiliki hubungan diplomatik secara formal, dialog dibalik layar ini diharapkan mampu meredam konflik yang kian meruncing terkait isu hak asasi manusia.
Garis merah yang dilanggar Teheran
Sebagai latar belakang ketegangan ini memuncak setelah Donald Trump Pada hari minggu lalu memberikan peringatan keras mengenai adanya “opsi yang sangat kuat” dari militer AS. Trump menilai Teheran telah melampaui batas atau red line yang telah Ia tetapkan sebelumnya, terutama terkait laporan pembunuhan massal terhadap para demonstran yang turun ke jalan.Secara historis, hubungan kedua negara memang kerap mengalami pasang surut yang ekstrem. Namun, laporan mengenai banyaknya korban jiwa dalam aksi protes baru baru ini menajdi pemicu utama mengapa Gedung Putih kembali mempertimbangkan kekuatan militer secara serius guna memberikan tekanan maksimal kepada pemerintah Iran.













