Update Timur Tengah: Produksi Minyak Petro Masila Lumpuh, Arab Saudi Serang Pelabuhan Al Mukalla Yaman!
Reporter: Nadia Nur Islamiyah
Astakom.com, Yaman – Situasi di wilayah timur tengah kembali memanas, Selasa (30/12/2025). Salah satu negara dikawasan tersebut khususnya Yaman mendadak chaos setelah pasukan koalisi yang dikomandoi Arab Saudi meluncurkan serangan udara ke arah Pelabuhan Al Mukalla hari Selasa ini (30/12/2025).
Langkah agresif Saudi tersebut diambil ditujukan diberbagai pusat logistik tempur milik separatis Dewan Transisi Selatan atau STC yang baru aja tiba dari Uni Emirat Arab (UEA).
Otoritas koalisi menjelaskan bahwa target utama dari serangan udara ini adalah tumpukan persenjataan serta perangkat militer berat yang sedang dibongkar dari dua kapal asal Uni Emirat Arab UEA.Berdasarkan laporan resmi yang dirilis SPA, operasi militer ini menjadi sinyal kuat bahwa Saudi gak akan membiarkan adanya pergerakan senjata ilegal yang dapat memperkeruh stabilitas di kawasan strategis tersebut.
Bentrokan serangan Saudi dengan 'pasukan binaan' UEA ini juga mengakibatkan lumpuhnya sektor ekonomi. Terutama setelah pasukan separatis berhasil menduduki ladang minyak Al Masilah.
Ditengah pertemuan otoritas Yaman- Arab Saudi
Ketegangan ini makin memuncak setelah Ketua Dewan Kepemimpinan Presidensial PLC Rashad Al Alimi, kedapatan terbang ke Arab Saudi untuk melakukan deeptalk terkait memanasnya situasi di Yaman Timur.Pertemuan tersebut dipicu oleh aksi nekat STC yang sebelumnya secara sepihak mengambil alih bandara serta gedung pemerintahan di Provonsi Hadramaut pasca bentrok dengan kelompok suku lokal.
Penghancuran Alutsista di area Pelabuhan
Serangan yang dilakukan oleh pihak koalisi Saudi bener-bener fokus buat bikin lumpuh pasokan tempur yang dikirim oleh UEA untuk menyokong ST.Mereka nggak mau kalau persenjataan tersebut dipakai buat memperluas kekuasaan separatis di wilayah yang kaya sumber daya alam.
Dengan hancurnya muatan dari dua kapal pengangkut itu, diharapkan kekuatan militer STC di Pelabuhan Al Mukalla bisa teredam sehingga tensi konflik di lapangan nggak makin red flag.
Perebutan sumber minyak dan lumpuhnya produksi PetroMasila
Rebutan pengaruh di wilayah Hadramaut ini ternyata berujung fatal buat sektor ekonomi, terutama setelah pasukan separatis berhasil menduduki ladang minyak Al Masilah.Bentrokan fisik dengan aliansi suku setempat menyebabkan operasional perusahaan nasional PetroMasila terpaksa shutdown total.
Padahal, perusahaan kebanggan pemerintah Yaman ini punya performa yang lumayan oke dengan catatan produksi mencapai kisaran 90.000 barel minyak mentah setiap harinya.
Latar Belakang Kronologi
Ketegangan antara pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi dengan kelompok separatis Dewan Transisi Selatan STC sebenernya udah berlangsung lama.Konflik internal ini semakin rumit karena adanya kepentingan dalam pengelolaan sumber daya alam terutama ladang minyak di wilayah Hadramaut.
STC yang selama ini disebut sebut mendapat dukungan dari Uni Emirat Arab UEA seringkali terlibat gesekan dengan pasukan pemerintah PLC dan aliansi suku lokal.
Aksi militer terbaru di Pelabuhan Al Mukalla pada 30 Desember 2025 ini dipicu oleh keberanian STC merebut aset negara milik PetroMasila pada awal Desember lalu.
Bentrokan berdarah yang menewaskan sedikitnya 12 orang tersebut memaksa pemerintah Yaman untuk meminta bantuan intervensi dari koalisi pimpinan Arab Saudi guna menghentikan upaya penguasaan wilayah secara inkonstitusional oleh kelompok separatis tersebut.
Jika eskalasi ini terus berlanjut tanpa ada solusi diplomatis yang impactful, dikhawatirkan krisis energi dan ketidakstabilan pemerintahan di Yaman Timur bakal semakin sulit dikendalikan. (nAD/ aSP)













