Ramai Dibahas Indeks Literasi dan Numerasi Siswa Rendah, Pakar: Pemerintah Harus Teliti Penyebabnya!
astakom.com, Jakarta — Permasalahan mengenai rendahnya indeks literasi dan numerasi siswa Indonesia, pengamat pendidikan menyebut pemerintah harus berani melakukan penelitian secara komprehensif mengenai permasalahan ini.
Sebelumnya, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mengumumkan hasil rekapitulasi hasil tes kompetensi akademik (TKA) 2025.
Melansir berita yang telah dimuat astakom.com, Kemendikdasmen menyebut bahasa Inggris dan matematika menjadi mata pelajaran yang rata-rata nilainya paling rendah.
Hal ini membuka berbagai macam pertanyaan dan pembahasan mengenai penyebab hal ini bisa terjadi.
Pemerintah harus memecahkan permasalahannya
Salah satu pengamat pendidikan, Saprudin Padlil Syah, mengatakan perlu ada tindakan pemecahan masalah ini dari pemerintah, yang dalam hal ini adalah Kemendikdasmen.
“Pemerintah harus berani melakukan penelitian secara komprehensif terkait masalah pendidikan yang ada di Indonesia, salah satunya TKA, cari masalah utamanya dimana,” ujar Saprudin dalam wawancara eksklusif dengan wartawan astakom.com, Selasa (30/12/2025).
Saprudin juga menekankan bahwa, tidak menutup kemungkinan bahwa masalah rendahnya indeks literasi dan numerasi ini disebabkan karena TKA-nya itu sendiri.
“Sangat mungkin bahwa TKA bermasalah, seharusnya soal-soal itu diuji coba kemudian divalidasi dulu, sesuai dengan kurikulum yang ada atau tidak,” tambah Saprudin.
Guru harus dapat pelatihan kompetensi
Saprudin juga mengatakan, pemerintah dalam hal ini perlu melakukan pengembangan atau pelatihan kompetensi guru. Ia mencontohkan guru seperti dokter, yang harus mendapat pelatihan secara serius.
“Saya mencontohkan seperti dokter, kalau dokter belum memenuhi standar kompetensi dan dibiarkan melakukan praktik, nanti jadinya malpraktek, sama halnya dengan guru harusnya seperti itu,” kata Saprudin.
Kembali melansir astakom.com, sebelumnya pakar pendidikan Kepala Bidang Advokasi Guru P2G, Iman Zanatul Haeri mengatakan Dalam proses belajar mengajar tersebut, siswa bersekolah hanya sebagai formalitas saja. Siswa datang ke sekolah untuk belajar tetapi dalam hal ini “tidak belajar”.
“Permasalahannya, banyak siswa ke sekolah itu schooling without learning, jadi mereka datang ke sekolah, mengikuti kegiatan belajar, tapi tuh materi gak masuk gitu ke siswanya,” ujarnya.











