Pembangunan Dipercepat, Sebagian Huntara Sudah Bisa Ditempati Masyarakat
astakom.com, Jakarta — Pemerintah dengan komitmennya terus lakukan pemulihan pascabencana yang terjadi di sejumlah wilayah pulau Sumatera.
Dalam hal ini, pembangunan hunian sementara (Huntara) untuk masyarakat, sebagian sedang dibangun, dan sebagian lainnya sudah ditempati.
Dilaporkan bahwa percepatan pembangunan Huntara di Kecamatan Palembayan Kabupaten Agam, Sumatera Barat (Sumbar) sedang dilakukan. Palembayan merupakan salah satu lokasi paling parah terdampak banjir dan tanah longsor di Sumbar.
Terlihat dari video yang dibagikan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), alat berat sudah mulai meratakan tanah di lokasi calon pembangunan Huntara. Sejumlah material bangunan juga sudah tiba.
Sinergi percepatan pembangunan Huntara
Puluhan tentara yang menggunakan sepatu bot tampak dikerahkan ke lokasi. Ada pula personel dari BNPB dan Kementerian Pekerjaan Umum yang tengah mengukur lapak huntara.
Huntara untuk warga terdampak bencana di Palembayan akan dibangun di lapangan bola SDN 05 Kayu Pasak. Rencananya akan dibangun sebanyak 133 unit huntara dengan lahan yang disiapkan seluas 6.000 meter.
“Direncanakan (huntara yang dibangun) berformat kopel atau barak, dengan masing-masing kopel terdiri dari dua unit. Saat ini proses pematangan jalan,” demikian laporan BNPB, dikutip Kamis (18/12/2025).
Huntara di wilayah lain sudah bisa ditempati
Sementara itu, warga terdampak bencana banjir bandang di Kota Padang mulai menempati hunian sementara (huntara) di Kampung Nelayan, Kelurahan Lubuk Buaya, Kecamatan Koto Tengah. Mereka mengaku nyaman tinggal di tempat tersebut.
Hal itu disampaikan Masrizal, salah satu warga terdampak banjir asal Guo, Kecamatan Kuranji.
“Nyaman. Bantuan lancar, cukup. Tidak ada yang kurang, cuma rumah,” kata Masrizal menggunakan bahasa Minang, saat ditemui di lokasi.
Masrizal menempati huntara tersebut bersama istri dan satu anaknya. Ia mengakui tempat tinggal sementaranya saat ini cukup nyaman, dengan ketersediaan air bersih dan aliran listrik yang lancar.
Warga lebih nyaman dibandingkan posko pengungsian
Pengungsi banjir lainnya, Reni Suherni, warga Guo Kuning, menyampaikan hal senada. Reni mengaku baru satu hari tinggal di huntara Koto Tengah.
Meski masih terasa asing dan tidak seperti rumahnya yang kini telah hilang tersapu banjir bandang, Reni menyebut tempat tersebut lebih nyaman dibandingkan posko pengungsian.
“Lumayan, airnya bersih. Udah ada bantuan (logistik), udah disediakan,” kata Reni.
Ia berharap pemerintah segera membangun kembali rumahnya, di mana pun lokasinya, tidak harus di tempat tinggal sebelumnya.
“Tidak apa-apa, saya siap di mana pun,” ujarnya.
Fasilitas Huntara untuk masyarakat
Pemerintah Kota Padang menyediakan hunian sementara bagi korban terdampak banjir bandang di Kampung Nelayan, Koto Tengah. Terdapat 80 unit rumah berukuran 6 x 6 meter dengan dua kamar tidur.
Hunian sementara tersebut telah dilengkapi tempat tidur, ruang tamu dengan kursi dan meja, ruang tengah dengan meja makan sederhana, kipas angin, serta dapur yang dilengkapi kompor dan tabung gas. Aliran air sumur juga telah tersedia.











