Profil Dewi Astutik: Gembong Narkoba yang Berhasil Ditangkap BNN di Kamboja
astakom.com, Jakarta — Dua hari yang lalu, Badan Narkotika Nasional (BNN) berhasil menangkap buronan internasional sekaligus gembong narkoba, Dewi Astutik (PA) di Kamboja.
Melansir dari redaksi astakom, Intelijen Indonesia berhasil melacak target, Dewi Astutik, di Phnom Penh melalui operasi lintas negara.
Penangkapan dilakukan dengan bekerja sama dengan Kepolisian Kamboja KBRI Phnom Penh, Atase Pertahanan RI, BAIS TNI, serta Bea dan Cukai.
Dewi Astutik merupakan otak dari penyelundupan 2 ton sabu jaringan Golden Triangle serta terlibat sejumlah kasus besar jaringan Golden Crescent.
Penangkapan ini merupakan bagian akhir dari perjalanan Dewi Astutik. Lalu, siapakah Dewi Astutik?
Profil Dewi Astutik
Dewi Astutik alias PA adalah wanita berusia 43 tahun dengan identitas KTP tercatat lahir di Ponorogo pada 8 April 1983.
Ia diketahui beralamat di RT. 01, RW.01. Dusun Dukuh Sumber Agung, Desa/Kecamatan Balong, Ponorogo, Jawa Timur.
Meski beralamatkan Dukuh Sumber Agung, menurut Kepala Dusun, Gunawan, Dewi bukan warga asli daerah tersebut, melainkan pendatang dari Slahung yang mulai tinggal di sana setelah menikah dengan seorang warga setempat pada tahun 2009.
Sosok Dewi dikenal tidak terlalu akrab dengan lingkungan sekitar meskipun beberapa warga mengenali wajahnya.
Menurut penuturan tetangganya, Dewi kerap tampil dengan gaya dan penampilan yang berubah-ubah, termasuk gaya rambut yang sering berganti.
Pernah Menjadi TKW
Sebelum terseret kasus narkoba berskala internasional, Dewi memiliki riwayat panjang sebagai tenaga kerja wanita (TKW).
Ia pernah bekerja bertahun-tahun di Taiwan, kemudian di Hong Kong, dan terakhir di Kamboja.
Pada 2023, ia sempat pulang ke Ponorogo setelah Lebaran dan berpamitan hendak kembali bekerja ke luar negeri, dengan alasan sulit mendapatkan pekerjaan tetap di kampung.
Ketika ditanya mengapa memilih Kamboja yang begitu jauh, Dewi hanya menjawab bahwa ia tidak memiliki pilihan pekerjaan lain, bahkan rela meninggalkan suaminya untuk kembali merantau.
Masa kepulangannya pun singkat, hanya sekitar satu bulan sebelum akhirnya berangkat lagi ke luar negeri.
Kenapa Dewi Astuti Baru Tertangkap?
Kepala BNN RI Komjen Suyudi Ario Seto, mengungkapkan kesulitan penangkapan sejauh ini sehingga baru tertagkap. Suyudi mengungkap Dewi Astutik sering melintasi batas-batas yurisdiksi negara, menjadi tantangan tersendiri dalam proses penangkapan.
Hal ini mengharuskan pihaknya membangun koordinasi intensif dengan jaringan Interpol serta menjalin kolaborasi operasi dengan institusi penegak hukum di negara-negara yang menjadi rute pergerakan pelaku.
Hal ini mengharuskan pihaknya membangun koordinasi intensif dengan jaringan Interpol serta menjalin kolaborasi operasi dengan institusi penegak hukum di negara-negara yang menjadi rute pergerakan pelaku.
"Tentu kesulitannya karena yang bersangkutan ini adalah bagian dari jaringan internasional yang selama ini pindah dari negara ke negara lain," kata Suyudi.
Meski demikian, berkat kerja keras dan kolaborasi antarinstansi melalui diplomasi negara, BNN akhirnya berhasil menangkap Dewi Astutik di Sihanoukville, bagian barat negara Kamboja
"Kita lakukan penangkapan dengan kolaboratif antara negara Indonesia dan pemerintah Kamboja," terangnya.
Apa itu Jaringan Golden Triangle?
Redaksi astakom menelusuri bahwa Dewi Astutik terlibat jaringan narkoba Golden Triangle ’Segitiga Emas’. Segitiga Emas merujuk geng narkoba di perbatasan Myanmar, Laos, dan Thailand.
Wilayah ini menjadi sumber pertumbuhan eksplosif dalam perdagangan narkoba sintetis menyebabkan rekor penyitaan metamfetamin di Asia Timur dan Tenggara pada tahun 2024.
Kantor Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Narkoba dan Kejahatan (UNODC) mengatakan rekor 236 ton metamfetamin disita tahun lalu di kawasan Asia Timur dan Tenggara, menandai peningkatan 24% dalam jumlah narkotika yang disita dibandingkan tahun sebelumnya.
Dikatakan pula bagaimana geng narkoba transnasional itu sangat lincah dalam melawan upaya penegak hukum regional untuk memberantas perdagangan narkoba sintetis yang sedang marak.
Perang saudara yang terjadi di Myanmar, yang meletus pada pertengahan tahun 2021, juga telah menciptakan kondisi yang menguntungkan bagi meluasnya perdagangan narkoba.
Nama Dewi makin mencuat setelah BNN mengungkap dugaan keterlibatannya sebagai aktor intelektual dalam jaringan narkoba internasional yang disebut terhubung dengan kelompok Fredy Pratama.
Ia diduga berperan besar dalam penyelundupan sabu senilai sekitar Rp5 triliun, hingga membuat alamat tinggalnya di Dusun Sumber Agung menjadi sorotan publik dan aparat.
Gen Z Takeaway
Penangkapan Dewi Astutik di Kamboja oleh Badan Narkotika Nasional bareng aparat lintas negara dan Interpol menutup pelarian gembong jaringan sabu internasional bernilai triliunan rupiah. Mantan TKW ini jadi aktor penting sindikat Golden Triangle–Golden Crescent yang lama sulit dijerat karena mobilitas lintas negara. Kasus ini nunjukin, kejahatan global cuma bisa dipatahkan lewat kerja sama global juga.











