Diduga Dalang Banjir dan Longsor Sumatera, Siapa Pemilik PT Toba Pulp Lestari?

Editor: Alfian Tegar
Rabu, 3 Desember 2025 | 13:19 WIB
Diduga Dalang Banjir dan Longsor Sumatera, Siapa Pemilik PT Toba Pulp Lestari?

astakom.com, Jakarta — Baru-baru ini, PT Toba Pulp Lestari Tbk tengah diperhatikan oleh publik lantaran diduga menjadi dalang dari bencana banjir dan longsor di Pulau Sumatera.

Karena dugaan tersebut, Emiten berkode INRU menpis isu tersebut dan menyatakan seluruh kegiatan operasionalnya telah sesuai dengan prinsip Pengelolaan Hutan Lestari.

“Perseroan dengan tegas membantah tuduhan bahwa operasional menjadi penyebab bencana ekologi,” ujar Corporate Secretary Anwar Lawden, melalui surat resmi kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), dikutip Rabu (3/12/2025).

Pihaknya menjelaskan seluruh kegiatan hutan tanaman industri (HTI) telah melalui penilaian High Conservation Value (HCV) dan High Carbon Stock (HCS) oleh pihak ketiga.

Menurut Anwar, dari total areal 167.912 Ha, perseroan hanya mengembangkan tanaman eucalyptus sekitar 46 ribu Ha. Sementara, sisanya dipertahankan sebagai kawasan lindung dan konservasi.

Audit menyeluruh oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) telah dilakukan pada 2022-2023 dan hasilnya menyatakan bahwa Perseroan TAAT mematuhi seluruh regulasi serta tidak ditemukan pelanggaran terhadap aspek lingkungan maupun sosial.

Lalu, siapakah pemilik dari PT Toba Pulp Lestari, dan bagaimana track recordnya?

Track Record Perusahaan

Awalnya, Toba Pulp Lestari bernama PT Inti Indorayon Utama Tbk (INRU). Perusahaan ini didirikan pada 26 April 1983 di Sumatera Utara oleh pengusaha bernama Sukanto Tanoto. Perusahaan ini bergerak di bidang produksi bubur kertas dan serat rayon dari kayu.

Pada 16 Mei 1990, perusahaan melakukan penawaran umum perdana (IPO) di bursa dengan kode saham INRU, yang hingga kini masih dipakai meski perusahaan telah berganti nama.

Perjalanan bisnis Indorayon Utama banyak diwarnai konflik agraria dengan masyarakat sekitar. Perusahaan dituding melakukan pencemaran lingkungan, pemicu penyebaran penyakit kulit, deforestasi besar-besaran, hingga merampas tanah warga secara tidak adil.

Pada 1999, Presiden RI ke-3 BJ Habibie menghentikan sementara operasional pabrik INRU dan menunjuk auditor independen untuk menginvestasi dugaan kerusakan lingkungan. Namun, audit tak pernah dijalankan.

Presiden RI ke-4 Abdurrahman Wahid (Gus Dur) kembali menutup operasi INRU meski akhirnya dibuka kembali pada 2000 dengan syarat menyetop produksi rayon.

Di tahun yang sama, Indorayon memutuskan berganti nama menjadi Toba Pulp Lestari. Dalam perjalanannya, pemilik saham pun berubah.

Siapa Pemilik Perusahaannya?

Berdasarkan informasi dalam Keterbukaan Informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), pemilik Toba Pulp Lestari bukan lagi Sukanto Tanoto.

Toba Pulp Lestari dimiliki oleh perusahaan investasi asal Hong Kong, Allied Hill Limited, yang menguasai 92,54 persen saham. Sementara, sisa 7,46 persen dimiliki publik.

Allied Hill merupakan entitas holding yang sepenuhnya dimiliki Everpro Investments Limited milik Joseph Oetomo.

Gen Z Takeaway

PT Toba Pulp Lestari Tbk membantah keras tudingan jadi penyebab banjir–longsor di Sumatera dan menegaskan seluruh operasionalnya sudah sesuai prinsip hutan lestari serta lolos audit Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Meski kini mayoritas sahamnya dikuasai investor Hong Kong lewat Allied Hill Limited, rekam jejak perusahaan yang dulu bernama Indorayon tetap membuat publik kritis. Intinya, perusahaan klaim taat aturan, tapi masyarakat masih menunggu bukti konkret di lapangan.

Allied Hill Limited Bencana Alam Banjir Bencana Longsor Bencana Sumatera Pemilik Toba Pulp Penyebab Bencana Sumatera PT Toba Pulp Lestari Sukanto Tanoto Toba Pulp Lestari

Infografis

Terkini

Arema FC Bungkam PSIM 3-1

Arema FC berhasil menutup kompetisi BRI Super League 2025/2026 dengan membungkam PSIM Yogyakarta, 3-1, di Stadion Kanjuruhan Malang, Jawa Timur, Jumat (22/5).

Footage 19:41 WIB