Turki Ajukan Kepemimpinan Bersama untuk COP31, Kebuntuan dengan Australia Masih Berlanjut

Editor: Resyah
Senin, 17 November 2025 | 13:00 WIB
Turki Ajukan Kepemimpinan Bersama untuk COP31, Kebuntuan dengan Australia Masih Berlanjut
Melalui pernyataan resmi, Kementrian luar negeri negara yang dipimpin Recep Tayip Erdogan tersebut meminta agar seluruh aktor yang terlibat tidak gegabah dalam mengambil langkah. Senin, 05/02/2026 (Foto: astakom.com/ IG/@rterdogan)

astakom.com, Jakarta - Upaya menentukan tuan rumah Konferensi Perubahan Iklim PBB (COP31) kembali memasuki fase krusial setelah Turki menawarkan skema kepemimpinan bersama kepada Australia. Usulan ini muncul di tengah kebuntuan panjang sejak kedua negara mengajukan diri sebagai tuan rumah pada 2022 dan tidak ada yang bersedia menarik pencalonan.

Diskusi intensif mengenai masa depan COP31 kembali mencuat selama COP30 berlangsung di Belém, Brasil. Penetapan tuan rumah harus disepakati melalui konsensus negara-negara anggota Western Europe and Others Group (WEOG), kelompok kawasan PBB yang menaungi Australia dan Turki. Tanpa persetujuan bulat dari 28 anggota, konferensi tahun depan belum bisa ditetapkan secara resmi.

Meski berbagai pembicaraan informal telah dilakukan selama dua tahun terakhir, hingga memasuki pekan-pekan akhir COP30 belum tampak titik terang. Situasi inilah yang mendorong Turki menawarkan formula baru berupa kepemimpinan bersama untuk memecah kebuntuan.

Usulan Kepemimpinan Bersama Masih Alot Dibahas

Sumber diplomatik Turki menyampaikan bahwa gagasan kepemimpinan bersama pertama kali diangkat dalam pertemuan informal di sela Sidang Umum PBB di New York pada September lalu. Skema tersebut mencakup pembagian peran dalam memimpin sesi tingkat tinggi, mengarahkan jalannya negosiasi, serta menangani tugas seremonial. Namun pembahasan terhenti karena belum ada kesepahaman mengenai bagaimana model itu bisa diterapkan dalam aturan resmi UNFCCC.

Australia Tunjukkan Kepercayaan Diri Tinggi

Sementara negosiasi berlangsung alot, Australia tetap menunjukkan keyakinan kuat bahwa mereka memiliki peluang terbesar menjadi tuan rumah. Menteri Energi Australia Chris Bowen, yang hadir di Brasil untuk COP30, menegaskan bahwa negaranya mendapat dukungan luas, terutama dari negara-negara Kepulauan Pasifik. Australia memang mengajukan konsep co-hosting dengan negara-negara Pasifik sebagai bentuk solidaritas terhadap ancaman iklim yang mereka hadapi.

Turki Tawarkan Visi Diplomasi Iklim yang Lebih Inklusif

Di sisi lain, Turki menekankan pendekatan diplomasi yang berbasis kerja sama dan inklusivitas. Pemerintahnya menyoroti komitmen terhadap pendanaan iklim bagi negara berkembang serta kemajuan menuju target emisi nol bersih pada 2053. Presiden Recep Tayyip Erdoğan bahkan telah menyampaikan langsung posisi Turki kepada Perdana Menteri Australia melalui korespondensi resmi. Meski membuka ruang kompromi, Turki menegaskan siap memimpin COP31 secara tunggal jika dibutuhkan.

Keputusan WEOG Menjadi Penentu Akhir

Dengan penetapan tuan rumah yang harus disepakati secara bulat oleh 28 negara dalam WEOG, banyak delegasi menilai proses ini menjadi salah satu yang paling rumit dalam sejarah penentuan lokasi COP. Jika tidak ada kesepakatan sebelum COP30 ditutup, kebuntuan ini berpotensi menjadi preseden baru dalam diplomasi iklim PBB.

Gen Z Takeaway

Turki sama Australia lagi ribut halus soal siapa yang bakal jadi tuan rumah COP31. Udah dua tahun buntu, akhirnya Turki nawarin jadi “co-presiden” bareng biar sama-sama dapet panggung. Tapi aturan PBB bikin konsep itu ribet banget. Australia sendiri pede menang karena didukung negara-negara Pasifik, sementara Turki ngasih vibes inklusif dan siap jalan sendiri kalau perlu. Intinya, keputusan final ada di WEOG, dan sampai COP30 hampir selesai, belum ada titik terang.

australia Climate Summit 2025 COP30Brazil COP31 Global Climate Action Perubahan Iklim turki UNFCCC

Infografis

Terkini

Arema FC Bungkam PSIM 3-1

Arema FC berhasil menutup kompetisi BRI Super League 2025/2026 dengan membungkam PSIM Yogyakarta, 3-1, di Stadion Kanjuruhan Malang, Jawa Timur, Jumat (22/5).

Footage 19:41 WIB