Jumat, 13 Mar 2026
Jumat, 13 Maret 2026

Rayakan Hari Ayah Nasional di Tengah Fenomena Fatherless

astakom.com, Jakarta – Setiap tanggal 12 November diperingati sebagai Hari Ayah Nasional, momentum untuk memberikan penghargaan kepada sosok ayah, figur yang tak hanya menjadi tulang punggung keluarga, tetapi juga memiliki peran penting dalam pembentukan karakter anak.

Meski gaungnya tidak sebesar Hari Ibu, makna Hari Ayah tak kalah mendalam. Momen ini menjadi refleksi bagi banyak keluarga untuk menumbuhkan kembali kesadaran akan pentingnya peran ayah dalam mendidik, membimbing, dan menciptakan lingkungan keluarga yang sehat secara emosional.

Sejarah Hari Ayah Nasional

Menurut laman Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Hari Ayah Nasional pertama kali digagas oleh Perkumpulan Putra Ibu Pertiwi (PPIP), sebuah organisasi lintas agama dan budaya. Ide tersebut lahir secara tak sengaja saat PPIP menggelar lomba menulis surat untuk ibu di Solo.

Salah satu peserta bertanya, “Kapan Hari Ayah diperingati?” Pertanyaan sederhana itu kemudian menjadi awal dari sejarah panjang Hari Ayah Nasional di Indonesia.

Setelah melalui kajian mendalam, PPIP akhirnya menetapkan 12 November sebagai Hari Ayah Nasional, yang dideklarasikan secara resmi pada tahun 2006 dengan semboyan “Semoga Bapak Bijak, Ayah Sehat, Papah Jaya.”

Deklarasi tersebut kemudian dikirimkan kepada Presiden dan seluruh bupati di Indonesia. Sejak saat itu, peringatan Hari Ayah digelar rutin di berbagai daerah sebagai bentuk penghormatan terhadap peran laki-laki dalam keluarga.

Namun, di balik perayaan itu, Indonesia tengah menghadapi fenomena yang mengkhawatirkan, dimana jumlah anak yang tumbuh tanpa kehadiran figur ayah, atau yang akrab di telinga masyarakat dengan istilah fatherless terbilang cukup tinggi.

Data Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menunjukkan, bahwa 20,9 persen anak Indonesia mengalami kondisi fatherless.

Fatherless Jadi Realitas Sosial

Psikolog dan Kepala Divisi Konseling dan Kesejahteraan Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Muhammad Arif Rizqi, menegaskan bahwa fenomena fatherless merupakan realitas sosial yang kerap ia temui di ruang konseling.

“Fatherless bukan hanya teori. Saya temui langsung di ruang konseling. Banyak klien yang menghadapi permasalahan emosional karena sejak kecil tidak merasakan kehadiran ayah. Luka ini memang tidak selalu langsung terasa, tetapi kerap muncul saat mereka memasuki usia dewasa,” jelas Arif, dikutip dari pemberitaan astakom.com sebelumnya, Rabu (12/11/2025).

Arif menjelaskan bahwa anak-anak yang tumbuh tanpa keterlibatan ayah sering kali kesulitan mengambil keputusan, memiliki rasa tanggung jawab rendah, serta mudah merasa kesepian bahkan di tengah lingkungan sosialnya. Kondisi ini berdampak besar pada perkembangan emosional dan kognitif mereka.

Ia menilai akar masalah fatherless di Indonesia tak lepas dari konstruksi budaya patriarki yang menempatkan ayah hanya sebagai pencari nafkah. Sementara itu, beban pengasuhan dan pendidikan emosional anak lebih banyak ditanggung oleh ibu.

“Padahal, ayah memiliki peran batiniah yang sangat penting. Ia seharusnya menjadi sumber rasa aman, teladan dalam kepemimpinan, serta penguat nilai tanggung jawab dan keberanian,” tegasnya.

Menurut Arif, peran ayah seharusnya sudah dimulai sejak masa kehamilan, yakni dengan memberikan dukungan emosional kepada pasangan dan menjaga kestabilan psikologis ibu. Kesadaran ini menjadi pondasi keluarga yang kuat secara mental dan emosional.

“Kesadaran akan hakikat peran sebagai ayah adalah titik awal penting. Dari kesadaran itu, akan lahir rasa tanggung jawab dan keterlibatan yang utuh dalam dinamika keluarga,” ujarnya.

Sebagai solusi, Arif mendorong para ayah untuk aktif meningkatkan kapasitasnya. Ia menyarankan agar ayah mempelajari pola asuh modern melalui media sosial, mengikuti pelatihan parenting, hingga membentuk komunitas ayah untuk saling belajar dan mendukung.

“Menjadi ayah bukan berarti harus selalu sempurna. Justru ayah sejati adalah mereka yang terus bertumbuh, belajar dari kesalahan, dan berusaha memberikan yang terbaik bagi keluarganya,” pungkasnya.

Gen Z Takeaway

Hari Ayah Nasional jadi momen apresiasi buat para ayah, tapi ironisnya banyak anak Indo yang tumbuh tanpa figur ayah — alias fatherless. Data BKKBN nyebut 1 dari 5 anak ngalamin ini! Psikolog bilang, efeknya gede: anak bisa tumbuh insecure, gampang kesepian, dan susah ambil keputusan.

Feed Update

Freya JKT48 Jadi Korban Manipulasi Foto AI, Kasus Deepfake Ramai Disorot

astakom.com, Jakarta – Kapten grup idola JKT48, Freya Jayawardana, resmi melaporkan dugaan manipulasi foto berbasis kecerdasan buatan (AI) Grok kepada pihak kepolisian. Foto dirinya yang...

Nostalgia Meteor Garden! F4 Umumkan Konser Reuni di Jakarta pada 30 Mei 2026

astakom.com, Jakarta - Kabar yang bikin generasi 2000-an auto nostalgia akhirnya datang juga. Boyband legendaris Taiwan, F4, resmi diumumkan akan menggelar konser reuni di Jakarta...

Film Agak Laen: Menyala Pantiku! Pecahkan Rekor Box Office Indonesia, Geser Avengers: Endgame

astakom.com, Jakarta - Film komedi Agak Laen: Menyala Pantiku! mencetak sejarah baru di industri perfilman nasional setelah resmi menjadi film dengan jumlah penonton terbanyak...

Kontroversi Chat Pribadi Picu Kecaman, Foto Momen Duka Barbie Hsu Diduga Dipakai Rayu Wanita

astakom.com, Jakarta – Nama mendiang aktris Taiwan Barbie Hsu kembali menjadi sorotan publik setelah muncul kontroversi yang menyeret anggota keluarganya. Seorang adik ipar sang aktris...

Mantan Suami Britney Spears Digugat Bank, Utang Kartu Kredit Tembus Rp205 Juta

astakom.com, Jakarta - Mantan suami penyanyi pop dunia Britney Spears, Kevin Federline, dilaporkan menghadapi gugatan hukum dari Bank of America terkait dugaan tunggakan kartu...

Heeseung Dikabarkan Keluar dari ENHYPEN! Agensi BELIFT LAB Sampaikan Pernyataan Resmi

astakom.com, Jakarta - Kabar mengejutkan datang dari industri K-Pop setelah beredar laporan mengenai salah satu anggota boy group ENHYPEN, yaitu Lee Heeseung, yang disebut...