Kepala BPI Danantara: Dampak Sosial Hilirisasi Pertanian Lebih Besar Ketimbang Mineral
astakom.com, Jakarta - Menteri Investasi dan Hilirisasi, Rosan Perkasa Roeslani menegaskan bahwa hilirisasi di sektor pertanian punya dampak sosial yang jauh lebih besar dibanding hilirisasi mineral.
Pria yang juga menjabat sebagai CEO Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara itu menjelaskan, bahwa investasi pada program hilirisasi mineral memang lebih besar ketimbang pertanian. Namun karena sifatnya yang padat karya, memberikan dampak langsung ke masyarakat melalui penciptaan lapangan kerja.
“Kalau hilirisasi mineral investasinya besar, tapi tenaga kerja yang terserap sedikit. Justru hilirisasi di bidang pertanian, perkebunan, dan peternakan ini jauh lebih tinggi dampaknya terhadap penciptaan lapangan pekerjaan. Ini yang akan kita akselerasi bersama,” kata Rosan, dikutip Sabtu (8/11/2025).
Untuk itu, Pemerintah tancap gas mempercepat hilirisasi di sektor pertanian untuk memperkuat nilai tambah komoditas lokal, serta membuka jutaan lapangan kerja baru. Program besar ini dimatangkan lewat Rapat Finalisasi Program Hilirisasi Perkebunan dan Industri yang dipimpin Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman, Jumat (7/11/2025).
Dalam rapat itu, disepakati total investasi sebesar Rp371 triliun akan digelontorkan untuk mempercepat hilirisasi di sektor pertanian, perkebunan, peternakan, dan hortikultura. Program tersebut ditargetkan mampu menyerap 8 juta tenaga kerja.
“Atas arahan Bapak Presiden Prabowo, kami bergerak cepat bersama Pak Menteri Investasi dan Hilirisasi yang juga Kepala Danantara. Total rencana Rp371 triliun kita investasi sektor pertanian, pangan, peternakan, hortikultura, dan perkebunan. Pra FS (studi kelayakan) akan diselesaikan dalam waktu singkat dan diserahkan ke Menteri Investasi. Tadi kita sudah sepakati semua prinsipnya dan kita percepat,” ujar Mentan Amran.
Amran menjelaskan, investasi terbesar difokuskan pada komoditas perkebunan seperti tebu, kakao, dan mete. Ia menegaskan, hilirisasi adalah kunci peningkatan kesejahteraan petani. Salah satu contohnya adalah kelapa yang setelah diolah, nilainya naik dari Rp600 menjadi Rp3.500 per butir.
“Kalau dulu kelapa dijual mentah, nilainya kecil. Tapi setelah kita olah di dalam negeri, harganya bisa naik hingga 500 persen. Ke depan, dengan industri yang lebih besar, nilainya bisa meningkat 20 sampai 100 kali lipat,” jelasnya.
Selain itu, pemerintah juga menyiapkan investasi Rp20 triliun untuk memperkuat pasokan ayam dan telur nasional, guna mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG).
“Kemudian, peternakan ayam, pedaging, dan telur terintegrasi. Itu ada anggaran khusus Rp20 triliun. Kita akan buat seluruh Indonesia untuk menyuplai Badan Gizi Nasional (BGN). Kita menyuplai, jangan sampai telur dan ayamnya ke depan shortage atau kekurangan. Jadi kita siapkan dari sekarang,” tambahnya.
Saat ini, Kementerian Investasi dan Hiliriasai, Kementan, serta BPI Danantara telah mengidentifikasi proyek-proyek prioritas, dan menugaskan sejumlah BUMN untuk mengeksekusinya.
“Kami dari Danantara akan men-support penuh dan ikut mengevaluasi setiap tahapan. Produk unggulan seperti kelapa dan kakao memiliki competitive advantage yang tinggi. Karena itu, kita akan jalankan program ini secara cepat, masif, dan tepat sasaran, dengan melibatkan para petani kecil,” tutup Rosan.
Gen Z Takeaway
Menteri Rosan bilang, hilirisasi pertanian lebih berdampak ke rakyat dibanding mineral karena bisa ciptain jutaan kerjaan baru. Pemerintah siap gelontorin Rp371 T buat olah komoditas kayak kelapa dan kakao biar cuannya makin ngeri, bahkan bisa naik 100x lipat!










