IHSG Cetak Rekor Sepanjang Sejarah, Tembus 8.394 di Akhir Pekan
astakom.com, Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) resmi menembus level tertinggi sepanjang sejarah di 8.394,590 pada perdagangan sepekan terakhir, yakni pada periode 3 - 7 November 2025.
Lonjakan ini sekaligus menegaskan optimisme pelaku pasar terhadap fundamental ekonomi nasional yang dinilai semakin solid di tengah kondisi global yang masih bergejolak.
Sekretaris Perusahaan PT Bursa Efek Indonesia (BEI), Kautsar Primadi Nurahmad, menyampaikan bahwa IHSG mengalami peningkatan signifikan sebesar 2,83 persen dibanding pekan sebelumnya.
“Peningkatan dialami oleh Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), yaitu sebesar 2,83 persen dengan ditutup pada level 8.394,590, naik dari posisi 8.163,875 pada pekan lalu. Hal tersebut menjadikan rekor tertinggi IHSG sepanjang sejarah,” ujarnya dalam keterangan tertulis, dikutip Sabtu (8/11/2025).
Kenaikan IHSG tersebut juga sejalan dengan peningkatan kapitalisasi pasar BEI yang naik 3,09 persen menjadi Rp15.316 triliun, dari sebelumnya Rp14.857 triliun.
Kondisi ini menjadi bukti nyata bahwa pasar modal Tanah Air masih menjadi destinasi menarik bagi investor, baik domestik maupun asing.
Selain itu, aliran dana asing kembali menunjukkan arah positif. Sepanjang pekan lalu, investor asing mencatatkan nilai beli bersih sebesar Rp920,24 miliar, menandakan meningkatnya kepercayaan global terhadap prospek ekonomi Indonesia.
IHSG Diramal Tembus 9.000 di Akhir Tahun
Sebagaimana diketahui, kondisi pasar modal Indonesia di era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto terus menunjukkan tren positif, seiring dengan berbagai program dan stimulus ekonomi yang dijalankan pemerintah.Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa memprediksi IHSG akan menembus level 9.000 pada akhir tahun ini. Bahkan dengan percaya diri, ia memprediksi IHSG bisa mencapai level 32.000 dalam sepuluh tahun ke depan.
“Kalau ditanya ke saya (IHSG) bagaimana? To the moon, saya bilang. Akhir tahun ini berapa? 9.000. Sepuluh tahun lagi berapa? 32.000,” ujarnya dalam acara Sarasehan 100 Ekonom di Jakarta, Selasa (28/10/2025).
Purbaya menjelaskan, para pelaku pasar akan menganalisa perkataan dan kebijakan yang ia ambil. Hal itu nantinya akan terlihat dan diimplementasikan dalam bentuk posisi pelaku pasar di portofolio yang mereka miliki.
Namun ia tak menafikan adanya 'saham gorengan' yang dapat mengganggu kinerja indeks dalam jangka panjang. Namun ia tetap optimis dengan kinerja pasar modal, mengingat masih ada banyak saham dengan fundamental bagus dengan kapitalisasi pasar besar.
Dia pun ogah menanggapi sejumlah pihak yang pesimis dengan proyeksinya pada pasar saham ke depan. Padahal, kata dia, proyeksi itu mengacu pada analisis historis dan pola pertumbuhan jangka panjang pasar modal.
“Orang bilang saya bohong ngomong sembarangan, tapi itu berdasarkan pengalaman 30 tahun, 20 tahun terakhir, 25 tahun terakhir, dimulai awal siklus bisnis sampai akhir siklus bisnis, tumbuhnya itu sekitar 4–5 kali,” jelas Purbaya.










