Hilirisasi Pertanian, Cara Pemerintah Dongkrak Nilai Ekspor hingga Rp2.400 Triliun
astakom.com, Jakarta - Menteri Pertanian (Mentan) RI, Andi Amran Sulaiman mengungkapkan strategi besar untuk mengubah wajah ekonomi nasional melalui hilirisasi di sektor pertanian.
Dengan investasi senilai Rp371 triliun yang digelontorkan ke 14 komoditas strategis, Amran yakin Indonesia bisa melipatgandakan nilai ekspor hasil pertanian hingga Rp2.400 triliun, terutama lewat pengolahan produk turunan kelapa.
“Total rencana investasi kurang lebih Rp371 triliun. Kita investasi ke sektor pertanian, pangan, peternakan, hortikultura, dan perkebunan,” kata Amran di Jakarta, Jumat (7/11/2025).
Amran menjelaskan, investasi besar ini bersumber dari Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau BPI Danantara, yang fokus mempercepat pengembangan komoditas unggulan seperti kelapa, kakao, mete, kelapa sawit, dan kelapa dalam.
Tujuannya tak lain adalah adalah mendorong hilirisasi produk pertanian agar Indonesia tak lagi bergantung pada ekspor bahan mentah. Amran pun memaparkan, bahwa kelapa menjadi komoditas yang paling menjanjikan.
Ia mencontohkan bahwa saat ini Indonesia mengekspor 2,8 juta ton kelapa per tahun senilai Rp24 triliun. Namun, jika diolah menjadi produk turunan seperti susu kelapa, minyak kelapa, atau bahan kosmetik, nilai tersebut bisa meningkat hingga 100 kali lipat menjadi Rp2.400 triliun.
“Sekarang coconut milk karena itu lebih sehat,” ujar Amran, menyinggung tren baru di Eropa dan Cina yang mulai beralih dari susu sapi ke susu kelapa.
Selain kelapa, Kementerian Pertanian juga menargetkan hilirisasi pada kakao Rp44,86 triliun, tebu Rp65,77 triliun, kelapa sawit Rp107,56 triliun, kopi Rp24,71 triliun, dan mete Rp18,4 triliun.
Kebijakan hilirisasi pertanian ini sejalan dengan agenda besar pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto untuk memperkuat nilai tambah domestik dan menekan ketergantungan pada impor pangan.
Dalam beberapa kesempatan, Presiden Prabowo telah menekankan pentingnya persoalan pangan bagi sebuah bangsa. Salah satunya saat menghadiri telekonferensi bersama petani, penyuluh pertanian, kepala dinas provinsi, serta Persatuan Pengusaha Penggilingan Padi dan Beras (Perpadi), pada Senin (3/2/2025).
“Masalah pangan adalah masalah kedaulatan, masalah pangan adalah masalah kemerdekaan, masalah pangan adalah masalah survival kita sebagai bangsa. Kalau kita mau jadi negara maju, pangan harus aman dulu,” tegas Presiden Prabowo.
Jika strategi ini berhasil, bukan hanya nilai ekspor yang melonjak, tapi juga posisi Indonesia sebagai pemain utama pasar pangan global, bahkan menjadi lumbung pangan global, sebagaimana yang menjadi visi besar Presiden Prabowo.










