Menkeu Purbaya: Ekonomi Tumbuh Sehat, Semua Orang Senang
astakom.com, Jakarta - Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan komitmen pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang sehat.
Menurutnya, ekonomi yang tumbuh sehat akan menciptakan efek domino bagi kesejahteraan masyarakat, penyerapan tenaga kerja, hingga meningkatkan basis pajak nasional yang simultan dengan misi pemerintah meningkatkan rasio pajak (tax ratio).
“Kebijakan mempercepat pertumbuhan ekonomi adalah membuat semuanya orang senang, yang sekaligus menaikkan pendapatan pajak, dan memperbaiki juga tax ratio,” ujar Purbaya dalam Sarasehan 100 Ekonom Indonesia 2025, Selasa (28/10/2025).
Saat ini, rasio pajak Indonesia per tahun 2024 berada di angka 10,07 persen. Namun Purbaya yakin tax ratio Indonesia akan mencapai angka 11 persen pada tahun 2025 mendatang.
Bagi Purbaya, memperbaiki tax ratio bukan semata tentang mengejar target penerimaan, tapi tentang membangun ekonomi yang membuat rakyat sejahtera sekaligus memperkuat fondasi negara.
“Jika ekonomi tumbuh sehat, penerimaan negara akan naik dengan sendirinya karena basis pajaknya makin luas,” jelasnya.
Lebih lanjut, mantan Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) itu menilai, pertumbuhan ekonomi tidak bisa hanya mengandalkan peran pemerintah.
Sektor swasta, kata dia, harus kembali menjadi motor utama pertumbuhan, seperti yang pernah terjadi pada masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).
“Saat zamannya Pak SBY, itu private sector yang jalan. Zamannya Pak Jokowi, BUMN dan government sector kira-kira yang jalan. Kalau sekarang saya hidupkan lagi private sector, kan kira-kira tax ratio saya akan naik 0,5 persen - 1 persen,” ucap Purbaya.
Purbaya memahami bahwa sektor swasta memerlukan jaminan dan kepercayaan agar mau kembali aktif berinvestasi. Untuk itu, pemerintah telah menggelontorkan sejumlah stimulus ekonomi dan memperluas akses pembiayaan agar dunia usaha lebih mudah bergerak.
Langkah ini termasuk penempatan dana pemerintah di bank-bank Himbara (Himpunan Bank Milik Negara) untuk memperlancar kredit dan menurunkan suku bunga pinjaman.
Kebijakan tersebut juga diharapkan mendorong sektor riil untuk memperluas produksi, membuka lapangan kerja, dan meningkatkan daya beli masyarakat.
“Ada delay-nya di perekonomian. Enggak langsung hidup. Ada delay dari kebijakan yang saya lakukan, tapi saya yakin itu pasti akan terjadi karena stimulusnya tidak saya hilangkan di bulan-bulan ke depan. Bahkan kalau yang Rp200 triliun kurang, saya akan tambah lagi,” tutur Purbaya.









