Menag RI Optimis Asia Tenggara Jadi Pusat Peradaban Islam Baru

Editor: Khoirudin
Minggu, 19 Oktober 2025 | 23:30 WIB
Menag RI Optimis Asia Tenggara Jadi Pusat Peradaban Islam Baru
Menag RI Nasaruddin Umar dalam Mesyuarat Menteri-Menteri Agama MABIMS ke-21 yang digelar di Melaka, Malaysia, Minggu (19/10). (Foto: Kemenag RI)

astakom.com, Jakarta – Menteri Agama RI Nasaruddin Umar menyampaikan keyakinannya bahwa kawasan Asia Tenggara berpotensi menjadi episentrum baru peradaban Islam dunia, sebagaimana Baghdad di masa keemasan Islam. Hal ini ia sampaikan dalam Mesyuarat Menteri-Menteri Agama MABIMS ke-21 yang digelar di Melaka, Malaysia, Minggu (19/10).

“Dulu Baghdad dengan Baitul Hikmah-nya melahirkan hegemoni intelektual yang disegani dunia. Kini, Asia Tenggara harus mempersiapkan diri menjadi Baitul Hikmah baru bagi dunia Islam,” ujar Nasaruddin dalam siaran pers yang diterima astakom.com di Jakarta, Minggu (19/10).

Menurut Menag, Timur Tengah telah menunaikan tugas besar dalam membangun fondasi keislaman. Kini, giliran Asia Tenggara mengambil peran untuk melahirkan kemajuan ilmu pengetahuan dan kebudayaan Islam.

“Dengan stabilitas politik dan ekonomi yang kita miliki, saya yakin Asia Tenggara bisa menjadi sorotan dunia sebagai pusat peradaban Islam yang baru. Sementara, kita lihat banyak negara Timur Tengah masih menghadapi ketidakstabilan. Karena itu, mungkin justru di kawasan kita peluang itu muncul,” tambahnya.

Nasaruddin menilai bahwa Indonesia, Malaysia, dan Singapura memiliki potensi besar untuk membangun sinergi keilmuan dan kebudayaan Islam. “Kita perlu memiliki obsesi dan misi untuk membangun martabat Islam bukan hanya lewat politik dan ekonomi, tetapi juga melalui ilmu pengetahuan dan integrasi peradaban,” jelasnya.

Ia menegaskan, kebangkitan peradaban Islam masa depan harus berakar pada integrasi ilmu agama dan ilmu umum, sebagaimana yang pernah ditunjukkan oleh para ilmuwan Muslim di Baghdad. “Dengan kekuatan pemikiran, kita bisa membalikkan arah peradaban yakni membangun ideologi, ekonomi, dan ilmu pengetahuan sebagai kekuatan baru umat Islam,” ungkapnya.

Masjid Sebagai Pusat Pemberdayaan Umat
Dalam pertemuan tersebut, para negara anggota MABIMS sepakat meluncurkan Program Semanis MABIMS Seharum Serantau, yang salah satu agendanya adalah mendorong fungsi masjid sebagai pusat pemberdayaan sosial dan ekonomi umat.

Menag berbagi sejumlah praktik baik yang telah dijalankan Kementerian Agama di Indonesia selama setahun terakhir. Salah satu contohnya adalah Masjid Istiqlal Jakarta, yang tak hanya ramah jamaah tetapi juga ramah lingkungan.

Masjid Istiqlal menjadi tempat ibadah pertama di dunia yang meraih sertifikat The Excellence in Design for Greater Efficiencies (EDGE) dari International Finance Corporation (IFC), lembaga keuangan di bawah Bank Dunia. Sertifikat ini diberikan atas penerapan prinsip bangunan hijau (green building) yang menekankan penghematan energi dan keberlanjutan lingkungan.

Selain itu, Masjid Istiqlal juga telah menerapkan daur ulang air wudu untuk menyiram tanaman dan membersihkan lingkungan masjid. “Terobosan lain yang dilakukan Kemenag adalah membantu 4.450 UMKM dengan pinjaman tanpa bunga (qardul hasan) melalui program Masjid Berdaya Berdampak atau MADADA,” sebut Menag.

“Selain menyalurkan bantuan operasional dan pembangunan 647 Masjid atau Musalla, Kemenag juga meningkatkan kompetensi 1.350 Takmir Masjid, tidak hanya dalam kegiatan peribadahan, tapi juga pemberdayaan ekonomi,” sambungnya.

Sinergi Visi MABIMS untuk Harmoni Kawasan
MABIMS merupakan wadah kerja sama empat negara: Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura. Menag menjelaskan, keempat negara memiliki visi dan strategi keagamaan yang saling melengkapi.

Brunei Darussalam, melalui falsafah Melayu Islam Beraja, memperkuat sistem pendidikan Islam dan memperluas peran masjid sebagai pusat tamadun dan perpaduan umat. Malaysia lewat visi Malaysia MADANI menekankan pembangunan berlandaskan nilai kemampanan, kesejahteraan, dan ihsan yang sesuai dengan maqasid syariah.

Sementara itu, Singapura mengedepankan Religious Harmony and Community Resilience Strategy, yang menampilkan wajah Islam inklusif dan moderat di tengah masyarakat plural.

Adapun Indonesia mempertegas komitmennya lewat gagasan Moderasi Beragama dan Trilogi Kerukunan Jilid II, yang menekankan kerukunan manusia dengan Tuhan, sesama, dan alam semesta.

“Trilogi Kerukunan menegaskan bahwa agama harus menjadi sumber harmoni sosial dan kemaslahatan bersama,” ujar Menag.

Nasaruddin menilai, empat strategi tersebut harus menjadi paradigma bersama dalam memperkuat solidaritas Islam di Asia Tenggara, memperluas perjumpaan lintas iman, dan membangun koeksistensi damai di era digital.

“Melalui kurikulum yang inklusif dan pengajaran nilai-nilai universal, kita dapat membentuk generasi yang siap hidup dalam harmoni serta bekerja sama membangun masyarakat yang lebih inklusif,” ungkapnya.

“Semoga MABIMS terus menjadi perekat harmoni relasi negara dan agama, sekaligus wadah memperkokoh persaudaraan Islam serantau,” tutup Menag.

Gen Z Takeaway

Gokil sih, vibe-nya kayak “Islamic Renaissance 2.0” bakal lahir dari Asia Tenggara! Menag Nasaruddin Umar percaya kalau Indonesia, Malaysia, Brunei, dan Singapura bisa jadi new Baghdad — pusat ilmu, budaya, dan inovasi Islam modern. Nggak cuma lewat khutbah dan masjid megah, tapi lewat sains, teknologi, dan ekonomi hijau juga.

Apalagi, Masjid Istiqlal udah jadi green mosque pertama di dunia, dan Kemenag bantu ribuan UMKM lewat program MADADA. Intinya? Islam versi Asia Tenggara tuh progresif, cerdas, dan keren — bukan cuma nostalgia masa lalu, tapi siap jadi pusat peradaban masa depan.

ASEAN Asia Tenggara Kemenag Kementerian Agama MABIMS Menag Nasaruddin Umar Peradaban Pusat Peradaban Islam

Infografis

Terkini

Arema FC Bungkam PSIM 3-1

Arema FC berhasil menutup kompetisi BRI Super League 2025/2026 dengan membungkam PSIM Yogyakarta, 3-1, di Stadion Kanjuruhan Malang, Jawa Timur, Jumat (22/5).

Footage 19:41 WIB