Minggu, 15 Mar 2026
Minggu, 15 Maret 2026

Dear Anak Muda! Quarter Life Crisis Bukan Akhir, Tapi Awal untuk Tumbuh

astakom, Jakarta – Memasuki usia 20 hingga 30 tahun, banyak anak muda mengalami kegelisahan eksistensial yang dalam. Fenomena ini dikenal sebagai quarter life crisis, masa transisi dari remaja ke dewasa yang sering kali disertai kebingungan arah hidup, tekanan sosial, dan rasa tidak cukup.

Menurut Psikolog Remaja Direktorat Kemahasiswaan dan Karir (DKK) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Anita A’isah, quarter life crisis sering kali terjadi karena ketimpangan antara tuntutan hidup yang tinggi dan kemampuan pribadi yang belum sepenuhnya matang.

“Ini adalah masa di mana seseorang mulai dibebani berbagai tugas perkembangan dewasa, seperti meraih kemandirian finansial, membangun relasi, hingga menentukan arah karier. Namun sayangnya, banyak dari mereka belum memiliki kompetensi atau kepercayaan diri yang cukup untuk menjawab tuntutan itu,” jelas Anita dalam keterangan tertulis, dikutip astakom.com, Sabtu (26/7).

Jika fase ini dilewati dengan baik, seseorang akan mencapai fase intimasi, yaitu kemampuan menjalin hubungan yang sehat dan bermakna. Namun jika gagal, bisa muncul rasa kesepian yang mendalam, bahkan ketika berada di tengah keramaian.

“Kesepian dalam quarter life crisis bukan sekadar tidak punya teman saja, melainkan perasaan hampa karena tidak mendapatkan rasa aman, dihargai, dan dicintai. Itu bisa berdampak serius pada semangat belajar, kenyamanan kerja, bahkan kestabilan emosional. Ketika hal tersebut tidak ditangani dan disadari dengan baik, maka bisa berdampak pada kondisi psikologis seseorang,” ujarnya.

Anita menjelaskan bahwa pola asuh dan pengalaman masa kecil juga memainkan peran penting dalam keberhasilan individu melewati masa krisis ini. Luka-luka emosional yang belum sembuh akan ikut terbawa dan memengaruhi cara seseorang menghadapi tekanan hidup saat dewasa.

Meski demikian, quarter life crisis bukanlah jalan buntu. Generasi muda dapat menghadapinya dengan kesadaran dan strategi yang sehat. Menurut Anita, langkah awal yang penting adalah menerima luka masa lalu dan berdamai dengannya.

“Semakin kita menyandarkan kebahagiaan pada apresiasi atau ekspektasi orang lain, kita akan merasa tidak cukup bahkan tidak bahagia. Kunci untuk bertumbuh adalah dengan menghargai proses, bukan semata hasil. Lebih dari itu, kita hanya perlu menjadi lebih baik dari yang kemarin dan terus menambah pengetahuan, salah satunya dengan cara membaca,” tegas Anita.

Berdasarkan riset terbaru yang dibacanya, Anita menyebutkan dua faktor utama penentu keberhasilan melewati quarter life crisis, yakni komitmen dan spiritualitas.

“Ketika seseorang memiliki spiritualitas yang kuat, maka dia akan lebih mampu bersyukur, menikmati proses, dan meletakkan harapannya kepada Tuhan, bukan sekadar pada validasi eksternal. Bahkan hal sederhana seperti memulai hari dengan sholat subuh, bisa memberi efek besar pada ketenangan sepanjang hari,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa quarter life crisis seharusnya dipandang sebagai fase bertumbuh, bukan sebagai ancaman. Di momen ini, individu berkesempatan untuk mengenal nilai-nilai hidupnya, memperkuat karakter, dan menyusun masa depan dengan kesadaran yang lebih dalam.

“Tidak perlu terlalu cemas tentang masa depan. Selama kalian bertumbuh setiap hari dengan menambah ilmu, melatih disiplin, dan menjaga koneksi spiritual, maka kalian sedang membentuk versi terbaik dari dirimu. Hidup bukan soal membahagiakan semua orang, tetapi tentang menjadi individu yang lebih bermakna,” tutup Anita.

Feed Update

Korlantas Polri Catat 459 Ribu Kendaraan telah Keluar dari Jakarta

astakom.com, Jakarta — Memasuki momen mudik Lebaran 2026, Korps Lalu Lintas (Korlantas) Polri menyebut sebanyak 459.570 kendaraan telah keluar dari Jakarta. Laporan ini disampaikan Korlantas...

Momen Bahlil Bercanda Nyeletuk ‘Uang Terus’ saat Amran Ajukan Pinjaman ke Purbaya

astakom.com, Jakarta — Momen lucu terjadi saat Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jakarta, ketika Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman, memaparkan laporan komoditas...

Presiden Prabowo: Semua Kekayaan Alam Indonesia Milik Bangsa, Bukan Pengusaha

astakom.com, Jakarta — Membahas mengenai kekayaan alam, Presiden RI Prabowo Subianto menekankan bahwa seluruh kekayaan alam atau sumber daya alam (SDA) di Indonesia adalah...

Cendikiawan NU: Perang Amerika-Iran-Israel Jangan Bawa- Bawa Agama!

astakom.com, Jakarta- Pada sebuah Talkshow di stasiun Tv Nasional, cendikiawan muda NU Islah Bahrawi atau sosok yang biasa disapa Cak Islah ini menekankan tidak...

Perempuan Gerindra Gelar Santunan Anak Yatim dan Bagikan 1.000 Paket Sembako

astakom.com, Jakarta – Jumat berkah. Begitulah gambaran suasana hangat dan penuh kebersamaan yang terpancar di Kantor DPP Partai Gerindra pada Jumat sore (13/3/2026). Momen hangat...

Presiden Prabowo dan Jajarannya Membayar Zakat, Baznas: Teladan Pemimpin Dorong Kepercayaan Publik

astakom.com, Jakarta — Presiden Prabowo Subianto hingga jajaran menteri, wakil menteri Kabinet Merah Putih membayar zakat ke Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) di Istana...