Papua Selatan Hingga Sulawesi Utara Tertinggi, BPS Rilis Peta Inflasi Daerah Oktober 2026
astakom.com, Jakarta – Sebaran pergerakan harga barang dan jasa di berbagai wilayah Nusantara menunjukkan dinamika yang beragam di penghujung tahun. Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data Indeks Harga Konsumen (IHK) yang mencatat angka inflasi tahunan Indonesia menyentuh level 3,23 persen pada Oktober 2026, meningkat dari posisi 2,86 persen pada periode yang sama tahun lalu.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, memaparkan bahwa kelompok makanan,minuman, dan tembakau menjadi motor pendorong utama kenaikan harga dengan kontribusi tahunan mencapai 1,40 persen. Secara bulanan, IHK nasional bergerak dari 112,31 pada September menjadi 112,56 pada Oktober 2026, yang setara dengan inflasi bulanan sebesar 0,22 persen serta inflasi tahun kalender 2,40 persen.
Peta pergerakan harga daerah: 33 Provinsi inflasi, Papua Selatan Tertinggi
Melihat dari skala pergerakan bulanan, BPS mencatat distribusi perubahan harga yang tidak seragam di 38 provinsi Indonesia. Sebanyak 33 provinsi tercatat mengalami kenaikan harga, sementara lima provinsi sisanya berhasil menekan laju harga hingga mengalami deflasi.
Wilayah Papua Selatan mencatatkan kenaikan tertinggi dan menempati puncak inflasi bulanan se-Indonesia dengan angka 1,12 persen. Di kutub berlawanan, Gorontalo tampil sebagai daerah dengan penurunan harga paling signifikan, mencatatkan deflasi terdalam sebesar 0,67 persen.
Sulawesi Utara puncak inflasi tahunan, DKI Jakarta paling stabil
Untuk pengelompokan secara tahunan (year-on-year), peta inflasi memperlihatkan bahwa seluruh 38 provinsi di Indonesia kompak mengalami peningkatan harga barang dan jasa.
Provinsi Sulawesi Utara menjadi daerah dengan tingkat lonjakan harga paling tajam di tanah air setelah menembus inflasi tahunan sebesar 8,07 persen. Sebaliknya, DKI Jakarta berhasil mempertahankan kestabilan harga kebutuhan masyarakat dengan mencatatkan angka inflasi tahunan terendah secara nasional, yakni di level 2,52 persen.
Faktor pemicu inflasi bulanan dan komponen inti nasional
Secara nasional, lonjakan harga cabai dan bumbu dapur menjadi penentu utama pergerakan bulanan.Kelompok makanan, minuman, dan tembakau mencatat inflasi bulanan 0,51 persen dengan andil 0,15 persen.
“Komoditas yang dominan menyumbang inflasi pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau adalah cabai merah dengan andil inflasi sebesar 0,13 persen, cabai rawit dengan andil inflasi 0,05 persen, tomat dengan andil inflasi 0,04 persen, serta sawi hijau, labu siam/jipang, dan sawi putih yang masing-masing memberikan andil sebesar 0,01 persen,” jelas Ateng dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (02/11/2026).
Sementara pada komponen inti tahunan (andil 1,64%), pergeseran harga dipengaruhi oleh melesatnya harga perhiasan emas, minyak goreng, sajian nasi lauk, telepon seluler, laptop, hingga pelumas kendaraan.Komponen harga bergejolak memberi andil tahunan 0,96 persen, disusul harga yang diatur pemerintah sebesar 0,63 persen dan sektor transportasi sebesar 0,59 persen. (RaM)
Gen Z Takeaway
Melihat peta inflasi daerah Oktober 2026 yang cukup kontras mulai dari Papua Selatan dan Sulawesi Utara yang melambung tinggi sampai DKI Jakarta yang paling stabil jadi pengingat penting kalau dinamika harga di tiap wilayah itu beda-beda banget (regional price gap is real!). Di mana pun kawasan tempat tinggalmu, kuncinya tetap ada di manajemen finansial yang cermat: fokus penuhi kebutuhan primer dulu dan selalu siap adaptasi biar kondisi dompet tetap aman dan anti-worry.









