Indonesia Punya Jejak Seni Purba Berusia 67.800 Tahun, Dunia Bahas Evolusi Manusia di Yogyakarta

Penulis: Dhea Vallerina Riyon
Editor: Anri Syaiful
Selasa, 3 November 2026 | 11:32 WIB
Indonesia Punya Jejak Seni Purba Berusia 67.800 Tahun, Dunia Bahas Evolusi Manusia di Yogyakarta
Indonesia Punya Jejak Seni Purba Berusia 67.800 Tahun, Dunia Bahas Evolusi Manusia di Yogyakarta [Dok. Kemenbud]

astakom.com, Jakarta – Indonesia kembali menunjukkan peran pentingnya dalam mengungkap perjalanan panjang peradaban manusia. Kekayaan peninggalan prasejarah yang tersimpan di berbagai wilayah Nusantara menjadi salah satu bukti penting untuk memahami bagaimana manusia berkembang, berinteraksi, hingga menghasilkan karya seni sejak puluhan ribu tahun lalu.

Salah satu temuan yang menarik perhatian adalah lukisan cadas berusia setidaknya 67.800 tahun di Liang Metanduno, Pulau Muna, Sulawesi Tenggara. Selain itu, terdapat pula lukisan gua di Leang Karampuang, Sulawesi Selatan, yang diperkirakan berusia setidaknya 51.200 tahun. Kedua temuan tersebut memperkaya penelitian mengenai perkembangan ekspresi artistik manusia pada masa prasejarah.

Kontribusi tersebut turut menjadi pembahasan dalam The 23rd Congress of the Indo-Pacific Prehistory Association(IPPA) yang digelar pada 1–7 November 2026 di Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta. Forum internasional bertema Tomorrow and Beyond ini mempertemukan sekitar 850 praktisi dan peneliti dari 42 negara untuk membahas perkembangan penelitian prasejarah serta perjalanan peradaban manusia di kawasan Indo-Pasifik.

Temuan lukisan purba memperkaya sejarah manusia

Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, menilai Indonesia memiliki posisi penting dalam penelitian sejarah manusia, terutama melalui berbagai penemuan arkeologi yang memberikan perspektif baru mengenai perkembangan kebudayaan pada masa lampau.

Dalam sambutannya saat pembukaan kongres di Grha Sabha Pramana, UGM, Fadli menegaskan bahwa pemahaman terhadap masa depan tidak bisa dilepaskan dari pengetahuan mengenai perjalanan panjang manusia sebelumnya.

“Untuk memahami masa depan, kita harus terlebih dahulu memahami kedalaman dan keberagaman masa lalu. Dunia yang kita tinggali saat ini terbentuk dari perjalanan panjang banyak generasi, jauh sebelum sejarah mulai ditulis,” jelas Fadli.

Dua temuan lukisan prasejarah di Sulawesi tersebut menjadi bagian penting dalam pembahasan karena memperlihatkan bahwa masyarakat manusia pada masa lampau telah menghasilkan ekspresi artistik yang dapat diteliti hingga sekarang.

Keberadaan peninggalan itu juga memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu wilayah penting dalam kajian arkeologi dan perkembangan kebudayaan manusia di kawasan Asia Tenggara.

Sejarah Indo-Pasifik tidak hanya soal daratan

Dalam kongres tersebut, Fadli juga mendorong para akademisi internasional untuk memperluas cara pandang dalam mempelajari sejarah manusia. Menurutnya, perkembangan peradaban di kawasan Indo-Pasifik tidak cukup dipahami hanya melalui sejarah masyarakat yang hidup di wilayah daratan.

Kawasan kepulauan dan lingkungan maritim juga perlu mendapat perhatian, terutama untuk menelusuri hubungan antarmasyarakat melalui migrasi, interaksi, serta pertukaran budaya dari satu pulau ke pulau lainnya.

Perspektif tersebut membuka peluang penelitian yang lebih luas mengenai bagaimana masyarakat kepulauan berperan dalam membentuk perjalanan peradaban manusia. Indonesia dengan kondisi geografisnya yang terdiri atas ribuan pulau menjadi salah satu wilayah penting untuk mengembangkan kajian tersebut.

Wakil Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, K.G.P.A.A. Paku Alam X, turut menyampaikan bahwa kemajuan peradaban tidak semata-mata dilihat dari sejauh mana manusia melangkah, tetapi juga dari kemampuannya memahami perjalanan yang telah dilalui.

Kongres IPPA jadi ruang kolaborasi internasional

Penyelenggaraan kongres IPPA ke-23 di Indonesia juga menjadi kesempatan untuk memperkuat diplomasi kebudayaan. Kehadiran para peneliti dan praktisi dari 42 negara membuka ruang pertukaran pengetahuan sekaligus memperluas kerja sama penelitian lintas disiplin dan institusi.

Sebelumnya, dalam audiensi bersama Presiden IPPA, Anggraeni, di Jakarta pada 4 Maret 2026, Fadli menyampaikan bahwa keterlibatan Indonesia dalam kongres tersebut tidak sebatas menjadi tuan rumah. Forum internasional ini juga menjadi sarana untuk memperkenalkan kekayaan prasejarah Nusantara dan potensi pariwisata warisan budaya kepada masyarakat dunia.

Presiden IPPA, Anggraeni, menjelaskan bahwa kongres tersebut tidak hanya menjadi tempat untuk mempresentasikan hasil penelitian. Pertemuan ini juga memberikan kesempatan bagi para profesional, praktisi, dan peneliti untuk membangun interaksi, memperluas kolaborasi lintas bidang, serta memperkuat hubungan antarnegara.

Melalui penyelenggaraan kongres ini, Indonesia diharapkan semakin dikenal dalam peta penelitian prasejarah dunia. Kekayaan peninggalan arkeologi Nusantara bukan hanya menjadi bagian dari sejarah nasional, tetapi juga memberikan sumbangan pengetahuan untuk memahami evolusi manusia dan perkembangan peradaban di kawasan Indo-Pasifik. (deA/aNs)

Gen Z Takeaway

Jejak manusia purba ternyata menyimpan cerita yang jauh lebih besar daripada sekadar peninggalan masa lalu. Lukisan cadas berusia 67.800 tahun di Pulau Muna menjadi salah satu bukti bahwa Indonesia punya kontribusi penting dalam memahami sejarah ekspresi seni manusia. Lewat kongres IPPA ke-23, kekayaan prasejarah Nusantara kembali mendapat panggung internasional dan membuka kesempatan bagi generasi sekarang untuk mengenal lebih dalam perjalanan panjang peradaban manusia.

Lukisan Kementerian Kebudayaan Evolusi Manusia Kongres IPPA

Infografis

Terkini