Merger Garuda-Pelita Air Ditunda, Danantara Ogah Tambah Beban Bisnis!
astakom.com, Jakarta - Rencana merger antara PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) dan Pelita Air, ternyata masih di-hold dulu sama pemerintah. Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) tegasin kalau rencana penggabungan dua maskapai penerbangan pelat merah ini dipastikan belum akan dieksekusi dalam waktu dekat.
Alasannya make sense banget, karena kalau dua-duanya digabung pas kondisi bisnis belum prima, yang ada malah jadi beban finansial baru. Hal ini dispill langsung sama Kepala BP BUMN sekaligus Chief Operating Officer (COO) Danantara Indonesia, Dony Oskaria.
“Belum, belum, belum. Karena kan kalau di-merger kan kondisinya belum betul-betul baik, dua-duanya nanti jadi beban kan,” kata Dony di Jakarta, dikutip astakom.com, pada Rabu (28/10/2026).
Garuda Indonesia harus bereskan transformasi dulu
Sebelum wacana merger dibuka kembali, Danantara ngasih arahan buat Garuda Indonesia supaya fokus menuntaskan misi pembenahan bisnisnya secara menyeluruh.
Proses transformasi ini dinilai masih butuh banyak banget perbaikan krusial supaya siap terbang tinggi lagi.
Danantara kepingin perubahan nyata terjadi secara masif dan ketara banget, mulai dari layanan sebelum penerbangan (pre-flight), selama penerbangan (in-flight), sampe layanan setelah penerbangan (post-flight).
Sebagai catatan evaluasi, Dony nge-highlight beberapa sektor krusial yang masih perlu di-upgrade abis-abisan, mulai dari alur layanan penumpang kayak proses check-in sampe fasilitas hiburan layar di dalam kabin pesawat yang dinilai belum memenuhi ekspektasi.
Siap-siap rebranding
Nggak cuma urusan operasional di dalam pesawat, Danantara juga lagi sibuk merombak aspek identitas perusahaan, termasuk mengevaluasi seragam awak kabin hingga keseluruhan tampilan visual Garuda Indonesia.
Meski bakal ada sentuhan rebranding besar-besaran supaya kelihatan makin kekinian dan fresh, identitas utama maskapai kebanggaan Indonesia ini dipastikan aman dan bakal tetap dipertahankan.
“Nanti akan kita ada rebranding juga. Tapi bukan namanya ya, namanya tetap ya pasti Garuda Indonesia,” tegas Dony.
Intinya, rencana merger baru bakal dipikirkan matang-matang setelah performa kedua maskapai benar-benar sehat secara bisnis.
“Nanti kalau dua-duanya sudah bagus, baru kita lakukan merger-nya,” tambahnya.
Status konsolidasi masih sebatas wacana
Sebelumnya, pihak manajemen Garuda Indonesia juga sempat speak up soal konsolidasi ini. Lewat materi tanya jawab Surabaya Investor Meeting and Connectivity 2026 yang dirilis di keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI) beberapa waktu lalu, ditegaskan bahwa wacana peleburan ini masih sebatas tahap kajian awal.
Artinya, istilah "merger" sama sekali belum merepresentasikan keputusan yang sudah final. Manajemen bahkan pastiin belum ada ketok palu atau keputusan resmi soal bentuk maupun mekanisme konsolidasi dengan Pelita Air.
"Rencana konsolidasi yang melibatkan Garuda Indonesia Group dan Pelita Air saat ini masih berada dalam tahap kajian dan pembahasan pada tingkat pemegang saham dan bersama para pihak terkait, sesuai dengan kewenangan masing-masing," tulis keterangan resmi Garuda Indonesia. (Shnty/aNs)
Gen Z Takeaway
Garuda Indonesia dan Pelita Air belum akan merger dalam waktu dekat. Danantara menilai, penggabungan dua maskapai saat kondisi bisnis belum sehat justru berisiko menambah beban finansial. Karena itu, Garuda diminta fokus membenahi layanan, operasional, dan identitas perusahaan lewat rencana rebranding tanpa mengganti nama. Kalau performa kedua maskapai sudah lebih sehat, barulah opsi merger dipertimbangkan kembali.









