Bukan Kaleng-Kaleng! KEK Kesehatan Bidik Penghematan Devisa Rp150 Triliun

Penulis: Shintya
Editor: Anri Syaiful
Rabu, 28 Oktober 2026 | 21:31 WIB
Bukan Kaleng-Kaleng! KEK Kesehatan Bidik Penghematan Devisa Rp150 Triliun
Bukan Kaleng-Kaleng! KEK Kesehatan Bidik Penghematan Devisa Rp150 Triliun [Timpres/Jessica Jowena Yiswi]

astakom.com, Jakarta - Selama ini, banyak dari kita yang kalau sakit sedikit langsung kepikiran terbang ke luar negeri buat berobat. Padahal, budget yang digelontorkan nggak main-main, lho. Pemerintah lewat Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian gerak cepat ngebut ngehadirin solusi nyata yakni Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) sektor kesehatan.

Nggak tanggung-tanggung, potensi penghematan devisanya diproyeksikan bisa tembus Rp150 triliun per tahun.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, blak-blakan bilang kalau fasilitas kesehatan di dalam negeri ini disiapkan jadi alternatif utama buat warga Indonesia yang sering medical tourism ke negeri orang.

"Ini punya potensi untuk substitusi kepada orang Indonesia yang berobat di luar negeri. Itu spending-nya sekitar Rp150 triliun," kata Airlangga usai agenda Rapat Kerja Nasional KEK Triwulan III di Jakarta, beberapa waktu lalu, dikutip astakom.com pada Rabu (28/10/2026).

Bali sampai Batam

Pengembangan KEK sektor kesehatan ini lagi dipusatkan di beberapa wilayah potensial, termasuk di Bali dan Batam. Lewat langkah ini, pemerintah mau pastiin kebutuhan medis masyarakat terpenuhi sekaligus nahan devisa biar nggak terus-terusan mengalir ke luar negeri.

Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono nambahin kalau KEK kesehatan bakal membawa dampak positif secara menyeluruh. Mulai dari peningkatan kualitas pelayanan, derasnya investasi industri kesehatan, sampai transfer of knowledge yang worth it banget buat masa depan medis Indonesia.

Hadirkan dokter asing

Dari sisi fasilitas, pemerintah memfasilitasi layanan kesehatan berstandar internasional langsung di dalam negeri. Nggak cuma itu, peluang investasi juga dibuka lebar buat pabrikan alat kesehatan dan obat-obatan yang selama ini masih harus diimpor.

Nah, yang paling menarik perhatian yaitu, pemerintah juga ngasih lampu hijau buat dokter asing praktik di wilayah KEK. Langkah ini diambil supaya dokter-dokter lokal bisa dapet ilmu baru secara langsung.

"Kita sudah menerbitkan surat izin praktek untuk dokter asing di wilayah KEK. Dengan begitu transfer of knowledge dari dokter-dokter asing itu bisa pindah ke dokter-dokter kita. Sehingga nantinya dokter kita bisa mandiri, melakukan pelayanan sama seperti pelayanan yang ada di beberapa negara internasional," kata Dante.

Siapin regulasi

Biar ekosistemnya makin canggih pemerintah juga lagi ngebut merevisi Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes). Aturan baru ini nantinya bakal ngatur mekanisme, fasilitas, dan berbagai kemudahan buat ngesupport pusat diagnostik dan layanan regeneratif berbasis stem cell di KEK kesehatan.

Intinya, kehadiran KEK kesehatan ini bukan cuma soal nyediain tempat berobat doang. Lebih dari itu, kawasan ini disiapin jadi ekosistem mandiri yang bikin industri farmasi dan alat kesehatan nasional makin tangguh, ngurangin ketergantungan dari luar negeri, dan pastinya bikin ekonomi Indonesia makin ngebut! (Shnty/aNs)

Gen Z Takeaway

KEK kesehatan di Bali dan Batam jadi langkah pemerintah buat bikin masyarakat lebih nyaman berobat di dalam negeri. Potensi penghematan devisanya diproyeksikan mencapai Rp150 triliun per tahun. Menariknya, pemerintah juga membuka peluang praktik bagi dokter asing agar dokter lokal bisa menyerap ilmu dan teknologi medis terbaru. Kalau ekosistem ini berkembang optimal, Indonesia bukan cuma bisa mengurangi ketergantungan berobat ke luar negeri, tetapi juga memperkuat industri farmasi dan alat kesehatan nasional.

KEK Sektor Kesehatan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Menko Perekonomian Airlangga Hartarto

Infografis

Terkini