Gunung Anak Krakatau Erupsi Tiga Kali pada Rabu Malam, Letusan Terakhir Berlangsung 9 Menit
astakom.com, Jakarta – Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda kembali terekam pada Rabu (28/10/2026) malam. Dalam rentang waktu kurang dari satu jam, gunung api tersebut mengalami tiga kali erupsi berdasarkan rekaman alat pemantauan seismograf.
Mengutip informasi yang dihimpun astakom.com pada Kamis (29/10/2026), Kepala Pos Pantau Gunung Anak Krakatau, Suwarno, membenarkan adanya tiga kejadian erupsi tersebut. Meski aktivitas letusan tercatat melalui instrumen pemantauan, wujud letusannya tidak terlihat secara langsung.
Erupsi terakhir menjadi kejadian dengan durasi paling panjang dalam rangkaian tersebut, yakni mencapai 573 detik atau sekitar 9 menit 33 detik. Kondisi ini membuat perkembangan aktivitas gunung api di Selat Sunda masih perlu dicermati melalui laporan pemantauan resmi.
Tiga erupsi tercatat dalam waktu kurang dari satu jam
Berdasarkan data pemantauan yang diberitakan pada Kamis (29/10/2026), erupsi pertama terjadi pada pukul 22.37 WIB. Aktivitas tersebut terekam dengan amplitudo maksimum 48 milimeter dan berlangsung selama 233 detik atau sekitar 3 menit 53 detik.
Lima menit berselang, tepatnya pukul 22.42 WIB, erupsi kembali terdeteksi. Dalam laporan yang tersedia, durasi kejadian kedua belum dapat dipastikan saat aktivitas tersebut masih berlangsung.
Selanjutnya, pada pukul 23.29 WIB, Gunung Anak Krakatau kembali mengalami erupsi. Rekaman seismograf menunjukkan amplitudo maksimum 48 milimeter dengan durasi 573 detik, setara dengan 9 menit 33 detik.
Ketiga kejadian itu tercatat melalui instrumen pemantauan, sedangkan visual letusan tidak teramati. Karena itu, data waktu dan durasi menjadi informasi utama yang tersedia untuk menggambarkan aktivitas pada Rabu malam.
Status aktivitas dan zona bahaya perlu diperhatikan
Sebelumnya, Gunung Anak Krakatau dilaporkan berada pada Level III atau Siaga. Masyarakat, wisatawan, dan pihak yang beraktivitas di sekitar kawasan gunung api perlu mengikuti rekomendasi terbaru dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).
Dalam laporan pemberitaan mengenai erupsi Rabu malam, masyarakat dan wisatawan diimbau tidak memasuki kawasan berbahaya dalam radius 5 kilometer dari pusat erupsi. Batas tersebut perlu dicocokkan dengan rekomendasi resmi PVMBG yang paling mutakhir sebelum dijadikan acuan operasional.
Pemantauan aktivitas gunung api dilakukan untuk mengetahui perubahan kondisi vulkanik dan menjadi dasar penyampaian informasi keselamatan kepada masyarakat. Warga pesisir Lampung dan Banten juga perlu mengikuti arahan pemerintah daerah serta tidak mudah mempercayai kabar yang belum terverifikasi mengenai dampak erupsi.
Pemantauan resmi menjadi acuan perkembangan berikutnya
Aktivitas erupsi yang terekam pada Rabu malam menunjukkan bahwa perkembangan Gunung Anak Krakatau masih perlu dipantau secara berkala. Namun, data durasi erupsi saja tidak cukup untuk menyimpulkan tingkat bahaya terbaru tanpa mempertimbangkan hasil evaluasi vulkanologi secara menyeluruh.
Masyarakat dapat memeriksa laporan aktivitas dan rekomendasi keselamatan melalui portal resmi MAGMA Indonesiaserta kanal Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. (deA/aNs)
Gen Z Takeaway
Gunung Anak Krakatau tercatat mengalami tiga kali erupsi pada Rabu malam (28/10/2026), dengan letusan terakhir berlangsung sekitar 9 menit 33 detik. Meski letusan tidak teramati secara visual, aktivitasnya tetap terekam oleh seismograf. Masyarakat sebaiknya tidak berspekulasi mengenai dampak erupsi dan selalu mengikuti pembaruan resmi PVMBG agar informasi yang diterima tetap akurat.









