Mengenal Mohammad Tabrani, Tokoh yang Memperjuangkan Nama Bahasa Indonesia

Penulis: Dhea Vallerina Riyon
Editor: Anri Syaiful
Rabu, 28 Oktober 2026 | 22:02 WIB
Mengenal Mohammad Tabrani, Tokoh yang Memperjuangkan Nama Bahasa Indonesia
Mengenal Mohammad Tabrani, Tokoh yang Memperjuangkan Nama Bahasa Indonesia (Wikipedia)

astakom.com, Jakarta – Nama Mohammad Tabrani Soerjowitjitro menjadi bagian penting dalam sejarah lahirnya bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Jauh sebelum Sumpah Pemuda 1928, Tabrani sudah memperjuangkan agar bahasa persatuan bangsa Indonesia menggunakan nama bahasa Indonesia, bukan bahasa Melayu.

Mengutip laman resmi Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Mohammad Tabrani lahir di Pamekasan, Madura, pada 10 Oktober 1904. Ia mulai bekerja di harian Hindia Baru pada Juli 1925 dan memanfaatkan kiprahnya di dunia pers untuk menyuarakan gagasan kebangsaan.

Pemikiran Tabrani tentang bahasa persatuan terlihat dalam Kongres Pemuda Pertama pada 1926. Saat itu, ia berbeda pendapat dengan Mohammad Yamin mengenai nama bahasa yang akan dijunjung sebagai pemersatu bangsa.

Berbeda pendapat dengan Mohammad Yamin

Perbedaan pandangan tersebut bermula ketika Yamin mengusulkan bahasa Melayu sebagai bahasa persatuan dalam konsep resolusi Kongres Pemuda Pertama. Tabrani menyetujui isi pidato Yamin, tetapi tidak sependapat dengan usulan nama bahasa Melayu dalam resolusi tersebut.

Dalam karya Sebuah Otobiografi M. Tabrani: Anak Nakal Banyak Akal, halaman 42, dicatat petikan ucapan Yamin yang menunjukkan ketidaksetujuannya terhadap pendirian Tabrani.

“Bahasa Indonesia tidak ada; Tabrani tukang ngelamun.” Petikan tersebut tertulis dalam karya Sebuah Otobiografi M. Tabrani: Anak Nakal Banyak Akal, halaman 42, dikutip dari keterangan tertulis Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah yang dimuat oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.

Meski mendapat penolakan, Tabrani tetap mempertahankan pandangannya bahwa nama bahasa persatuan seharusnya bahasa Indonesia. Ia menilai nama tersebut perlu ditegaskan sebagai bagian dari identitas bangsa yang sedang diperjuangkan.

Dalam catatan yang sama, Tabrani menyampaikan alasannya kepada Yamin.

“Alasanmu, Yamin, betul dan kuat. Maklum lebih paham tentang bahasa daripada saya. Namun, saya tetap pada pendirian. Nama bahasa persatuan hendaknya bukan bahasa Melayu, tetapi bahasa Indonesia. Kalau belum ada harus dilahirkan melalui Kongres Pemuda Indonesia Pertama ini.”

Gagasan yang berlanjut hingga Sumpah Pemuda

Perbedaan pendapat antara Tabrani dan Yamin tidak langsung menghasilkan keputusan akhir dalam Kongres Pemuda Pertama. Keputusan mengenai nama bahasa persatuan ditunda hingga Kongres Pemuda Kedua pada 1928.

Gagasan tersebut kemudian menjadi bagian dari proses menuju Sumpah Pemuda. Dalam Kongres Pemuda Kedua, rumusan ikrar yang menegaskan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan diterima oleh para peserta kongres.

Perjalanan itu memperlihatkan bahwa penetapan bahasa Indonesia bukan sekadar persoalan memilih nama. Di baliknya, terdapat perdebatan tentang identitas dan cita-cita kebangsaan yang turut membentuk arah perjuangan para pemuda pada masa itu.

Tabrani juga dikenang melalui kiprahnya sebagai jurnalis. Pekerjaannya di Hindia Baru memberinya ruang untuk menyampaikan gagasan mengenai kebangsaan, termasuk pentingnya bahasa sebagai unsur pemersatu masyarakat yang berasal dari beragam daerah.

Perjuangan Tabrani dalam sejarah bahasa Indonesia

Gagasan Tabrani menunjukkan bahwa bahasa persatuan telah menjadi bahan pemikiran dan perdebatan di kalangan tokoh pergerakan sebelum Sumpah Pemuda dikumandangkan. Pendiriannya mengenai nama bahasa Indonesia menjadi salah satu bagian penting dari rangkaian sejarah tersebut.

Perjuangan itu juga mengingatkan bahwa bahasa Indonesia tumbuh bersama proses pembentukan identitas nasional. Bahasa bukan hanya alat komunikasi sehari-hari, melainkan juga sarana untuk menyatukan masyarakat yang memiliki latar belakang bahasa dan budaya berbeda. (deA/aNs)

Gen Z Takeaway

Mohammad Tabrani bukan sekadar jurnalis pada masa pergerakan nasional. Ia termasuk tokoh yang sejak 1926 memperjuangkan nama bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Perbedaan pendapatnya dengan Mohammad Yamin menunjukkan bahwa gagasan besar dalam sejarah bangsa bisa lahir melalui perdebatan, keteguhan sikap, dan keberanian menyampaikan pandangan.

Bahasa Indonesia Mohammad Tabrani Mohammad Tabrani Soerjowitjitro Sejarah Hari Sumpah Pemuda

Infografis

Terkini