Bukan Cuma Soal Netanyahu, Terungkap Rahasia di Balik Panasnya Pemilu Israel 2026
astakom.com, Jakarta - Hasil exit poll Pemilu Israel 2026 bener-bener bikin publik kaget gais! Koalisi pimpinan Benjamin Netanyahu diprediksi merosot drastis ketimbang aliansi partai penentangnya di parlemen (Knesset). Di sisi lain, perolehan suara partai-partai Arab justru melesat tajam.
Tapi jangan senang atau panik dulu, karena sampai saat ini belum ada satu pun kubu yang berhasil ngamanin angka keramat 61 kursi mayoritas. Artinya, jalan menuju kursi Perdana Menteri Israel berikutnya masih super panjang, penuh liku, dan rawan plot twist!
Kenapa perhitungannya rumit, sulit diprediksi, dan nggak bisa mentah-mentah percaya poll? Ini dia dinamika internal dan tahapan pembentukan pemerintahannya dikutip The Conversation, Kamis (29/10/2026).
Keretakan koalisi Netanyahu dan potensi partai kanan “membelot"
Beberapa pakar menilai hasil Pemilu Israel kali ini makin sulit ditebak akibat keretakan di dalam tubuh koalisi pemerintahan Netanyahu sendiri. Partai-partai di dalamnya punya agenda serta kepentingan masing-masing,sehingga nggak menutup kemungkinan ada yang tega menyeberang dan mendukung kubu lawan.
- Isu Wajib Militer Kaum Haredim: Salah satu poin krusial yang bikin gesekan di internal partai berhaluan kanan adalah persoalan wajib militer bagi kaum Haredim (Yahudi Ultra-Ortodoks). Selama ini, mereka dapat "keistimewaan" bebas wamil demi fokus belajar Taurat di Yeshiva, yang pada akhirnya memicu rasa iri dan cemburu dari warga biasa.
- Sikap Politik Ben Gvir: Peneliti Senior studi Timur Tengah dan Afrika di CFR, Steven A. Cook, menyebut bahwa partai berhaluan kanan milik Itamar Ben Gvir cuma mau memastikan kebijakan yang menguntungkan kelompok mereka. Artinya, Ben Gvir dan partainya bisa saja berbalik arah mendukung Gadi Eisenkot asalkan tuntutan serta kepentingan mereka diakomodasi.
- Pernah Pecah Kongsi di 2025: Sikap pragmatis Ben Gvir ini bukan tanpa alasan. Pada 2025 lalu,partainya bahkan sempat nekat keluar dari koalisi Netanyahu sebagai bentuk protes atas kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Hamas.
Kenapa jajak pendapat di Israel sering bikin kecele?
Memetakan suara pemilih di Israel itu tantangannya emang nggak main-main. Sistem pemilunya pakai perwakilan proporsional nasional dengan ambang batas tinggi (minimal 4 kursi buat masuk Knesset).
Ada beberapa kelompok pemilih yang super sulit disurvei secara akurat:
- Kelompok Yahudi Ultra-Ortodoks (13% pemilih) & Warga Arab Israel (18% pemilih): Punya isu operasional dan tingkat kepercayaan yang rendah terhadap lembaga survei.
- Pemilih Misterius: Ada sekitar 618.000 pemilih baru serta 650.000 tentara cadangan dan diplomat yang nyoblos pakai "amplop ganda" yang baru dihitung belakangan pasca-hari H.
- Diaspora: Dari 810.000 pemilih di luar negeri, puluhan ribu di antaranya rela terbang langsung ke Israel cuma demi nyoblos!
Langkah 1: parade rekomendasi dan peran presiden
Meskipun jabatan Presiden Israel biasanya cuma simbolis, di momen pasca-pemilu peran Presiden Isaac Herzog bakal krusial banget.
- Undangan Presiden: Presiden bakal ngumpulin semua perwakilan partai yang lolos ambang batas (minimal 3,25% suara sah) buat nanya siapa sosok yang mereka rekomendasikan jadi PM.
- Kandidat Kuat: Nama yang mencuat bisa jadi Netanyahu (Likud), rival utamanya Gadi Eisenkot (eks Panglima IDF pimpinan Partai Yashar!), atau nama lain.
- Peluang Eisenkot: Di tahap awal ini, Eisenkot diprediksi punya peluang besar dapat giliran pertama dari Presiden buat merakit pemerintahan karena akumulasi dukungan rekomendasinya.
- Aturan Main: Kandidat terpilih dikasih waktu 28 hari (plus perpanjangan 14 hari) buat membentuk kabinet. Kalau gagal dua putaran berturut-turut, pemilu ulang siap digelar!
Fun Fact: Partai terbesar nggak otomatis ngunci posisi PM! Contohnya pada 2021 lalu, Naftali Bennett yang cuma ngantongin 7 kursi sukses jadi PM mengalahkan Netanyahu yang punya 30 kursi.
Langkah 2: negosiasi marathon dan isu-isu sensitif
Buat ngumpulin modal minimal 61 kursi (pemerintahan mayoritas) atau kurang tapi dapat back up dari luar (pemerintahan minoritas), negosiasi politik bakal berlangsung alot dan penuh ajang "jual mahal" antarpartai:
- Dilema Wamil Haredi: Blok Eisenkot sepakat bulat mau mewajibkan pria Haredi masuk tentara (IDF).Sebaliknya, partai-partai Haredi (Shas, United Torah Judaism) menuntut pembebasan wamil dimaktubkan dalam UU, sementara partai kanan penyokong Netanyahu ingin jalan tengah lewat negosiasi.
- Posisi Dilematis Partai Arab: Partai Ra’am pimpinan Mansour Abbas mau gabung ke koalisi non-Netanyahu. Tapi, partai-partai Zionis di blok Eisenkot masih enggan dan menolak duduk bareng partai Arab dalam satu koalisi.
- Masa Depan Konflik Palestina: Blok oposisi punya pandangan terpecah. Partai Demokrat (kiri) mendukung dialog negara Palestina, sementara tokoh seperti Avigdor Liberman, Naftali Bennett, dan Yair Lapid menolak keras kedaulatan Palestina pasca-peristiwa 7 Oktober. (RaM)
Gen Z Takeaway
Pemilu Israel 2026 sejatinya bukan cuma soal sosok Netanyahu bertahan atau tumbang, tapi soal dinamika keretakan koalisi internal serta arah yang bakal diambil oleh negara tersebut dalam beberapa tahun ke depan.Kita tunggu aja plot twist politiknya dalam beberapa minggu ke depan gais.









