Film Indonesia Ramaikan TIFF 2026, Dari Kompetisi Utama hingga Program Sinema Asia

Penulis: Dhea Vallerina Riyon
Editor: Anri Syaiful
Rabu, 28 Oktober 2026 | 05:05 WIB
Film Indonesia Ramaikan TIFF 2026, Dari Kompetisi Utama hingga Program Sinema Asia
Sutradara Garin Nugroho bersama Nicholas Saputra, Laura Basuki, Tissa Biani, dan Nagra Pakusadewo hadir di karpet merah pembukaan Tokyo International Film Festival (TIFF) [Dok. IG @merahsebelumfajar]

astakom.com, Jakarta – Sutradara Garin Nugroho bersama Nicholas Saputra, Laura Basuki, Tissa Biani, dan Nagra Pakusadewo hadir di karpet merah pembukaan Tokyo International Film Festival (TIFF) 2026 di Jepang, Senin (26/10/2026). Kehadiran mereka membawa Merah Sebelum Fajar (Red Before Dawn), film Indonesia yang terpilih dalam kompetisi utama festival tersebut.

Tak hanya melalui karya Garin Nugroho, perfilman Indonesia juga hadir lewat sejumlah film lain yang masuk program berbeda, mulai dari drama keluarga, kisah perjuangan kemerdekaan, dokumenter tentang arsip perfilman, hingga horor berlatar pabrik. Keberagaman ini memperlihatkan berbagai cerita dari Indonesia yang mendapat ruang di festival film internasional.

Melansir dari keterangan resmi Tokyo International Film Festival dan laporan terkait pada (27/10/2026), festival edisi ke-39 ini berlangsung pada 26 Oktober hingga 4 November 2026 di Tokyo, Jepang. Tahun ini, TIFF mengusung tema “Connecting — Cinema Connects Us to the World Beyond”, yang menyoroti kemampuan film untuk menghubungkan manusia dari berbagai latar budaya dan kehidupan.

Merah sebelum fajar masuk kompetisi utama

Salah satu sorotan datang dari Merah Sebelum Fajar atau Red Before Dawn, karya sutradara Garin Nugroho. Film ini terpilih dalam program Competition, kategori utama yang mempertemukan film-film pilihan dari berbagai negara.

Berdasarkan keterangan resmi TIFF, film tersebut melakukan pemutaran perdana dunia di festival ini. Jadwal pemutarannya tercatat pada 27 dan 30 Oktober serta 3 November 2026. Film berdurasi 113 menit ini dibintangi Nicholas Saputra, Laura Basuki, Bront Palarae, Tissa Biani, dan Nagra Pakusadewo.

Cerita Merah Sebelum Fajar mengambil latar Indonesia pada 1946, ketika situasi setelah proklamasi kemerdekaan masih penuh gejolak. Tokoh Frans, seorang geolog berdarah Indonesia-Belanda, menjalankan misi membawa dokumen penting dari Sumatera menuju Yogyakarta, yang saat itu menjadi ibu kota sementara.

Perjalanan tersebut tidak berjalan mulus. Frans ditemani sejumlah orang dengan latar berbeda dan menghadapi ancaman, kecurigaan, serta situasi politik yang membuat misinya semakin rumit. Kisah ini membuka sudut pandang lain tentang masa awal kemerdekaan, ketika perjuangan tidak hanya berlangsung di medan pertempuran, tetapi juga dalam perjalanan manusia yang berusaha menjalankan tugasnya.

Keikutsertaan film Garin di kompetisi utama menjadi salah satu bagian penting dari kehadiran Indonesia di TIFF tahun ini. Namun, status sebagai peserta kompetisi perlu dibedakan dari hasil penghargaan. Partisipasi tersebut menunjukkan bahwa filmnya masuk seleksi festival, bukan berarti telah memenangkan kompetisi.

Cerita keluarga dan pengalaman perempuan lintas generasi

Selain film berlatar sejarah, Indonesia juga menghadirkan cerita yang lebih dekat dengan dinamika keluarga melalui Desember Jani, dengan judul internasional Jani Be Good. Film panjang pertama karya Ariani Darmawan ini masuk program Asian Future, yang ditujukan bagi karya film panjang pertama atau kedua dari sutradara Asia.

Film tersebut mengikuti Jani, seorang anak berusia 13 tahun yang mendengar pertengkaran antara kakaknya, Julia, dan ibunya, Winnie. Setelah Julia pergi tanpa kabar, suasana rumah semakin berat bagi Jani. Winnie merupakan ibu tunggal sekaligus pencari nafkah keluarga, tetapi tekanan hidup membuat hubungannya dengan anak-anak menjadi rumit.

Jani kemudian mencari ketenangan bersama neneknya dan diam-diam menghubungi Julia. Berlatar empat hari pada bulan Desember menjelang Natal, cerita ini menggambarkan luka, kemarahan, dan cara berbeda dari setiap anggota keluarga dalam memahami kasih sayang.

Sementara itu, Empat Musim Pertiwi atau Four Seasons in Java karya Kamila Andini terpilih dalam program CROSSCUT ASIA+. Film ini mengisahkan Pertiwi yang kembali ke kampung halaman setelah menjalani hukuman penjara dalam waktu lama. Di lingkungan yang terasa menyesakkan, ia berusaha menemukan cara untuk kembali menjalani hidup bersama orang-orang yang juga tersisih.

Kedua film tersebut membawa persoalan personal ke ruang penonton internasional. Konflik keluarga dan perjuangan memulai kembali kehidupan mungkin berangkat dari pengalaman lokal, tetapi persoalan mengenai hubungan, penerimaan, dan kesempatan kedua dapat dipahami oleh penonton dengan latar berbeda.

Film klasik dan dokumenter ikut membawa sejarah sinema Indonesia

Kehadiran Indonesia di TIFF 2026 tidak hanya diisi karya baru. Film klasik Turang (1957) karya Bachtiar Siagian turut masuk program CROSSCUT ASIA+. Berlatar perjuangan kemerdekaan di Tanah Karo, film ini mengikuti Rusli yang terluka dan jatuh cinta kepada Tipi, perempuan yang merawatnya. Ketika pengkhianatan membantu serangan Belanda, masyarakat desa harus menghadapi ancaman dan berjuang mempertahankan kehidupan mereka.

Program yang sama juga menampilkan Behind the Flickering Light: The Archive (2013), dokumenter karya Hafiz Rancajale yang dikenal pula dengan judul Anak Sabiran, Di Balik Cahaya Gemerlapan (Sang Arsip). Film ini membahas gagasan pengarsipan melalui sosok Misbach Yusa Biran serta pentingnya menjaga warisan audiovisual agar sejarah perfilman tidak hilang bersama kerusakan material dan berlalunya waktu.

Sementara itu, Monster Pabrik Rambut dengan judul internasional Sleep No More karya Edwin dijadwalkan tayang pada 3 November 2026 di TIFF. Film horor ini sebelumnya telah diputar di sejumlah festival internasional, termasuk Berlinale 2026.

Keberagaman tersebut membuat kehadiran Indonesia di TIFF bukan sekadar urusan jumlah film. Ada cerita sejarah, drama keluarga, pengalaman perempuan, pelestarian arsip, hingga horor yang membawa persoalan sosial ke dalam narasi sinematik.

Dengan jadwal festival yang masih berlangsung pada Selasa, (27/10/2026), hasil akhir kompetisi dan perkembangan penayangan berikutnya belum dapat disimpulkan. Namun, katalog TIFF sudah memperlihatkan bahwa karya Indonesia hadir melalui beberapa jalur program dengan karakter yang berbeda. (deA/aNs)

Gen Z Takeaway

Kehadiran film Indonesia di TIFF 2026 memperlihatkan bahwa cerita dari Tanah Air punya banyak warna, mulai dari sejarah kemerdekaan hingga konflik keluarga yang terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari. Ada film baru yang berkompetisi, karya klasik yang kembali mendapat ruang, dan dokumenter yang mengingatkan pentingnya menjaga sejarah perfilman. Bagi penonton, ini juga jadi kesempatan untuk melihat bahwa film Indonesia tidak melulu soal satu genre atau satu jenis cerita, melainkan punya banyak sudut pandang yang bisa dibawa ke panggung internasional.

Tokyo International Film Festival (TIFF) 2026 TIFF 2026 Film Indonesia Indonesian Film Film Bioskop Indonesia

Infografis

Terkini