Sejarah Museum AH Nasution, Rumah Bersejarah Saksi Peristiwa 30 September 1965

Penulis: Dhea Vallerina Riyon
Editor: Anri Syaiful
Rabu, 28 Oktober 2026 | 00:08 WIB
Sejarah Museum AH Nasution, Rumah Bersejarah Saksi Peristiwa 30 September 1965
Sejarah Museum A.H. Nasution, Rumah Bersejarah Saksi Peristiwa 30 September 1965 (Dok. Disjarahad)

astakom.com, Jakarta – Sebuah rumah di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, menyimpan jejak kehidupan Jenderal Besar Abdul Haris Nasution sekaligus kisah kelam dalam sejarah Indonesia. Bangunan yang kini dikenal sebagai Museum Jenderal Besar Dr. A.H. Nasution itu dulunya merupakan kediaman Nasution bersama keluarganya, sebelum menjadi tempat yang menyimpan berbagai koleksi sejarah perjuangan bangsa.

Museum ini bukan sekadar tempat untuk melihat benda-benda peninggalan masa lalu. Di dalamnya, pengunjung bisa mengenal perjalanan hidup Nasution, kiprahnya di lingkungan militer, hingga peristiwa 30 September 1965 yang turut menimpa keluarganya.

Melansir dari keterangan resmi Dinas Sejarah Angkatan Darat (Disjarahad) yang dikutip pada Selasa, (27/10/2026), rumah tersebut kemudian dijadikan museum sebagai bentuk penghormatan atas jasa-jasa Nasution. Museum ini diresmikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 3 Desember 2008 dan memiliki 2.185 koleksi yang tersebar di sejumlah ruangan.

Berawal dari rumah yang menyimpan sejarah panjang

Museum Jenderal Besar Dr. A.H. Nasution berlokasi di Jalan Teuku Umar Nomor 40, Kelurahan Gondangdia, Kecamatan Menteng, Jakarta Pusat. Sebelum difungsikan sebagai museum, bangunan tersebut merupakan tempat tinggal Nasution bersama keluarganya.

Melansir dari keterangan resmi Museum Indonesia yang diterbitkan pemerintah, bangunan rumah tersebut diperkirakan telah berdiri sejak 1923. Sebelum ditempati keluarga Nasution, rumah itu disebut pernah menjadi tempat tinggal seorang pegawai Gubernur Jenderal Belanda yang merupakan mertua Nasution.

Nasution mulai menempati kediaman tersebut ketika menjabat sebagai Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) pada 1949. Rumah itu menjadi bagian dari perjalanan hidupnya hingga ia wafat pada 6 September 2000.

Selama digunakan sebagai kediaman, rumah tersebut bukan hanya menjadi ruang bagi kehidupan keluarga Nasution, tetapi juga menyimpan jejak perjalanan pengabdiannya kepada bangsa dan negara.

Setelah keluarga Nasution pindah pada 29 Juli 2008, bangunan tersebut direnovasi untuk dialihfungsikan menjadi museum. Perubahan ini membuat rumah yang sebelumnya bersifat pribadi dapat dimanfaatkan sebagai ruang untuk mengenal sejarah dan mengenang jasa salah satu tokoh militer Indonesia.

Museum tersebut kemudian diresmikan pada 3 Desember 2008. Sejak saat itu, kediaman bersejarah ini menjadi salah satu tempat yang dapat dikunjungi masyarakat untuk mempelajari kehidupan Nasution dan peristiwa penting yang berkaitan dengannya.

Menjadi saksi peristiwa 30 September 1965

Salah satu bagian paling penting dari sejarah rumah ini berkaitan dengan peristiwa Gerakan 30 September 1965 atau yang dikenal sebagai G30S.

Menurut catatan resmi Disjarahad, pasukan Cakrabirawa berupaya menculik dan membunuh Nasution di kediamannya. Namun, upaya tersebut gagal dan Nasution berhasil lolos.

Peristiwa itu tetap meninggalkan duka bagi keluarganya. Ade Irma Suryani Nasution, putri kedua Nasution, serta ajudannya, Lettu Czi Pierre A. Tendean, gugur dalam rangkaian peristiwa tersebut.

Kejadian ini menjadi bagian penting dari sejarah museum karena memperlihatkan bahwa peristiwa politik dan militer pada masa itu juga membawa dampak langsung bagi keluarga yang berada di lokasi kejadian.

Kisah tersebut dihadirkan melalui diorama yang menggambarkan peristiwa 30 September 1965. Dengan begitu, pengunjung dapat mengenal salah satu bagian sejarah Indonesia melalui visualisasi yang disediakan museum.

Meski begitu, penting untuk memahami bahwa museum ini tidak hanya berkaitan dengan peristiwa G30S. Riwayat hidup Nasution, perjalanan pengabdiannya, dan berbagai peristiwa lain dalam sejarah perjuangan Indonesia juga menjadi bagian dari koleksi yang ditampilkan.

Menyimpan 2.185 koleksi, dari seragam hingga diorama

Bagi pengunjung yang ingin mengenal sejarah melalui benda peninggalan, museum ini memiliki beragam koleksi yang menggambarkan kehidupan Nasution dan peristiwa penting dalam perjalanan bangsa.

Disjarahad mencatat terdapat 2.185 koleksi yang tersebar di sejumlah ruangan. Koleksi tersebut mencakup benda pribadi maupun diorama yang menggambarkan peristiwa sejarah.

Berikut beberapa koleksi yang tercantum dalam dokumentasi resmi Disjarahad:

  • Seragam Jenderal Nasution: koleksi yang berkaitan dengan perjalanan pengabdiannya di lingkungan militer.
  • Diorama penculikan Lettu Czi Pierre A. Tendean: visualisasi salah satu bagian dari rangkaian peristiwa 30 September 1965.
  • Lukisan potret Ade Irma Suryani Nasution: koleksi yang berkaitan dengan putri Nasution yang gugur dalam peristiwa tersebut.
  • Mobil sedan Volvo: salah satu benda yang tercatat dalam daftar koleksi museum.
  • Diorama Sidang MPRS: menggambarkan salah satu peristiwa dalam perjalanan politik dan ketatanegaraan Indonesia.
  • Diorama Bandung Lautan Api: menghadirkan gambaran peristiwa perjuangan mempertahankan kemerdekaan di Bandung.
  • Diorama Hijrah Siliwangi: menampilkan peristiwa perpindahan pasukan Siliwangi yang menjadi bagian dari sejarah perjuangan Indonesia.

Keberadaan koleksi tersebut membuat museum ini memiliki cakupan cerita yang lebih luas daripada sekadar riwayat satu tokoh. Pengunjung dapat melihat bagaimana kehidupan pribadi, pengabdian militer, dan peristiwa sejarah saling berkaitan dalam perjalanan Indonesia.

Koleksi-koleksi itu juga menjadi sarana pembelajaran bagi generasi muda. Sejarah tidak hanya dipahami melalui nama tokoh dan tanggal kejadian, tetapi juga melalui benda serta visualisasi yang membantu memberikan gambaran tentang masa lalu.

Dari kediaman pribadi menjadi ruang edukasi sejarah

Peresmian Museum Jenderal Besar Dr. A.H. Nasution pada 3 Desember 2008 menandai perubahan fungsi bangunan tersebut dari rumah pribadi menjadi tempat penyimpanan dan penyampaian informasi sejarah kepada masyarakat.

Pengelolaan museum berada di lingkungan Dinas Sejarah TNI Angkatan Darat. Dalam perkembangannya, penataan museum juga menjadi perhatian pengelolanya agar koleksi dan kisah sejarah yang disampaikan dapat dipahami pengunjung dengan lebih baik.

Dengan lokasinya di kawasan Menteng, museum ini menjadi salah satu tempat yang dapat dimasukkan dalam agenda wisata sejarah di Jakarta. Pengunjung bisa mengenal sosok A.H. Nasution, melihat koleksi yang berkaitan dengan perjalanan hidupnya, serta memahami peristiwa penting yang pernah terjadi di kediaman tersebut. (deA/aNs)

Gen Z Takeaway

Museum A.H. Nasution bisa menjadi pilihan buat kamu yang ingin mengenal sejarah Indonesia dari tempat yang menyimpan jejak peristiwa secara langsung. Bangunan ini punya cerita panjang, mulai dari riwayat rumahnya, perjalanan pengabdian Nasution, hingga peristiwa 30 September 1965 yang menimbulkan kehilangan bagi keluarganya. Ditambah ribuan koleksi dan diorama sejarah, kunjungan ke museum ini bisa menjadi cara untuk memahami masa lalu dengan lebih dekat. 

Museum Museum Sejarah Jakarta Museum Sasmitaloka Jenderal Besar DR. A.H. Nasution A.H. Nasution Ade Irma Suryani Nasution Pierre A. Tendean Peristiwa 30 September G30S G30S PKI

Infografis

Terkini