TNI AL Perkuat Kesiapan Operasi Laut, Dua Kapal Perang Jalani Latihan Taktis

Penulis: Alfian Tegar
Editor: Henni Rachma Sari
Minggu, 25 Oktober 2026 | 04:04 WIB
TNI AL Perkuat Kesiapan Operasi Laut, Dua Kapal Perang Jalani Latihan Taktis
TNI AL menggelar latihan taktis antarunsur Koarmada II dalam rangka Operasi Rajawali Cakra-26 Tahun 2026 di Selat Makassar, Sabtu (24/10/2026). [Dok. Penerangan Kodaeral VI]

astakom.com, Jakarta — TNI Angkatan Laut (TNI AL) meningkatkan kemampuan dan kesiapan prajurit melalui latihan taktis yang melibatkan sejumlah unsur Komando Armada II (Koarmada II). Kegiatan ini merupakan bagian dari Operasi Rajawali Cakra-26 Tahun 2026 yang berlangsung di Selat Makassar.

Pangkoarmada II Laksamana Muda TNI I Gung Putu Alit Jaya, selaku pimpinan latihan taktis di Makassar, Sabtu (24/10/2026), menegaskan bahwa latihan perlu dilakukan secara terarah dan berkesinambungan. Upaya ini ditujukan untuk membentuk prajurit yang profesional, tangguh, dan mampu merespons berbagai tantangan operasi laut.

“Latihan ini harus menjadi sarana untuk meningkatkan kemampuan teknis dan taktis, memperkuat koordinasi antarkapal, serta memastikan setiap unsur memiliki kesiapan operasional yang optimal dalam melaksanakan tugas TNI Angkatan Laut,” ujarnya.

Latihan yang berlangsung di Perairan Laut Jawa dan Selat Makassar tersebut melibatkan kapal-kapal di bawah kendali operasi Guskamla Koarmada III. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya TNI AL untuk mematangkan kemampuan personel sekaligus memastikan kesiapan kapal dalam menghadapi beragam situasi di laut.

KRI Tarakan-905 dan KRI Teluk Banten-516 uji kemampuan

Dua kapal yang mengikuti latihan ini adalah KRI Tarakan-905 dari Satuan Kapal Bantu (Satban) Koarmada II dan KRI Teluk Banten-516 dari Satuan Kapal Amfibi (Satfib) Koarmada II. Keduanya berstatus unsur bawah kendali operasi (BKO) Guskamla Koarmada III.

Dalam latihan tersebut, kedua kapal menjalani beberapa skenario untuk menguji keterampilan teknis, penerapan taktik, serta kemampuan berkoordinasi saat menjalankan misi laut.

Materi latihan meliputi replenishment at sea (RAS), yakni pengisian atau pembekalan kebutuhan kapal di laut. Prajurit juga berlatih flaghoist, yaitu komunikasi dengan isyarat bendera, serta flashex untuk menyampaikan pesan menggunakan isyarat lampu.

Selain itu, terdapat tactical maneuver yang melatih kemampuan kapal melakukan pergerakan taktis secara terkoordinasi.

"Seluruh rangkaian dirancang untuk meningkatkan ketepatan komunikasi, kemampuan bernavigasi, dan keselarasan tindakan antarunsur dalam berbagai situasi operasi," katanya.

Fokus pada koordinasi dan kesiapan material tempur

Latihan antarunsur setingkat L-3 ini sekaligus menjadi implementasi arahan pimpinan TNI AL dalam meningkatkan kemampuan satuan. Dansatban Koarmada II Kolonel Laut (P) Aria Candrayuda M. Arifin menyoroti pentingnya keterampilan prajurit yang didukung kesiapan material tempur.

"Melalui latihan terpadu, setiap unsur diharapkan mampu melaksanakan prosedur operasi secara disiplin, efektif, dan terukur," tutur dia.

Aria menjelaskan, Operasi Rajawali Cakra-26 Tahun 2026 diarahkan untuk memperkuat interoperabilitas atau kemampuan antarkapal dalam bekerja bersama. Penguatan komunikasi dan koordinasi ini diharapkan mendukung pelaksanaan tugas pengamanan laut secara optimal.

"Profesionalisme prajurit dan kesiapan unsur menjadi modal penting dalam menjaga kepentingan nasional serta memperkuat kehadiran TNI Angkatan Laut di wilayah perairan strategis Indonesia," ucapnya. (aLf/RaM)

Gen Z Takeaway

TNI AL memperkuat kesiapan operasional prajurit melalui Operasi Rajawali Cakra-26 Tahun 2026 yang melibatkan KRI Tarakan-905 dan KRI Teluk Banten-516. Latihan ini mengasah kemampuan teknis, navigasi, komunikasi, dan manuver taktis antarkapal untuk meningkatkan koordinasi serta mendukung pengamanan wilayah perairan strategis Indonesia.

TNI TNI AL TNI Angkatan Laut

Infografis

Terkini