DEN Spill Sumber Divisa RI! Hilirisasi, Ekspor Nikel hingga Baterai Dibidik Cuan USD50 Miliar

Penulis: Shintya
Editor: Henni Rachma Sari
Rabu, 21 Oktober 2026 | 18:02 WIB
DEN Spill Sumber Divisa RI! Hilirisasi, Ekspor Nikel hingga Baterai Dibidik Cuan USD50 Miliar
DEN Spill Sumber Divisa RI! Hilirisasi, Ekspor Nikel hingga Baterai Dibidik Cuan USD50 Miliar [Timpres]

astakom.com, Jakarta - Program dan proyek hilirisasi yang terus digaspol pemerintah Perkembangan hilirisasi Indonesia terus menunjukkan penguatan dan tidak lagi bertumpu pada nikel.

Dalam pertemuan sama Presiden Prabowo Subianto dengan Dewan Ekonomi Nasional (DEN) di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa, 20 Oktober 2026, DEN blak-blakan pertumbuhan hilirisasi aluminium dan komponen baterai litium yang menyokong nilai ekspor produk hilirisasi diproyeksikan mencapai nilai USD50 miliar pada akhir tahun ini.

Sekretaris Eksekutif DEN Septian Hario Seto ngespill hasil kajian terbaru DEN nunjukkin hilirisasi berkembang makin luas. Selain nikel, pertumbuhan signifikan juga terjadi pada aluminium dan komponen baterai litium.

“Yang pertama adalah terkait dengan hilirisasi. Tadi kami juga menyampaikan kepada Bapak Presiden (Prabowo), kajian hilirisasi terakhir yang dilakukan oleh Dewan Ekonomi Nasional, di mana sekarang yang terjadi bukan hanya hilirisasi nikel yang terjadi secara masif di Indonesia, tapi ada dua komponen hilirisasi lain yang juga berkembang cukup pesat,” kata Seto dalam keterangannya, dikutip astakom.com pada Rabu (21/10/2026).

Industri aluminium berkembang pesat

Dari produk hilirisasi, industri aluminium jadi komoditas yang perkembangan paling tinggi. DEN menaksir nilai ekspor produk aluminium pada 2026 mencapai sekitar USD7,2 miliar, meningkat tajam dibandingkan capaian nilai ekspor tahun 2024, yakni sekitar USD3,5 miliar.

Nggak cuma aluminium, Indonesia juga lagi ngegaspol rantai pasok industri baterai litium. Seto bilang kalau Indonesia sekarang udah memproduksi berbagai komponen baterai kayak anoda dan katoda. Bahkan gongnya lagi, Indonesia serius upgrade sektor ini,  ditandai dengan kepemilikan fasilitas pemurnian litium. Meskipun Indonesia nggak punya sumber daya litium di dalam negeri.

“Artinya Indonesia sudah bisa melakukan industrialisasi dari sumber daya alam yang kita tidak miliki. Tapi industrialisasi ini merupakan bagian dari ekosistem tadi yang lebih lengkap,” kata Seto.

Nilai ekspor dan hilirsasi melonjak

DEN memperkirakan dari perkembangan itu total nilai ekspor dari hilirisasi nikel, aluminium, dan komponen baterai litium akan mencapai sekitar USD50 miliar sampe akhir 2026. Angka tersebut melonjak hampir 45 persen dibandingkan sama nilai ekspor produk hilirisasi pada 2024 yang tercatat sekitar USD34,5 miliar.

Seto menilai peningkatan lonjakan itu menjadi tambahan sumber devisa yang krusial buat Indonesia. Ke depan, DEN menaksir nilai ekspor aluminium masih bisa terus meningkat sampe melampaui USD10 miliar seiring bertambahnya investasi di smelter aluminium baru di Indonesia.

“Jadi ini juga akan menjadi sumber tambahan devisa yang sangat baik buat Indonesia. Ke depannya kita perkirakan untuk aluminium ini ekspornya bisa melebihi sekitar 10 miliar dolar seiring dengan penambahan investasi dari smelter-smelter aluminium yang baru di Indonesia,” katanya.

Mulai mengarah ke sektor pertanian

Ketua DEN Luhut Binsar Pandjaitan bilang kalau agenda hilirisasi pemerintah juga mulai diarahkan ke sektor pertanian. DEN sekarang lagi siapin pengembangan hilirisasi komoditas kratom dan kemenyan, yang rencananya bakal disuppurt lewat pusat riset genom sequencing di Toba.

“Sekarang era Presiden Prabowo ada dari pertanian yaitu hilirisasi kratom, hilirisasi tadi kemenyan,” kata Luhut.

Inovasi dan strategi pemerintah untuk menaikkan nilai ekpor pada komoditas nikel, aluminium hingga kelompok produk pertanian bakal terus digaspol seiring dengan program hilirisasi yang terus memberikan capaian baru dan baik buat pertumbuhan ekonomi RI. (Shnty/RaM)

Gen Z Takeaway

Hilirisasi Indonesia makin berkembang dan nggak lagi cuma mengandalkan nikel. DEN memproyeksikan ekspor produk hilirisasi nikel, aluminium, dan komponen baterai litium mencapai USD50 miliar pada akhir 2026, naik hampir 45% dibandingkan 2024. Ke depananya, pemerintah juga membidik ekspor aluminium menembus USD10 miliar serta mulai memperluas hilirisasi ke sektor pertanian, termasuk kratom dan kemenyan. Strategi ini jadi peluang buat memperkuat devisa sekaligus meningkatkan nilai tambah komoditas Indonesia.

DEN Proyek Hilirisasi ekspor nikel Dewan Ekonomi Nasional

Infografis

Terkini