Yuk Cari Tahu, Ini Kandungan Bahan OMC yang Di-spill BMKG
astakom.com, Jakarta – Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) kerap bikin penasaran, terutama soal bahan yang digunakan saat proses penyemaian awan. Bukan sekadar istilah teknis, material tersebut menjadi bagian dari proses untuk memengaruhi pembentukan dan pertumbuhan butir air di dalam awan.
Pertanyaan soal keamanan air hujan hasil OMC juga sempat beredar di media sosial. Ada anggapan bahwa bahan semai yang digunakan dapat membuat air hujan tercemar dan tidak aman dimanfaatkan masyarakat.
Melansir dari keterangan resmi BMKG yang dilansir pada Minggu (27/09/2026), bahan yang umum digunakan dalam OMC antara lain natrium klorida (NaCl), kalium klorida (KCl), dan kapur tohor. Penggunaannya disesuaikan dengan metode penyemaian yang diterapkan.
NaCl hingga kapur tohor
Salah satu bahan yang digunakan dalam OMC adalah natrium klorida atau NaCl. Material ini berfungsi sebagai bahan semai untuk membantu proses pembentukan dan pertumbuhan butir air di dalam awan.
Secara prinsip, karakteristik NaCl yang digunakan dalam penyemaian mirip dengan garam dapur. Meski begitu, terdapat perbedaan pada tingkat kemurnian dan ukuran partikelnya yang disesuaikan dengan kebutuhan operasi.
Selain NaCl, bahan yang umum digunakan dalam OMC mencakup kalium klorida (KCl) dan kapur tohor. Penggunaannya dapat berbeda sesuai metode penyemaian yang diterapkan dalam masing-masing operasi.
Kepala BMKG Prof. Ir. Teuku Faisal Fathani, Ph.D. menegaskan bahwa bahan yang digunakan dalam OMC telah melalui kajian ilmiah dan tidak terbukti menimbulkan dampak lingkungan yang signifikan.
“Bahan yang digunakan dalam Operasi Modifikasi Cuaca telah melalui berbagai kajian ilmiah dan terbukti tidak menimbulkan dampak lingkungan yang signifikan,” tegas Teuku Faisal Fathani.
Bahan-bahan tersebut telah digunakan dalam berbagai pelaksanaan OMC di Indonesia. Operasinya dilakukan untuk sejumlah kebutuhan, mulai dari penanganan bencana hidrometeorologi, pencegahan kebakaran hutan dan lahan, hingga mendukung penambahan cadangan air di waduk maupun bendungan.
OMC bukan bikin hujan
OMC juga tidak bekerja dengan cara menciptakan hujan dari udara kosong. Penyemaian dilakukan dengan memanfaatkan awan yang sudah tersedia dan memiliki potensi untuk menghasilkan hujan.
Intervensi dilakukan pada proses fisis di dalam awan dengan tujuan memengaruhi proses turunnya hujan. Karena itu, keberadaan bahan semai saja tidak otomatis membuat setiap awan menghasilkan hujan.
Direktur Operasi Modifikasi Cuaca BMKG Budi Harsoyo menjelaskan bahwa OMC bekerja dengan memanfaatkan proses alami yang sudah berlangsung di atmosfer.
“Modifikasi cuaca tidak membentuk hujan dari nol. Awan dan hujan sudah ada secara alami. Kami hanya memengaruhi proses fisis di dalam awan agar hujan turun lebih cepat atau intensitasnya tidak terlalu besar,” jelas Budi Harsoyo.
Kondisi atmosfer serta ketersediaan awan tetap menjadi faktor penting dalam menentukan pelaksanaan OMC. Operasi ini pun diterapkan untuk kebutuhan yang berbeda di sejumlah wilayah, termasuk penanganan karhutla, pengisian waduk, dan penanganan polusi udara.
Air hujan dipengaruhi lingkungan
Lalu, apakah air hujan hasil OMC otomatis berbahaya?
Pemantauan dan evaluasi terhadap pelaksanaan OMC tidak menunjukkan adanya penurunan kualitas air secara signifikan akibat penggunaan bahan semai. Namun, kondisi air hujan tetap dapat dipengaruhi berbagai faktor lingkungan yang berada di atmosfer.
Ketika terjadi kebakaran hutan dan lahan, misalnya, udara dapat mengandung debu, asap, jelaga, serta partikulat halus dari proses pembakaran. Partikel tersebut dapat ikut terbawa oleh tetesan air hujan, terutama saat hujan awal turun setelah periode udara tercemar.
Karena itu, air hujan yang terlihat keruh atau kotor tidak bisa langsung dianggap sebagai akibat bahan OMC. Kondisi atmosfer di sekitar wilayah hujan juga perlu diperhitungkan.
Untuk pemanfaatan air hujan sebagai kebutuhan rumah tangga, pengendapan dan penyaringan tetap disarankan, terutama ketika kondisi lingkungan sedang berpotensi tercemar. (deA/aNs)
Gen Z Takeaway
OMC memang menggunakan bahan semai seperti NaCl, KCl, dan kapur tohor. Namun, air hujan tidak otomatis menjadi berbahaya karena OMC. Kondisi lingkungan seperti debu, asap, dan partikulat juga dapat memengaruhi kualitas air hujan.









