Kabut Asap Pekat Ancam Anak-Anak: Puluhan Ribu Balita Terdampak ISPA di 7 Provinsi
astakom.com, Jakarta – Situasi udara di sejumlah wilayah Indonesia lagi nggak bagus. Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang makin meluas bikin kabut asap pekat mengepung permukiman. Dampak buruknya langsung kerasa ke kesehatan warga, terutama kelompok rentan seperti balita yang kena gempuran Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
Status udara red flag
Berdasarkan pembaruan data resmi, ancaman polusi akibat Karhutla ini makin menunjukkan kondisi red flag bagi kesehatan masyarakat di tujuh provinsi terdampak, yakni Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Jambi, Riau, dan Sumatera Selatan.
Puluhan ribu balita kena
Juru Bicara Kementerian Kesehatan, Widyawati, mengungkapkan bahwa paparan asap pekat ini memicu lonjakan kasus ISPA secara signifikan, dengan proporsi kasus pada kelompok balita yang sangat mengkhawatirkan.
"Terdapat laporan kasus 113.336 total kumulatif kasus ISPA. Kemudian kasus ISPA tertanggal 9 September 2026 ada 4.080. Kemudian kasus ISPA terbagi dalam usia 0 sampai 5 tahun dan juga lebih dari 5 tahun. Untuk 0 sampai 5 tahun terdapat 26.545 dan untuk lebih dari 5 tahun terdapat 86.791. Jumlah wilayah terdampak adalah 7 provinsi dan 63 kabupaten kota," ujar Widyawati dalam Konferensi pers daring di YouTube BNPB, Kamis, (10/9/2026).
Kondisi kualitas udara di beberapa titik bahkan sudah masuk kategori berbahaya (ditandai dengan warna hitam pada indikator ISPU), seperti di Kabupaten Kotawaringin Timur hingga Kabupaten Murung Raya, serta kategori sangat tidak sehat (warna merah) di Sintang hingga Tebo.
Di sisi lain, tim gabungan terus effort habis-habisan di lapangan untuk menjinakkan titik api, terutama di area gambut yang pembakarannya terjadi di bawah permukaan tanah.
Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton Panjaitan, menjelaskan kalau pemadaman dilakukan secara intensif lewat jalur darat maupun udara, termasuk menggunakan teknologi modifikasi cuaca (OMC) dan pengerahan puluhan ribu personel.
"Secara total luas lahan yang berhasil dipadamkan kemarin 9 September 2026 sebesar 421 hektar lebih. Dan ini tentu kerja keras dari tim Satgas Darat maupun Satgas Udara di mana tim ini telah bekerja secara luar biasa... tim darat itu sebesar 43.051 orang," jelas Berton.
Effort bantuan antar-bangsa
Untuk mempercepat penanganan di area kritis seperti Kalimantan Barat, bantuan logistik dan armada angkut berat dari internasional juga mulai disiagakan.
"Kami menyampaikan adanya bantuan Jepang yang akan datang ke Indonesia... membawa peralatan 3 unit helikopter angkut berat jenis Chinook. Jumlah personel yang ada bersama armada ini adalah 180 sampai 300 personel... Adapun lama tugas mereka membantu kita di jadwal akan berlangsung selama 21 hari," tambah Berton.
Self-care wajib asap
Melihat kualitas udara yang masih jauh dari kata aman, pihak Kemenkes dan BNPB mengimbau masyarakat untuk tidak menganggap remeh kondisi ini. Penggunaan masker saat beraktivitas di luar ruangan serta pemantauan kualitas udara secara berkala menjadi hal wajib agar tidak memperburuk risiko kesehatan.
"Jaga kesehatan, kenakan masker pada saat berada di luar ruangan. Pantau indeks kualitas udara. Perbanyak minum air putih, kunjungi Fasiankes bila muncul sesak di masyarakat," tutup Widyawati. (nAD/aNs)
Gen Z Takeaway
Ancamannya riil dan makin no-filter, kabut asap karhutla ini bukan sekadar bikin langit kabur tapi udah bikin tensi kesehatan masuk taraf red flag, terutama buat balita yang rentan banget kena ISPA. Tim gabungan sampai butuh bantuan helikopter armada luar negeri buat effort padamkan api, jadi buat kita yang berada di area terdampak, stay safe itu hukumnya wajib: selalu check indikator ISPU, fit check masker tiap mau keluar, dan jaga hidrasi biar imun enggak gampang drop.









