Gunung Anak Krakatau Masih Siaga, 14 Kali Erupsi Strombolian Tercatat

Editor: Henni Rachma Sari
Jumat, 11 September 2026 | 16:15 WIB
Gunung Anak Krakatau Masih Siaga, 14 Kali Erupsi Strombolian Tercatat
KRI Lepu-861 yang tergabung dalam Operasi Gada Wira BKO Danguspurla Koarmada I melaksankan pemantauan aktivitas Gunung Anak Krakatau di Perairan Selat Sunda, Rabu (09/09/2026). [Koarmada I]

astakom.com, Jakarta — Aktivitas Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda masih belum sepenuhnya mereda. Hingga Jumat (11/9) pukul 06.00 WIB, gunung api tersebut masih berstatus Level III (Siaga).

Berdasarkan analisis Badan Geologi, erupsi menerus yang berlangsung sejak Jumat (4/9) pukul 23.07 WIB telah berakhir pada Minggu (6/9) pukul 00.04 WIB. Erupsi tersebut berlangsung sekitar 25 jam.

Meski erupsi menerus sudah berakhir, aktivitas Gunung Anak Krakatau masih berlanjut. Hingga Jumat (11/9) pukul 06.00 WIB, tercatat 14 kali erupsi Strombolian.

Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan menjelaskan, erupsi menerus dan erupsi Strombolian merupakan dua bentuk aktivitas yang berbeda.

“Erupsi menerus merupakan aktivitas erupsi yang berlangsung secara berkesinambungan dalam periode waktu yang panjang. Sementara itu, erupsi Strombolian terjadi secara episodik dalam bentuk letusan-letusan yang terpisah,” kata Berton.

Dengan kondisi tersebut, berakhirnya erupsi menerus bukan berarti seluruh aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau berhenti. Saat ini, aktivitas masih berlangsung dalam bentuk letusan Strombolian.

Dari sisi kegempaan, gempa vulkanik yang berkaitan dengan aktivitas vulkanik dangkal, yakni gempa Low Frequencydan Hybrid/Fase Banyak, masih berfluktuasi dengan kecenderungan menurun sejak erupsi menerus berakhir.

Namun, gempa yang berkaitan dengan aktivitas vulkanik dalam justru cenderung meningkat. Kondisi tersebut menjadi indikasi adanya suplai magma dari kedalaman.

“Dinamika vulkanisme Gunung Anak Krakatau masih terus dipantau. Badan Geologi menilai probabilitas terjadinya letusan dalam beberapa periode waktu selanjutnya masih tinggi,” ujar Berton.

Pada periode pengamatan 10–11 September 2026, Gunung Anak Krakatau teramati dari kondisi jelas hingga tertutup kabut. Pengamatan visual menunjukkan adanya erupsi, tetapi tinggi kolom erupsi tidak teramati.

Dalam periode tersebut tercatat satu kali gempa erupsi, 21 kali gempa Low Frequency, 13 kali gempa Hybrid/Fase Banyak, tremor menerus, 28 kali gempa Vulkanik Dangkal, dan 18 kali gempa Vulkanik Dalam.

Potensi bahaya yang masih perlu diwaspadai berupa lontaran batu pijar disertai hujan abu lebat. Selain itu, terdapat potensi aliran lava apabila erupsi menerus kembali terjadi.

Karena itu, masyarakat, pengunjung, dan wisatawan tidak diperbolehkan memasuki atau melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas Gunung Anak Krakatau.

BNPB juga mengimbau masyarakat yang terdampak abu vulkanik untuk mengurangi aktivitas di luar rumah atau menggunakan masker saat berada di luar untuk menghindari gangguan pernapasan.

Masyarakat di wilayah pantai Banten dan Lampung juga diminta tetap tenang dan tidak mempercayai informasi soal erupsi Gunung Anak Krakatau yang dikaitkan dengan potensi tsunami apabila tidak berasal dari kanal resmi. (RaM)

Gen Z Takeaway

Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda masih berstatus Level III (Siaga) hingga Jumat (11/9). Meski erupsi menerus yang berlangsung sekitar 25 jam pada 4–6 September sudah berakhir, aktivitas gunung masih berlanjut dengan 14 kali erupsi Strombolian hingga pukul 06.00 WIB. Aktivitas gempa vulkanik dangkal cenderung menurun, tetapi gempa vulkanik dalam justru meningkat yang mengindikasikan masih adanya suplai magma dari kedalaman.

erupsi gunung anak krakatau BNPB gunung anak krakatau

Infografis

Terkini