Apa Itu BRICS? Sejarah, Tujuan, Daftar Negara Anggota dan Alasan Indonesia Bergabung

Penulis: Hapsari
Editor: Henni Rachma Sari
Jumat, 11 September 2026 | 22:08 WIB
Apa Itu BRICS? Sejarah, Tujuan, Daftar Negara Anggota dan Alasan Indonesia Bergabung
India menjadi tuan rumah Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS ke-18 di Bharat Mandapam, New Delhi pada 12–13 September 2026 di bawah tema "Building for Resilience, Innovation, Cooperation and Sustainability". [Brics 2026]

astakom.com, Jakarta - BRICS lagi jadi highlight nih di kancah dunia. Bukan cuma karena kelompok negara ini semakin besar, tetapi juga karena Indonesia sekarang jadi salah satu anggota penuhnya.

Pada September 2026, para pemimpin negara anggota BRICS dijadwalkan berkumpul di New Delhi, India, untuk mengikuti KTT BRICS ke-18 pada 12–13 September 2026. Pertemuan ini berlangsung di tengah situasi global yang sedang bergejolak, mulai dari konflik geopolitik, ketegangan perdagangan, keamanan energi, sampai pembahasan sistem pembayaran lintas negara.

Indonesia pun punya posisi penting dalam forum itu. Sebagai anggota penuh sejak Januari 2025, Indonesia tidak lagi sekadar jadi negara yang mengamati dari luar. Indonesia sekarang ikut terjun ke dalam, duduk di meja bareng dengan Brasil, Rusia, India, China, Afrika Selatan, serta negara-negara anggota baru lainnya.

Terus, apa sih sebenarnya BRICS? Kenapa kelompok ini dianggap penting? Dan apa alasan Indonesia memilih bergabung?

Lebih kenal dengan BRICS

BRICS adalah forum kerja sama antarpemerintah yang mempertemukan sejumlah negara dengan kekuatan ekonomi dan pengaruh besar di kawasan Global South.

Nama BRICS pada awalnya merupakan akronim dari lima negara, yaitu Brazil atau Brasil, Russia atau Rusia, India, China, dan South Africa atau Afrika Selatan. Tapi seiring berjalannya waktu, BRICS sudah berkembang jauh dari kelompok lima negara tersebut.

Setelah melakukan ekspansi, BRICS kini terdiri dari 11 negara anggota, yakni Brasil, Rusia, India, China, Afrika Selatan, Mesir, Ethiopia, Iran, Indonesia, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab. Pemerintah Brasil sebagai ketua BRICS 2025 mencatat keenam negara baru tersebut sebagai anggota yang diterima dalam ekspansi 2024–2025.

Yang bikin kaget, Indonesia ternyata jadi negara Asia Tenggara pertama yang masuk sebagai anggota penuh BRICS. Hal ini bikin posisi Indonesia cukup menarik. Di satu sisi, Indonesia merupakan bagian dari ASEAN dan memiliki hubungan ekonomi dengan Amerika Serikat, Jepang, Uni Eropa, Australia hingga Korea Selatan. Tapi di sisi lain, Indonesia juga kini menjadi bagian dari forum yang memiliki China, Rusia, India, Brasil dan negara-negara Global South lainnya.

Jadi, kalau ada anggapan bahwa masuk BRICS otomatis membuat Indonesia masuk ke "blok China-Rusia", ceritanya tidak sesederhana itu. BRICS bukan aliansi militer seperti NATO. BRICS juga bukan Uni Eropa yang memiliki sistem integrasi politik dan ekonomi seperti negara-negara Eropa.

BRICS lebih tepat dipahami sebagai forum kerja sama strategis yang membahas ekonomi, perdagangan, investasi, pembangunan, teknologi, keuangan dan berbagai isu global.

Sejarah adanya BRICS

Menariknya, BRICS sebenarnya tidak langsung lahir sebagai organisasi internasional. Istilah BRIC pertama kali muncul pada 2001. Ekonom Goldman Sachs, Jim O'Neill, menggunakan istilah tersebut untuk menggambarkan Brasil, Rusia, India dan China sebagai negara-negara emerging economies yang diperkirakan mempunyai peran besar terhadap pertumbuhan ekonomi dunia.

Saat itu belum ada organisasi bernama BRIC. Istilah itu awalnya dijadikan konsep ekonomi buat menggambarkan potensi empat negara yang memiliki populasi besar, sumber daya melimpah dan prospek pertumbuhan ekonomi.

Tapi gagasan itu terus berkembang menjadi kerja sama politik dan ekonomi. Para menteri luar negeri BRIC mulai melakukan pertemuan. Setelah itu, para pemimpin Brasil, Rusia, India dan China menggelar pertemuan tingkat tinggi pertama di Yekaterinburg, Rusia, pada 2009. Setahun kemudian, Afrika Selatan bergabung.

Sejak saat itulah nama BRIC berubah menjadi BRICS dengan tambahan huruf "S" dari South Africa. Afrika Selatan mengikuti pertemuan puncak BRICS sebagai anggota penuh pada 2011.

Perkembangan berikutnya terjadi pada 2024. BRICS memperluas keanggotaan dengan masuknya Mesir, Ethiopia, Iran dan Uni Emirat Arab. Arab Saudi juga dicantumkan dalam daftar anggota BRICS oleh berbagai sumber dan pemerintah Brasil, meskipun status formalnya sempat menjadi bahan perdebatan dalam pemberitaan internasional. Kemudian, pada Januari 2025, Indonesia resmi diterima sebagai anggota penuh.

Dengan masuknya Indonesia, BRICS semakin punya bobot di Asia Tenggara. Pemerintah Indonesia menyebut keanggotaan tersebut sebagai langkah strategis untuk meningkatkan peran Indonesia dalam kerja sama negara-negara berkembang dan memperkuat posisi Indonesia dalam tata kelola global.

Daftar negara anggota terbaru

Per September 2026, daftar anggota BRICS yang digunakan dalam berbagai forum resmi dan pemberitaan internasional terdiri dari:

  1. Brasil
  2. Rusia
  3. India
  4. China
  5. Afrika Selatan
  6. Mesir
  7. Ethiopia
  8. Iran
  9. Indonesia
  10. Arab Saudi
  11. Uni Emirat Arab

Selain anggota penuh, BRICS juga mempunyai kategori negara mitra yang membuat jangkauan kelompok ini semakin luas. Ekspansi ini menunjukkan bahwa BRICS tidak lagi hanya menjadi forum lima negara berkembang. Kini kelompok ini memiliki anggota dari Asia, Afrika, Timur Tengah dan Amerika Latin.

Dengan cakupan tersebut, BRICS mempunyai pengaruh yang cukup besar terhadap perdagangan, energi, komoditas, investasi dan perekonomian dunia.

Apa tujuan BRICS?

Tujuan BRICS bukan cuma membuat klub negara-negara besar. Tapi ada sejumlah agenda yang ingin diperkuat.

  • Pertama adalah meningkatkan kerja sama ekonomi. Negara-negara anggota ingin memperbesar perdagangan dan investasi di antara mereka. Ini penting karena anggota BRICS mempunyai sumber daya dan kebutuhan ekonomi yang berbeda. China memiliki basis manufaktur besar. India memiliki pasar dan industri teknologi yang berkembang. Rusia merupakan pemain besar di sektor energi dan komoditas. Brasil kuat dalam pertanian dan komoditas. Sementara Indonesia memiliki sumber daya alam, pasar domestik besar serta industri yang sedang didorong melalui hilirisasi.
  • Kedua, BRICS ingin memperkuat suara negara-negara Global South dalam tata kelola dunia. Selama ini, lembaga ekonomi dan politik internasional seperti IMF, Bank Dunia dan berbagai forum global dianggap masih banyak dipengaruhi negara-negara maju. BRICS ingin negara berkembang mendapatkan ruang yang lebih besar dalam menentukan kebijakan global.
  • Ketiga, adalah memperkuat kerja sama pembangunan. BRICS memiliki New Development Bank atau NDB yang bermarkas di Shanghai. Bank tersebut menjadi salah satu instrumen untuk mendukung pembiayaan proyek pembangunan di negara-negara anggota dan negara berkembang.
  • Keempat, adalah meningkatkan kerja sama teknologi, kesehatan, energi, pangan dan berbagai sektor strategis lainnya. Agenda BRICS 2026 juga semakin melebar. India sebagai ketua BRICS tahun ini mendorong pembahasan mengenai perdagangan dan investasi, teknologi, keamanan pangan dan energi, kesehatan, ketahanan bencana serta rantai pasok global.

Kenapa Indonesia bergabung dengan BRICS?

Keputusan Indonesia bergabung dengan BRICS tentu bukan tanpa alasan. Salah satu pertimbangannya adalah peluang ekonomi. Indonesia membutuhkan pasar yang besar untuk produk-produknya. Di sisi lain, Indonesia juga membutuhkan investasi dan teknologi untuk mempercepat industrialisasi. Masuk BRICS memberikan Indonesia satu lagi forum untuk memperluas hubungan ekonomi.

Contohnya bisa dilihat dari agenda hilirisasi. Indonesia tidak ingin terus-terusan menjual bahan mentah seperti bijih mineral. Pemerintah ingin komoditas tersebut diproses di dalam negeri sehingga memiliki nilai tambah.

Nikel, misalnya, bukan hanya diharapkan berhenti sebagai komoditas tambang. Pemerintah ingin mendorongnya masuk ke rantai industri baterai dan kendaraan listrik. Untuk mewujudkan hal tersebut, Indonesia membutuhkan modal, teknologi, pasar dan mitra industri.

BRICS bisa menjadi salah satu ruang untuk membuka peluang tersebut. Selain itu, keanggotaan BRICS dapat memperluas jaringan perdagangan Indonesia dengan negara-negara yang memiliki pasar sangat besar.

Posisi Indonesia di dunia

Ada satu hal menarik dari keputusan Indonesia bergabung dengan BRICS. Indonesia selama ini menjalankan politik luar negeri bebas aktif, artinya Indonesia tidak ingin secara otomatis menjadi bagian dari satu blok kekuatan tertentu.

Karena itu, bergabung dengan BRICS tidak berarti Indonesia harus meninggalkan hubungan dengan negara Barat. Indonesia tetap memiliki hubungan ekonomi dan diplomatik dengan Amerika Serikat, Jepang, Uni Eropa, Australia dan berbagai negara lainnya. Justru posisi Indonesia bisa dilihat sebagai upaya memperbanyak pilihan.

Kalau dibuat sederhana, strateginya kurang lebih seperti ini, "Jangan cuma punya satu pintu." Artinya, Indonesia bisa bekerja sama dengan BRICS, tetapi tetap aktif di ASEAN, G20, APEC dan berbagai forum internasional lainnya.

Pendekatan semacam ini juga sering disebut sebagai multi-alignment, yaitu membangun hubungan dengan berbagai kekuatan sekaligus berdasarkan kepentingan nasional.

Apa hubungan BRICS dengan Dolar AS?

Nah, ini salah satu topik BRICS yang paling sering bikin heboh. Ada banyak narasi bahwa BRICS ingin membuat mata uang baru untuk menggantikan dolar Amerika Serikat.

Faktanya jauh lebih kompleks. Memang ada pembahasan di BRICS mengenai penggunaan mata uang lokal dan sistem pembayaran alternatif untuk transaksi antarnegara. Tujuannya adalah membuat perdagangan lintas negara lebih mudah dan mengurangi ketergantungan terhadap satu sistem pembayaran.

Tapi sampai sekarang tidak berarti BRICS sudah memiliki mata uang bersama seperti euro. Bahkan perkembangan terbaru menunjukkan pendekatan BRICS lebih realistis pada peningkatan interoperabilitas sistem pembayaran dan penggunaan mata uang lokal.

India, yang menjadi ketua BRICS 2026, mendorong gagasan menghubungkan mata uang digital bank sentral atau CBDC antarnegara BRICS untuk mempermudah pembayaran lintas negara.

Reuters melaporkan bahwa gagasan tersebut akan dibahas menjelang KTT BRICS di New Delhi pada 12–13 September 2026. Namun, proyek tersebut menghadapi tantangan teknis dan politik, termasuk perbedaan sistem keuangan dan hubungan antarnegara anggota.

Bahkan India disebut tidak memiliki agenda untuk menggantikan dolar sebagai mata uang cadangan dunia. Fokusnya lebih kepada membuat transaksi lintas negara menjadi lebih cepat dan mudah.

Jadi, judul "BRICS akan menggulingkan dolar" jelas terlalu menyederhanakan persoalan. Bahkan Rusia pada September 2026 juga menyatakan tidak sedang mengejar agenda de-dollarisation secara khusus dan terbuka terhadap berbagai metode pembayaran yang dapat diterima.

keuntungan bagi Indonesia

Ada beberapa peluang yang bisa dimanfaatkan Indonesia.

  1. Pasar ekspor menjadi lebih luas. Indonesia mempunyai berbagai produk unggulan seperti sawit, batu bara, produk pertanian, perikanan, mineral, produk manufaktur dan berbagai komoditas lainnya.
  2. Peluang investasi. Indonesia membutuhkan investasi besar untuk pembangunan infrastruktur, energi, industri, teknologi dan hilirisasi.
  3. Akses kerja sama teknologi. Kerja sama dengan negara-negara BRICS dapat membuka peluang pertukaran teknologi, termasuk pada sektor digital, energi dan manufaktur.
  4. Posisi diplomasi Indonesia menjadi semakin kuat. Indonesia bisa menyuarakan kepentingan negara berkembang melalui lebih banyak forum internasional.
  5. Indonesia mempunyai peluang ikut membentuk sistem perdagangan dan pembayaran internasional yang lebih beragam.

Namun, semua itu tetap bergantung pada kemampuan Indonesia memanfaatkan keanggotaan tersebut. Masuk organisasi bukan berarti investasi otomatis masuk atau ekspor otomatis melonjak. Tetap dibutuhkan negosiasi, kebijakan perdagangan, kesiapan industri dan kemampuan pemerintah membaca peluang.

Tantangan Indonesia bergabung dengan BRICS

Di balik peluang, ada pula tantangan. Salah satunya adalah perbedaan kepentingan antaranggota. BRICS sekarang sangat besar, tetapi justru karena anggotanya semakin banyak, kepentingannya semakin beragam.

China memiliki kepentingan yang berbeda dengan India. India mempunyai hubungan strategis dengan Amerika Serikat sekaligus tetap menjaga hubungan dengan Rusia. Brasil memiliki agenda ekonomi sendiri. Negara-negara Timur Tengah juga mempunyai kepentingan geopolitik masing-masing.

Ketegangan antaranggota juga menjadi tantangan. KTT BRICS 2026 berlangsung ketika konflik di Timur Tengah kembali menguji solidaritas kelompok tersebut. Hubungan Iran dan Uni Emirat Arab, misalnya, ikut terdampak situasi geopolitik kawasan.

Artinya, menyatukan 11 negara dalam satu suara tidak gampang. Tantangan lainnya adalah Indonesia harus menjaga keseimbangan hubungan dengan Amerika Serikat dan negara-negara Barat.

Indonesia memiliki kepentingan ekonomi yang sangat besar dengan negara-negara tersebut. Karena itu, kebijakan luar negeri Indonesia harus tetap fleksibel. BRICS seharusnya menjadi tambahan pilihan, bukan menggantikan seluruh mitra yang sudah dimiliki Indonesia.

Bagaimana posisi Prabowo terhadap BRICS?

Keanggotaan Indonesia di BRICS tidak bisa dilepaskan dari arah kebijakan luar negeri Presiden Prabowo Subianto. Indonesia resmi menjadi anggota penuh pada Januari 2025, hanya beberapa bulan setelah Prabowo menjabat sebagai Presiden.

Keputusan tersebut menjadi salah satu langkah penting pada awal pemerintahan Prabowo dalam memperkuat keterlibatan Indonesia di forum Global South. Pemerintah melihat BRICS sebagai wadah untuk memperkuat kerja sama ekonomi sekaligus memperbesar peran Indonesia dalam isu global.

Namun, posisi Indonesia tetap tidak diarahkan untuk menjadi bagian dari blok tertentu. Ini penting karena Indonesia mempunyai prinsip politik luar negeri bebas aktif.

Dengan demikian, keikutsertaan Indonesia di BRICS lebih tepat dibaca sebagai strategi memperluas ruang gerak diplomasi dan ekonomi. Indonesia ingin bisa duduk bersama banyak pihak.

Fakta terbaru KTT BRICS 2026

Tahun 2026 menjadi periode penting bagi BRICS karena India memegang posisi sebagai ketua. KTT BRICS ke-18 akan berlangsung di New Delhi pada 12–13 September 2026.

Pertemuan tersebut digelar ketika dunia menghadapi berbagai persoalan, mulai dari perang dan konflik geopolitik, ketegangan Amerika Serikat-China, gangguan rantai pasok, harga energi hingga persoalan perdagangan global.

India mendorong sejumlah agenda, termasuk perdagangan dan investasi, kerja sama teknologi, ketahanan pangan dan energi, kesehatan, ketahanan terhadap bencana serta keamanan rantai pasok.

Salah satu isu yang cukup menarik perhatian adalah rencana memperkuat pembayaran lintas negara menggunakan teknologi digital. India mendorong pembahasan mengenai kemungkinan menghubungkan sistem mata uang digital bank sentral negara-negara BRICS.

Tetapi langkah ini belum mudah diwujudkan karena setiap negara mempunyai sistem keuangan, aturan, kepentingan politik dan tingkat kesiapan teknologi yang berbeda.

KTT tahun ini juga menjadi ujian bagi BRICS setelah ekspansi besar-besaran. Semakin banyak anggota berarti semakin besar pula pengaruhnya. Tetapi pada saat yang sama, semakin sulit pula menyatukan kepentingan.

Karena itu, dunia tidak hanya menunggu apakah BRICS akan mengeluarkan pernyataan politik yang besar, tetapi juga apakah kelompok ini mampu menghasilkan kerja sama konkret di bidang perdagangan, pembayaran, investasi, teknologi dan pembangunan. (hPs/RaM)

Gen Z Takeaway

Kalau diringkas, BRICS bagi Indonesia bukan sekadar soal "gabung klub baru". Ini tentang bagaimana Indonesia mencari ruang lebih besar di tengah perubahan peta kekuatan ekonomi dunia. Indonesia bisa mendapatkan peluang pasar, investasi, teknologi dan kerja sama pembangunan. Di saat yang sama, Indonesia juga mempunyai kesempatan memperkuat suara negara berkembang dalam berbagai forum internasional. Tetapi jangan lupa, peluang tidak otomatis menjadi keuntungan. Indonesia tetap harus pintar memainkan peran. BRICS bukan pengganti ASEAN. Bukan pula pengganti hubungan Indonesia dengan Amerika Serikat, Jepang, Eropa atau Australia. Justru tantangannya adalah bagaimana Indonesia bisa bermain di banyak meja tanpa kehilangan kepentingan nasionalnya sendiri. Di tengah dunia yang semakin multipolar, strategi Indonesia bisa jadi bukan memilih satu kubu. Bukan karena Indonesia harus memilih antara Timur atau Barat, tetapi karena Indonesia ingin memastikan suaranya tetap terdengar ketika peta ekonomi dan geopolitik dunia sedang berubah.

brics KTT BRICS Negara Brics NEW DELHI india

Infografis

Terkini