Produk UMKM Makin Dilirik Ritel Modern, Kemendag Spill Serapannya Tembus 60%

Penulis: Shintya
Editor: Anri Syaiful
Kamis, 10 September 2026 | 10:01 WIB
Produk UMKM Makin Dilirik Ritel Modern, Kemendag Spill Serapannya Tembus 60%
Produk UMKM Makin Dilirik Ritel Modern, Kemendag Spill Serapannya Tembus 60% [astakom/str-Panji Arkananta]

astakom.com, Jakarta - Produk dalam negeri dan hasil Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) terus menunjukkan valuenya dan terbukti berdaya saing tinggi.

Kementerian Perdagangan (Kemendag) melaporkan kalau porsi penyerapan produk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dan produk lokal di jaringan ritel modern nasional sekarang udah tembus 60 persen.

Menteri Perdagangan (Mendag), Budi Santoso atau yang akrab disapa Busan, bilang kalau lonjakan penetrasi produk lokal itu menjadi bukti nyata keberhasilan dari pergeseran strategi regulasi pemerintah.

Kuotanya diubah

Dalam regulasi sebelumnya, kuotanya diwajibkan minimal 30 persen, sekarang diubah jadi penguatan pola kemitraan strategis antara pengelola ritel modern, department store, dan UMKM.

"Dulu ada ketentuan bahwa ritel modern harus menjual minimal 30 persen produk UMKM. Namun aturan itu diubah menjadi pola kemitraan. Hasilnya, informasi dari ritel modern menunjukkan saat ini lebih dari 60 persen produk UMKM dan produk lokal sudah mengisi ritel modern," kata Mendag Budi Santoso saat menghadiri kegiatan Gapai Pasar Global dengan AI bersama META di Jakarta, dikutip astakom.com pada Rabu, (09/09/2026).

Ritel modern makin agresif serap UMKM

Nggak cuma itu, Mendag Busan menilai kalau kualitas dan daya saing produk lokal yang semakin bagus menjadi alasan utama jaringan ritel modern kayak AEON sampe anggota Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo), makin agresif menyerap barang dagangan UMKM.

Meskipun akses pasar lokal atau domestik maupun ekspor makin terbuka lebar Budi tetap mengingatkan ke pelaku UMKM yang masih menghadapi tantangan besar dalam menjaga konsistensi pasokan.

Dia bilang kalau pihaknya harus mewaspadai bahwa ada banyak atau nggak sedikit pelaku usaha yang justru bingung bisa menerima pesanan dalam volume besar.

Perlu kolaborasi antarsesama UMKM

"Ada UMKM yang bingung karena tidak dapat buyer, tapi ada juga yang bingung justru setelah dapat buyer. Minta tiga kontainer sebulan, akhirnya tidak sanggup. Kuncinya adalah kolaborasi antarsesama UMKM," kata Budi.

Maka dari itu, Kemendag mendorong para pelaku UMKM untuk bersinergi, saling support dan membentuk konsorsium produksi daripada sendiri-sendiri.

Movement ini dinilai penting supaya kapasitas pasokan tetap terjaga, baik untuk memenuhi jaringan ritel modern dalam negeri maupun permintaan pasar global secara berkelanjutan. (Shnty/aNs)

Gen Z Takeaway

Produk lokal dan UMKM makin nggak kaleng-kaleng. Kemendag mencatat porsinya di ritel modern nasional sudah tembus lebih dari 60%, naik signifikan sejak aturan bergeser dari kewajiban kuota 30% ke pola kemitraan. Tapi, tantangan berikutnya bukan cuma cari buyer, melainkan memastikan UMKM sanggup memenuhi pesanan besar secara konsisten. Karena itu, Kemendag mendorong UMKM berkolaborasi lewat konsorsium produksi agar kapasitas pasokan tetap kuat, baik untuk pasar domestik maupun ekspor.

Produk UMKM UMKM Kemendag Ekspor pasar ritel modern Mendag Budi Santoso

Infografis

Terkini