Sekdes Tejang Pulau Sebesi Sebut Aktivitas Warga Sekitar Berjalan Normal, Hanya Ada Penyesuaian
Reporter Usman
astakom.com, Jakarta — Di tengah peningkatan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau, situasi kemasyarakatan di Desa Tejang, Pulau Sebesi, Kecamatan Rajabasa, Kabupaten Lampung Selatan, terpantau kondusif.
Berdasarkan pantauan langsung astakom.com di lokasi, Mayoritas kegiatan perekonomian dan keseharian warga berjalan sebagaimana mestinya.
Penyesuaian hanya dilakukan pada sektor pendidikan, di mana kegiatan belajar-mengajar dialihkan secara daring selama dua hari sesuai arahan pemerintah daerah.
Sekretaris Desa Tejang Pulau Sebesi, Riko Iswanto, menegaskan bahwa mobilitas 2.700 hingga 3.000 warga di wilayah pulau tersebut tidak mengalami kendala yang signifikan.
“Kalau kondisi masyarakat dari mulai erupsi sejak pertama juga sampai dengan detik ini, Alhamdulillah aktivitas berjalan dengan normal. Tidak sedikit pun mengurangi aktivitas daripada masyarakat,” ungkap Riko, berdasarkan keterangannya, dikonfirmasi Rabu (9/9/2026).
Pembelajaran dari rumah
Mengenai kebijakan pembelajaran dari rumah, penyesuaian tersebut diberlakukan sementara untuk periode 7 hingga 8 September 2026.
“Untuk aktivitas seperti biasa normal. Tidak mengurangi sama sekali. Yang pergi melaut masih bisa. Dan aktivitas sekolah juga sebelumnya, sebelum ada surat edaran dari pemerintah, memang aktivitas seperti biasa. Namun di hari Senin kemarin hingga saat ini pemerintah melakukan surat edaran untuk daring selama dua hari, dari tanggal 7 sampai tanggal 8. Belajar di rumah, daring,” ujarnya.
Mitigasi area rentan
Kendati situasi relatif aman, Pemerintah Desa tetap memberlakukan tingkat kewaspadaan tinggi. Fokus perhatian tertuju pada Dusun 3 Regahan Lada, khususnya lingkup RT 11.
Wilayah tersebut memiliki tingkat kerentanan paling tinggi karena posisinya yang sangat dekat dengan gugusan Gunung Anak Krakatau serta memiliki rekam jejak terdampak bencana tsunami Selat Sunda pada tahun 2018.
“Itu Dusun 3 Regahan Lada, RT-nya RT 11. Itu dusun dan salah satu wilayah RT yang paling dekat dengan gugusan Anak Gunung Krakatau dan menjadi salah satu dampak bencana di tahun 2018 kemarin,” jelas Riko.
Jaringan komunikasi kebencanaan
Dalam mempercepat arus informasi resmi, pemerintah desa berkoordinasi secara berkala dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Informasi dan arahan kebencanaan didistribusikan ke tingkat warga melalui jaringan Desa Tangguh Bencana (Destana), kanal pesan instan WhatsApp, hingga jajaran Ketua RT.
“Iya, ada. Dapat menerima arahan dan informasi. Tentunya kami juga menerima informasi dari pihak-pihak terkait yang memang bisa kita sebarluaskan ke masyarakat. Sekarang kita sudah ada komunitas atau grup di wilayah desa masing-masing, yaitu Destana, Desa Tangguh Bencana, itu di bawah BPBD,” katanya.
Penggunaan sarana komunikasi digital ini dinilai paling efektif untuk menyebarkan pembaruan mengenai perkembangan erupsi maupun prakiraan cuaca secara cepat dan akurat.
“Informasi tersebut sudah masuk, berupa informasi terkait erupsi Anak Krakatau bahkan cuaca dan sebagainya. Memang kita sebarluaskan melalui WhatsApp juga dan informasi kepada Ketua RT untuk dapat disampaikan kepada warganya,” ujarnya.
Kondisi jalur evakuasi
Sebagai langkah antisipasi kondisi darurat, masyarakat diarahkan untuk mengamankan diri ke kawasan perbukitan yang memiliki elevasi lebih tinggi melalui jalur evakuasi yang telah tersedia.
“Kalau kita ini sebenarnya kalau titik kumpul itu belum ada tempat. Cuma kita ini kalau ada apa-apa itu kita larinya ke gunung. Dan memang yang pasti dilaluinya yang sudah ada jalan evakuasinya,” ungkapnya.
Namun demikian, Riko mengungkapkan bahwa dari total empat dusun yang berada di Desa Tejang Pulau Sebesi, sarana jalur evakuasi baru terbangun di dua lokasi, yakni Dusun 2 Impres dan Dusun 3.
“Di empat dusun ini yang sudah ada jalan evakuasinya itu ada dua dusun. Dusun 2 Impres yang kita saat ini berada sama Dusun 3 itu sudah ada jalannya. Tapi titik kumpul di empat dusun megenai empat dusun ini belum ada,” katanya.
Oleh karena itu, penanganan darurat saat ini difokuskan pada pengarahan massa menuju dataran tinggi yang relatif lebih aman.
“Hanya saja arahan kita bahwa apabila terjadi bencana, kita titik kumpul di gunung. Memang cari wilayahnya yang lebih tinggi, itu saja. Tapi untuk titik kita belum ada, bahkan tempatnya juga belum ada,” jelas Riko.
Edukasi informasi publik
Pengalaman pahit tsunami 2018 dijadikan sarana pembelajaran penting bagi warga untuk senantiasa meningkatkan kewaspadaan. Kendati demikian, Riko tak menampik adanya dampak psikologis berupa trauma yang kerap memicu keresahan warga tatkala menerima kabar erupsi.
“Kalau pembelajaran tentunya kita sebagai masyarakat sekarang sudah mulai berhati-hati. Semenjak adanya bencana di tahun 2018 itu, memang sedikit masyarakat kita ini panik. Ada perubahan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya sebelum kejadian,” katanya.
Tantangan mitigasi kian kompleks seiring pesatnya persebaran informasi melalui media sosial, yang tidak jarang memuat kabar unverified hingga memicu kepanikan di tengah masyarakat yang masih menyimpan trauma.
“Karena sekarang ini masyarakat, apalagi di zaman sekarang media sosial, informasi bahkan benar ataupun tidaknya itu masyarakat sudah bisa mengakses,Karena masyarakat sudah trauma akibat erupsi dan tsunami di tahun 2018 kemarin,” tambah Riko.
Harapan masyarakat
Pemerintah Desa berharap agar aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau dapat segera menurun sehingga stabilitas dan ketenangan masyarakat dapat pulih sepenuhnya.
“Kalau harapan tentunya mudah-mudahan erupsi ini segera berakhir dan segera membaik. Karena memang Sebesi ini salah satu wilayah yang memang dekat sekali dengan Anak Gunung Krakatau, sehingga membuat masyarakat kami menjadi panik,” katanya.
Terakhir, Riko mengimbau seluruh lapisan masyarakat agar lebih cermat dan bijak dalam menyikapi setiap informasi maupun dokumentasi video yang beredar, serta memastikan kebenarannya terlebih dahulu sebelum menyebarluaskannya.
“Mudah-mudahan masyarakat kami ke depan bisa lebih bijak lagi untuk melihat informasi terkait dengan beredarnya banyak sekali informasi bahkan video-video yang memang belum jelas kebenarannya,” ujarnya. (Usm/aLf/aNs)
Gen Z Takeaway
Kondisi warga Pulau Sebesi tetap relatif kondusif meski aktivitas Gunung Anak Krakatau meningkat, dengan kegiatan ekonomi masih berjalan dan sekolah sementara digelar daring. Namun, kewaspadaan tetap diperkuat, terutama di wilayah rentan, lewat jalur evakuasi dan penyebaran informasi resmi. Pengalaman tsunami 2018 juga membuat warga diimbau lebih kritis menyaring informasi agar tidak mudah terpancing kabar yang belum terverifikasi.








