Petugas Pos Pemantau Gunung Anak Krakatau Ingatkan Warga Lindungi Pernapasan dan Mata
Reporter Usman
astakom.com, Jakarta — Aktivitas Gunung Anak Krakatau masih terus dipantau setelah erupsi cukup besar terjadi beberapa hari terakhir.
Pantauan langsung astakom.com kemarin pagi, aktivitas erupsi kembali terekam, meski intensitasnya disebut lebih kecil dibandingkan erupsi tiga hari sebelumnya.
Ketua Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau Kalianda, Suwarno, mengatakan kondisi gunung saat ini relatif lebih reda. Namun aktivitas erupsi masih terjadi sehingga masyarakat, terutama yang terdampak abu vulkanik, diminta tetap waspada.
“Terkait tentang erupsi Gunung Anak Krakatau ini, memang waktu tiga hari yang lewat cukup besar sekali dan sampai abu pun terdampak di berbagai daerah, berbagai kota. Kemudian, sekarang sudah reda, namun tadi pagi ada erupsi. Namun tidak besar seperti yang tiga hari yang lewat,” kata Suwarno saat ditemui di Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau di Desa Hargo Pancuran, Kalianda, Lampung Selatan, dikonfirmasi Rabu (09/09/2026).
Erupsi kecil kemarin pagi
Menurut Suwarno, tercatat aktivitas erupsi sejak pagi hari. Ia menyebut erupsi yang terjadi kali ini memiliki intensitas relatif kecil dibandingkan aktivitas beberapa hari sebelumnya.
“Pada tanggal 8 September ini memang ada tiga kali erupsi. Yaitu pada pukul 05.08 sampai 05.34, hampir setengah enam. Kemudian jam 07.49 tadi juga memang ada letusan. Cuma tidak besar. Tidak seperti yang erupsi tiga hari yang lewat. Kecil-kecil sekali sekarang,” ujarnya.
Namun, aktivitas erupsi tersebut tidak dapat diamati secara jelas secara visual dari Pos Pengamatan Kalianda karena Gunung Anak Krakatau tertutup kabut.
“Cuma nampaknya dari sini tidak terlihat abu vulkaniknya. Juga dari Pasauran juga seperti itu. Tertutup kabut erupsi ini,” katanya.
Kabut berasal dari uap laut
Suwarno menegaskan kabut yang menutupi pandangan menuju Gunung Anak Krakatau bukan berasal dari abu vulkanik. Menurutnya, kondisi tersebut dipengaruhi uap laut dan sudah terjadi bahkan sebelum erupsi.
“Ini bukan karena kabut ada abu vulkanik itu, bukan. Ini dari uap laut. Sebelum letusan juga ini tidak nampak gunung ini. Sudah beberapa bulan yang lewat. Selama kemarau, ini kabut terus,” jelasnya.
Kondisi visual, kata dia, kemungkinan dapat membaik apabila terjadi hujan sehingga pandangan menuju Gunung Anak Krakatau menjadi lebih terbuka.
“Sampai sekarang ini karena ada uap laut, apalagi kemarau begini. Terkecuali kalau ada hujan mungkin bisa cerah, bisa terlihat gunungnya itu sendiri,” katanya.
Imbauan kepada masyarakat
Di tengah aktivitas Anak Krakatau, Suwarno mengingatkan masyarakat yang berada di wilayah terdampak abu vulkanik agar menggunakan masker. Selain sistem pernapasan, perlindungan terhadap mata juga dinilai penting karena partikel abu vulkanik dapat menyebabkan iritasi.
“Untuk seluruh masyarakat yang terdampak abu vulkanik Krakatau ini, kami harapkan harus memakai masker biar tidak infeksi atau ISPA. Kemudian harus pakai kaca pelindung mata, karena yang dikhawatirkan iritasi di mata,” ujar Suwarno.
Menurutnya, karakter partikel hasil erupsi sangat halus dan tajam sehingga masyarakat tidak boleh menganggap remeh paparan abu, terutama terhadap mata dan saluran pernapasan.
“Karena serpihan atau debu-debu yang dihasilkan dari gunung ini, hasil erupsi itu runcing sekali, lebih dari kaca, runcingnya seperti itu,” ungkapnya.
Pantauan langsung dari dua pos
Suwarno menjelaskan pemantauan Gunung Anak Krakatau dilakukan melalui dua pos, yakni Pos Pengamatan Pasauran dan Pos Pengamatan Kalianda. Dari Pos Kalianda, petugas melakukan pengamatan secara visual. Namun ketika kondisi gunung tertutup kabut, data pemantauan tetap diperoleh dari Pos Pasauran.
“Aktivitas kita di sini itu kita data-data dari Pasauran semua. Cuma kita dari sini bisa dari visual saja. Namun visual ini kita tidak bisa karena tertutup kabut. Kalau data tidak akan hilang,” jelasnya.
Data tersebut kemudian diteruskan kepada para pemangku kepentingan maupun masyarakat yang membutuhkan informasi mengenai perkembangan Gunung Anak Krakatau.
“Ketika dapat data dari sana, kita kirimkan ke seluruh stakeholder di sini atau masyarakat juga yang memerlukan agar mereka paham dan mengerti jumlah erupsinya atau data-data yang didapatkan dari Pasauran,” katanya. (Usm/aLf/aNs)
Gen Z Takeaway
Aktivitas Gunung Anak Krakatau masih berlangsung, tetapi intensitas erupsinya kini lebih kecil dibanding beberapa hari sebelumnya. Meski relatif mereda, masyarakat terdampak abu tetap perlu waspada dengan memakai masker dan pelindung mata. Pemantauan dari dua pos pengamatan juga terus dilakukan untuk memastikan perkembangan aktivitas gunung tetap terpantau.








