Ini Sejarah Panjang Krakatau hingga Lahirnya Anak Krakatau, Yuk Simak!
astakom.com, Jakarta - Kalau mendengar nama Krakatau, yang terbayang mungkin langsung letusan dahsyat 1883. Padahal, sejarah gunung api di Selat Sunda ini jauh lebih panjang, mulai dari Krakatau Purba, beberapa fase penghancuran, hingga lahirnya Anak Krakatau.
Dilansir dari publikasi Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) pada Senin (07/09/2026) kawasan Krakatau setidaknya mengalami beberapa fase penghancuran dan pembangunan tubuh gunung api. Rekonstruksi geologi mencatat pembentukan kaldera yang dikaitkan dengan sekitar 416, 1200, dan 1883.
Setelah letusan besar 1883, aktivitas vulkanik kembali muncul di kawasan tersebut hingga kemudian membentuk Anak Krakatau. Artinya, Anak Krakatau bukan gunung yang muncul tiba-tiba, melainkan bagian dari proses vulkanik panjang di kawasan Selat Sunda.
Jejak Krakatau Purba
Kisah tentang Krakatau Purba juga muncul dalam Pustaka Raja Purwa. Naskah tersebut menceritakan Gunung Batuwara yang disertai guncangan bumi, kegelapan, badai, hingga banjir besar yang disebut memisahkan Jawa dan Sumatra.
Publikasi Badan Geologi mencatat kisah tersebut kerap dikaitkan dengan Krakatau Purba. Namun, kaitannya dengan letusan tertentu tidak bisa dipastikan hanya berdasarkan cerita dalam naskah. Dalam kajian geologi, terdapat rekonstruksi pembentukan kaldera sekitar 416 dan 1200 sebelum kehancuran besar pada 1883.
Menurut Pustaka Raja Purwa, Gunung Batuwara disebut memiliki tinggi sekitar 2.000 meter di atas permukaan laut dengan lingkar pantai sekitar 11 kilometer. Informasi tersebut merupakan bagian dari catatan naskah, bukan hasil pengukuran geologi modern.
Dari 1680 ke 1883
Perbuwatan tercatat mengalami erupsi pada 1680. Setelah itu, Krakatau tidak menunjukkan aktivitas signifikan selama sekitar 200 tahun.
Aktivitas kembali meningkat pada Mei 1883 dan mencapai puncaknya pada 26–28 Agustus. Letusan menghancurkan Danan dan Perbuwatan serta sebagian Rakata.
Erupsi tersebut menghasilkan lebih dari 18 kilometer kubik material vulkanik dan memicu tsunami setinggi sekitar 30–40 meter di sejumlah wilayah Banten dan Lampung. Sekitar 36.417 orang meninggal dunia.
Sejumlah kajian menyebut tsunami 1883 berkaitan dengan proses kompleks, termasuk kemungkinan runtuhan tubuh gunung dan aktivitas bawah laut.
Lahirnya Anak Krakatau
Sekitar 44 tahun setelah kehancuran 1883, aktivitas vulkanik kembali muncul. Pada Desember 1927 terjadi erupsi bawah laut yang menjadi awal pertumbuhan gunung api baru.
Material vulkanik kemudian muncul ke permukaan pada 1929 dan membentuk Anak Krakatau. Sejak itu, gunung api tersebut terus tumbuh melalui aktivitas erupsi.
Pada 1992–2001, erupsi bahkan tercatat hampir setiap hari. Dalam periode tersebut, ketinggian Anak Krakatau bertambah lebih dari 100 meter.
Sudah berapa kali erupsi?
Penelitian PVMBG yang diterbitkan pada 2006 mencatat Anak Krakatau telah mengalami sedikitnya 80 kali letusan sejak kemunculannya, baik eksplosif maupun efusif.
Namun, angka tersebut hanya mencakup periode penelitian hingga 2006, sehingga tidak bisa disebut sebagai total erupsi Anak Krakatau sampai 2026.
Setelah itu, aktivitas tetap berlanjut, termasuk erupsi 2018, rangkaian aktivitas hingga 2023, serta erupsi kembali pada 2 Juli 2026.
Masih aktif hingga kini
Badan Geologi masih memantau aktivitas Anak Krakatau. Sejak 2 Juli 2026, statusnya berada pada Level III atau Siaga.
Pada 5 September 2026, Anak Krakatau kembali mengalami rangkaian erupsi Strombolian yang menghasilkan material pijar dan abu vulkanik, disertai fenomena seperti pancuran serta aliran lava.
Dalam laporan 7 September 2026, statusnya masih Level III. Masyarakat dilarang mendekati kawah dalam radius 3 kilometer dan diimbau mengikuti informasi resmi. (deA/aNs)
Gen Z takeaway
Sejarah Krakatau ternyata nggak berhenti di letusan 1883. Dari proses geologi sejak masa lampau, kehancuran besar, hingga lahirnya Anak Krakatau, aktivitas vulkanik di Selat Sunda terus berlangsung.








