Spill Londo Ireng: Sebutan Tentara Kolonial Belanda asal Afrika Pasca-Perang Diponegoro

Editor: Anri Syaiful
Minggu, 26 Juli 2026 | 12:02 WIB
Spill Londo Ireng: Sebutan Tentara Kolonial Belanda asal Afrika Pasca-Perang Diponegoro
Zwarte Hollanders atau Belanda Hitam. Masyarakat Jawa dulu menyebut sebagai Londo Ireng. [Kolase Foto: Gemini AI sumber dari Wikimedia/Public Domain]

astakom.com, Jakarta – Istilah “Londo Ireng” mendadak spill ke mana-mana. Bahkan, dalam beberapa hari terakhir, bikin netizen di berbagai platform media sosial kepo maksimal.

Pertanyaannya, apa sih makna real-nya Londo Ireng dalam rekam sejarah Indonesia sebelum merdeka?

Berdasarkan penelusuran astakom.com di internet dan pemberitaan sejumlah media nasional, istilah ini sejatinya punya akar sejarah super panjang yang cukup beda jauh dibanding penggunaannya sebagai kiasan di zaman now.

Dalam sejarah penjajahan Nusantara, Londo Ireng adalah sebutan buat prajurit asal Afrika Barat yang direkrut oleh Pemerintah Kolonial Hindia Belanda. Mereka didatangkan buat memperkuat barisan Koninklijk Nederlands(ch)-Indisch Leger (KNIL) alias Tentara Kerajaan Hindia Belanda setelah krisis imbas Perang Diponegoro.

Perang Jawa bikin Belanda lowbudget dan krisis pasukan

Kemunculan Londo Ireng enggak bisa dipisahkan dari Perang Diponegoro atau Perang Jawa (1825–1830). Perang raksasa yang dipimpin Pangeran Diponegoro ini jadi salah satu perlawanan paling challenging yang pernah dihadapi kompeni Belanda di Tanah Air.

Gara-gara perang yang berlangsung lima tahun ini, Belanda fix tekor berat. Ribuan serdadu tewas kena gempur pertempuran maupun wabah penyakit tropis. Selain kehilangan banyak personel, kas pemerintah kolonial juga langsung drop parah.

Perang ini bikin keuangan Pemerintah Kolonial Belanda kolaps total. Kerugian materiilnya disinyalir mencapai 20 juta gulden—kalau dikonversi ke kurs sekarang nilainya setara USD25 miliar atau sekitar Rp 417,575 triliun.

"25 miliar dolar. Jadi ini menyulitkan ini menyulitkan anggaran Hindia Belanda," kata Peter Carey, sejarawan asal Inggris yang mendedikasikan hidupnya meneliti Diponegoro dan Perang Jawa, kepada media nasional pada 28 September 2025.

Sementara itu, Ineke van Kessel dalam buku bertajuk "Zwarte Hollanders: Afrikaanse soldaten in Nederlands-Indie" (2005), juga menyebut istilah Londo Ireng ditujukan kepada ribuan tentara keturunan Afrika Barat yang direkrut oleh KNIL untuk bertempur di Nusantara.

Efek domino dari Perang Jawa ini juga dibeberkan oleh sejarawan asal Purworejo, Atas Danusubroto. Menurutnya, Belanda saat itu benar-benar mengalami krisis pasukan yang amat parah.

“Perang Jawa sudah menelan 8.000 serdadu Hindia Belanda baik serdadu kulit putih maupun serdadu pribumi yang direkrut pemerintah kolonial,” kata sejarawan Purworejo, Atas Danusubroto (65) kepada media nasional, 13 Oktober 2017.

Awalnya Belanda mengandalkan tentara bayaran asal Eropa, khususnya Jerman. Namun, saat bersamaan pascapenangkapan Pangeran Diponegoro, negara-negara Eropa mulai mengetatkan aturan dan melarang warganya jadi tentara bayaran. Situasi ini memaksa Gubernur Jenderal Johannes van den Bosch muter otak buat nyari supply pasukan baru di luar Eropa.

Pilihan akhirnya jatuh ke kawasan Afrika Barat—wilayah yang sekarang kita kenal sebagai Ghana, Burkina Faso, dan Pantai Gading. Selain biaya rekrutmennya lebih hemat, orang-orang Afrika dinilai lebih survive menembus iklim tropis serta penyakit endemik di Hindia Belanda.

Origin story Londo Ireng di Tanah Jawa

Proses rekrutmen tentara Afrika Barat ini dimulai Pemerintah Kolonial Hindia Belanda sejak tahun 1831 secara bertahap.

Data sejarah mencatat, gelombang pertama pada 1831–1836 mendatangkan 112 orang. Gelombang kedua (1837–1841) melonjak hingga sekitar 2.100 orang, lalu disusul kurun 1860–1872 sebanyak 800 orang. Para tentara bayaran ini diikat kontrak dinas selama 12 tahun.

Resminya, mereka dijuluki Zwarte Hollanders alias Belanda Hitam. Namun, lidah masyarakat Jawa saat itu lebih akrab menyebut mereka dengan istilah Londo Ireng.

Pasukan ini disebar di berbagai tangsi militer penting seperti Semarang, Salatiga, dan Solo. Kendati demikian, porsi terbesar ditempatkan di Tangsi Kedungkebo, Purworejo. Pasalnya, kawasan Bagelen waktu itu masih dikategori kawasan red flag alias rawan konflik sisa-sisa pengikut Pangeran Diponegoro.

“Dari jumlah itu kemudian disebar ke beberapa tangsi militer Belanda diantaranya di Semarang, Salatiga, dan Solo. Tetapi yang paling banyak ditempatkan di tangsi Kedungkebo Purworejo karena di daerah Bagelen dianggap daerah paling rawan,” Atas membeberkan.  

Bukan cuma bertugas mengamankan Jawa, prajurit dari Afrika ini juga dikirim ke barisan depan berbagai operasi militer Belanda di Lampung, Bali, Sumatera Selatan, sampai pertempuran sengit di Aceh.

Jejak legacy Kampung Afrikan di Purworejo

Saat masa kontrak dinas beres, enggak sedikit serdadu Londo Ireng yang memilih settle dan menetap di Hindia Belanda. Pemerintah kolonial pun memberi sederet fasilitas buat mereka sebagai apresiasi atas jasa militernya.

Pada tahun 1859, pemerintah kolonial membeli sebidang tanah khusus buat eks serdadu Afrika. Mereka yang masih single diizinkan menikahi perempuan pribumi dan diberi hibah tanah seluas kurang lebih 1.151 meter persegi buat hunian plus lahan pertanian.

Area pemukiman ini masih berdiri kokoh sampai sekarang dan dikenal sebagai Kampung Afrikan, yang berlokasi di Kelurahan Pangen Jurutengah, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Kalau main ke sana, kita masih bisa nemuin beberapa arsitektur khas kolonial, pagar beton peninggalan Belanda, hingga plang Jalan Afrikan yang jadi saksi bisu keberadaan keturunan tentara Afrika.

“Daerah yang ditempati oleh para tentara bayaran dari Afrika itu hingga sekarang dikenal dengan Kampung Afrikan, bahkan nama jalan masuk ke kampung juga diberi nama jalan Afrikan. Pemukiman itu terletak di Kelurahan Pangen Jurutengah, Kecamatan Purworejo. Jalan Afrikan itu merupakan jejak Londo Ireng di Purworejo,” pungkas Atas.  

Rekam jejak Londo Ireng memperlihatkan betapa Perang Diponegoro enggak cuma ngubah peta politik Jawa, tapi juga memaksa Belanda sampai harus impor ribuan tentara dari Afrika Barat. Dan jejak unik mereka masih tertinggal rapi di Purworejo hingga saat ini. (aNs)

Gen Z Takeaway

Istilah "Londo Ireng" mendadak bikin netizen kepo maksimal, padahal secara real istilah ini punya sejarah panjang sebagai sebutan buat ribuan tentara Afrika Barat yang di-import Belanda sejak 1831 pasca-Perang Diponegoro. Waktu itu kompeni lagi lowbudget dan krisis pasukan akibat perang lima tahun yang bikin kas mereka drop sampai 20 juta gulden, makanya mereka merekrut Zwarte Hollanders ini buat dikontrak 12 tahun—yang setelah purna tugas malah memilih settle, nikah sama warga lokal, dan meninggalkan legacy berupa Kampung Afrikan di Purworejo yang masih eksis sampai sekarang.

Londo Ireng KNIL Pangeran Diponegoro Perang Jawa 1825-1830 Sejarah Kolonial

Infografis

Terkini