Bukan Beras Biasa! Kenali Manfaat Beras Fortifikasi dan Alasan Kenapa Versi Palsunya Bahayakan Kelompok Rentan

Penulis: Shintya
Editor: Henni Rachma Sari
Sabtu, 19 September 2026 | 01:08 WIB
Bukan Beras Biasa! Kenali Manfaat Beras Fortifikasi dan Alasan Kenapa Versi Palsunya Bahayakan Kelompok Rentan
Spill Beras Fortifikasi, Ini Dampak Konsumsi Beras Fortifikasi Palsu (Kementerian Pertanian)

astakom.com, Jakarta - Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman ngespill ngegep 25 merek beras fortifikasi palsu yang beredar di pasaran, dan menyebabkan kerugian bagi masyarakat. 

Makanya, pemerintah bakal bertindak tegas. Produk beras fortifikasi palsu yang overclaim dan terbukti tidak memenuhi persyaratan izin edarnya bakal dicabut dan produknya ditarik dari peredaran sesuai ketentuan yang berlaku.

Apa itu beras fortifikasi

Berdasarkan keterangan dari laman Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan, beras fortifikasi yaitu beras yang sengaja ditambahkan zat gizi mikro lewat proses teknologi pangan. 

Dalam prosesnya, padi digiling menjadi beras, lalu ditambahin sejumlah vitamin dan mineral kemudian ditambahin buat ningkatin kandungan gizi beras yang dikonsumsi masyarakat. Zat gizi yang memang sengaja ditambahin dalam beras fortifikasi yaitu zat besi, asam folat, vitamin B1, vitamin B6 dan zinc.

Cara pembuatannya yaitu: mencampurkan butiran beras khusus ynag udah dikasih vitamin dan mineral ke dalam beras biasa. Jadi beras yang dikonsumsi diharapkan nggak cuma jadi sumber karbohidrat, tetapi juga ngasih tambahan zat gizi mikro.

Untuk memenuhi gizi

Beras fortifikasi ini sangat bermanfaat dikonsumsi oleh masyarakat yang memang membutuhkan lebih banyak zat gizi mikro, kayak zat besi, seng, vitamin dan asam folat buat menunjang kesehatan.

Beras fortifikasi ini juga bisa dikonsumsi dan digunakan dalam program intervensi gizi terutama buat kelompok rentan. Mentan Andi Amran bilang kalau beras fortifikasi ini diperuntukkan buat kelompok tertentu kayak masyarakat miskin, ibu hamil dan menyusui, balita, serta kelompok yang membutuhkan dukungan pemenuhan gizi.

Pada dasarnya beras fortifikasi beda sama beras biofortifikasi, walaupun dua-duanya sama-sama punya tujuan buat ningkatin kandungan gizi.

Cara produksi beras fortifikasi

Untuk beras fortifikasi itu, zat gizinya ditambahkan lewat proses pengolahan setelah beras biasa dihasilkan. Tapi biofortifikasi dilakuin sama ningkatin kandungan gizi tanaman dari proses budidaya atau pemuliaan tanamannya. Jadi udah otomatis pas udah jadi beras, kandungan sudah mengandung gizi atau zat yang ditambahkan saat proses pembudidayaan.

Meski begitu, keduanya sama-sama menjadi salah satu konsumsi yang disasar buat membantu mengatasi kekurangan zat gizi mikro di masyarakat.

Jadi kalau ada ketidaksesuaian kandungan fortifikan atau jatuhnya malah overclaim, nggak serta merta menimbulkan dampak kesehatan langsung buat konsumen. 

Dampak konsumsi yang palsu: Gizi nggak terpenuhi

Akan tetapi kondisi itu bisa bikin persoalan gizi mikro yang nggak teratasi dengan baik jadi pembeli yang sebenernya membutuhkan kandungan beras fortifikasi dan beli dengan harga mahal malah nggak mendapatkan zat itu, karena kandungannya lebih rendah dari yang tercantum di label.

“Fortifikasi bukan untuk menggantikan beras premium. Fortifikasi ini untuk kelompok rentan, stunting, orang miskin, ibu hamil, menyusui, dan balita. Kalau dijual dengan harga sangat tinggi, tentu tidak tepat sasaran,” kata Mentan.

Selisih harga bikin masyarakat rugi

Selain persoalan kandungan, pemerintah menemukan adanya disparitas harga yang sangat tinggi. Menurut Mentan Amran, selisih harga tersebut sangat merugikan masyarakat apabila produk yang dibeli ternyata tidak memberikan kandungan fortifikasi sebagaimana yang dijanjikan.

"Yang tertinggi dijual Rp57.000. Seharusnya sekitar Rp13.500. Selisihnya bisa mencapai Rp44.100 per kilogram. Ini sangat merugikan konsumen," katanya.

Pemerintah memperkirakan nilai kerugian konsumen akibat dugaan praktik tersebut dapat mencapai sekitar Rp89 triliun. Angka tersebut merupakan estimasi dan masih menjadi bagian dari pendalaman bersama aparat penegak hukum. (Shnty/RaM)

Gen Z Takeaway

Mentan Amran ngegep 25 merek beras fortifikasi palsu yang diduga overclaim dan nggak sesuai izin edar. Produk bakal ditarik kalau terbukti bermasalah, apalagi ada temuan harga yang harusnya sekitar Rp13.500/kg malah dijual sampai Rp57.000/kg. Padahal, beras fortifikasi ditujukan buat kelompok rentan seperti masyarakat miskin, ibu hamil, ibu menyusui, dan balita. Jadi, kalau kandungan gizinya nggak sesuai label, konsumen yang memang butuh manfaat fortifikasi bisa dirugikan, dengan estimasi kerugian mencapai Rp89 triliun.

beras fortifikasi Kementerian Pertanian Mentan Andi Amran Sulaiman beras fortifikasi palsu

Infografis

Terkini