Momen Hari Anak Nasional, DPR Dorong Anak RI Bebas Stunting dan Berpendidikan Baik
astakom.com, Jakarta — Momen peringatan Hari Anak Nasional (HAN) setiap tanggal 23 Juli kembali menjadi pengingat krusial bagi arah pembangunan bangsa.
Wakil Ketua DPR RI Cucun Ahmad Syamsurijal menegaskan bahwa indikator kemajuan suatu negara tidak boleh hanya diukur dari angka pertumbuhan ekonomi semata, melainkan dari sejauh mana kualitas hidup anak-anaknya terjamin.
“Maka peringatan Hari Anak Nasional 2026 menjadi momentum untuk menjadikan kesejahteraan anak sebagai ukuran kesejahteraan rakyat,” ungkap Cucun Ahmad Syamsurijal dalam keterangannya, Jumat (24/07/2026).
Menurutnya, memastikan seluruh anak Indonesia terbebas dari ancaman stunting serta mendapatkan kesempatan pendidikan berkualitas yang setara adalah fondasi utama untuk mencetak generasi penerus yang tangguh.
Tantangan-tantangan yang perlu diatasi
Lebih lanjut, Cucun menekankan bahwa perkembangan dan kesejahteraan anak-anak merupakan cerminan nyata dari tingkat kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan.
Ketika anak-anak tumbuh di lingkungan yang mendukung dan terpenuhi hak-hak dasarnya, hal itu menjadi bukti bahwa pembangunan nasional berjalan ke arah yang benar.
Namun, realita di lapangan menunjukkan bahwa masih banyak tantangan berat yang membayangi tumbuh kembang anak Indonesia.
Cucun menyoroti berbagai persoalan krusial yang masih marak terjadi, mulai dari kasus stunting, tingginya angka anak putus sekolah, maraknya aksi bullying dan kekerasan, hingga terisolasinya anak-anak dari layanan dasar akibat kemiskinan.
“Tentu ini menjadi tanggung jawab kita bersama untuk mengatasi tantangan-tantangan tersebut. Baik kebijakan Pemerintah, pengawasan DPR, maupun kerja-kerja seluruh elemen bangsa harus bisa memastikan setiap tantangan bagi anak-anak dapat segera diselesaikan,” ujar Cucun.
Dorong kebijakan berdampak
Seluruh permasalahan kompleks ini dinilai sebagai pekerjaan rumah besar yang wajib diselesaikan melalui kolaborasi serta kerja bersama secara masif.
Guna mengatasi persoalan tersebut, kebijakan negara dituntut untuk hadir secara nyata dan memberikan dampak yang terukur.
Cucun menggarisbawahi pentingnya regulasi yang mampu memperkuat sistem perlindungan sosial keluarga, membenahi kualitas gizi dan kesehatan, serta menciptakan ekosistem lingkungan yang aman dan ramah bagi tumbuh kembang anak-anak di seluruh pelosok tanah air.
“Untuk itu, kami mendorong agar Pemerintah menjadikan peningkatan kualitas hidup anak sebagai salah satu ukuran utama dalam mengevaluasi keberhasilan kebijakan kesejahteraan masyarakat,” terang Cucun.
Dukung program MBG
Dalam upaya perbaikan gizi anak, Cucun turut menyinggung keberadaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi salah satu program unggulan Presiden Prabowo.
Meskipun ia mengakui bahwa dalam tahap perjalanannya saat ini masih diwarnai berbagai tantangan dan kendala operasional, Cucun optimistis dan percaya bahwa program ini akan memberikan hasil yang positif serta berdampak besar bagi kesehatan anak-anak Indonesia ke depan.
“MBG merupakan sebuah program besar yang baru, sehingga diperlukan evaluasi berkala untuk menyempurnakannya,” ucap Cucun.
"Sehingga kami mendukung evaluasi menyeluruh pada program MBG seperti arahan bapak Presiden. Dengan memperbaiki apa-apa yang kurang serta dengan tata kelola yang semakin baik, kita optimis cita-cita mulia dari MBG akan tercapai,” tambahnya.
Dorong pemerataan akses pendidikan
Terakhir, Cucun menegaskan kewajiban mutlak negara dalam menghadirkan sistem pendidikan yang adil dan merata.
Akses terhadap fasilitas serta kualitas pendidikan yang mumpuni tidak boleh hanya dinikmati oleh anak-anak di kawasan perkotaan saja, melainkan wajib menjangkau hingga ke daerah pelosok dan wilayah terdepan, sehingga tidak ada satu pun anak Indonesia yang kehilangan haknya untuk meraih masa depan yang lebih baik.
“Bagaimana semua anak mendapatkan kualitas pendidikan yang sama. Pemerintah juga perlu memberi perhatian terhadap perbaikan sarana prasarana sekolah exsisting yang masih kurang dan memastikan ketersediaan guru di seluruh wilayah,” tutur Cucun. (aLf/aNs)
Gen Z Takeaway
Peringatan Hari Anak Nasional jadi momentum untuk memastikan kualitas hidup anak menjadi tolok ukur kemajuan bangsa. Isu stunting, putus sekolah, dan bullying perlu dijawab lewat kebijakan yang nyata. Evaluasi program MBG serta pemerataan akses pendidikan juga penting agar setiap anak Indonesia memiliki kesempatan yang sama untuk tumbuh sehat, belajar layak, dan meraih masa depan yang lebih baik.









