Kemenag dan Kemenko PMK Resmi Bersinergi: Pembelajaran Agama Siswa di MDT Kini Diakui Sekolah!
astakom.com, Jakarta – Kementerian Agama (Kemenag) bareng Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) lagi menyiapkan gebrakan baru. Mereka mau bikin kolaborasi antara sekolah formal dan Madrasah Diniyah Takmiliyah (MDT). Langkah ini diambil biar pendidikan karakter dan agama para siswa tetap on track alias kuat, meskipun sekolah sekarang sudah menerapkan sistem lima hari kerja.
Komitmen keren ini dibahas dalam Rapat Pengembangan MDT sebagai Penguatan Pendidikan Karakter di Kantor Kemenag, Jakarta, Rabu (15/07/2026). Rapat penting ini dihadiri oleh Direktorat Pesantren Kemenag, Kemenko PMK, dan Dewan Pengurus Pusat Forum Komunikasi Diniyah Takmiliyah (DPP FKDT).
Direktur Pesantren Kemenag, Basnang Said, menegaskan kalau sekolah formal dan MDT itu bukan saingan yang saling menjatuhkan, melainkan mitra yang punya peran beda tapi saling melengkapi.
"Sekolah lima hari jangan sampai menghilangkan kesempatan anak-anak memperoleh pendidikan agama. MDT telah lama hadir di tengah masyarakat dan memiliki kontribusi besar dalam membentuk akhlak, kedisiplinan, serta kebiasaan beribadah," ucap Basnang.
Dia menjelaskan kalau sekolah formal itu fokusnya ke pendidikan akademik yang terstruktur. Nah, MDT bertugas memperkuat akidah, akhlak, pemahaman agama, praktik ibadah, sampai pembiasaan karakter siswanya.
Belajar lebih fleksibel
Menurut Basnang, penguatan MDT ini dipastikan nggak bakal bikin siswa burnout atau nambah beban belajar. Malahan, pola pembelajarannya bakal dibikin fleksibel banget sesuai kebutuhan sekolah dan kondisi lingkungan sekitar. Sekolah juga bisa langsung kerja sama dengan MDT terdekat dan memberikan acknowledgment alias pengakuan atas kompetensi agama yang dipunya si murid.
Dalam rapat tersebut, ada dua model kolaborasi yang dibahas:
Pembelajaran MDT langsung diadakan di sekolah lewat kerja sama dengan lembaga dan guru MDT.
Sekolah ngasih izin ke siswa buat belajar di MDT atau pesantren terdekat, dan hasilnya bakal auto-diakui oleh sekolah.
Rencananya, kelas diniyah ini cuma berjalan satu sampai dua kali seminggu dengan fokus materi di bidang akidah, akhlak, dan fikih. Kurikulum teknisnya bakal disusun bareng FKDT dengan melihat jenjang sekolah dan karakteristik daerah masing-masing.
Solusi sekolah sore
Staf Khusus Menko PMK Bidang Kerukunan Beragama, H. Ulun Nuha, menilai kolaborasi ini adalah solusi paling make sense buat menyelaraskan kebijakan sekolah formal dengan kebutuhan belajar agama.
"MDT dan pesantren telah mempunyai kekhasan dan pengalaman panjang dalam membina karakter masyarakat. Pemerintah tidak perlu membangun sistem baru, tetapi mengorkestrasi potensi yang sudah ada agar berjalan bersama dengan sekolah formal," jelasnya.
Asisten Deputi Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Dasar Kemenko PMK, Ivan Syamsurizal, juga setuju. Dia mengakui kalau sistem sekolah sampai sore bikin banyak anak nggak punya waktu lagi buat ikut pendidikan diniyah.
Bahkan dari hasil pantauan di lapangan, banyak MDT yang posisinya dekat sekolah malah jadi nggak aktif karena murid-muridnya pulang terlalu sore.
"Pembelajaran diniyah dapat dijadwalkan satu atau dua kali dalam sepekan sehingga pendidikan formal tetap berjalan dan hak anak memperoleh pendidikan agama juga terpenuhi," tuturnya.
Ijazah resmi diakui
Dari pihak DPP FKDT, H. Suryana, menegaskan kalau MDT itu warisan pendidikan para ulama yang terbukti jadi benteng moral masyarakat. Banyak skill keagamaan siswa yang asalnya dari MDT, tapi sayangnya selama ini belum diakui secara resmi di sistem sekolah formal.
Makanya, dalam forum itu muncul usulan agar ijazah atau syahadah MDT bisa di-rekognisi. Akhmad Sururi mengusulkan agar dokumen tersebut bisa jadi bahan pertimbangan saat penerimaan siswa baru atau penilaian prestasi keagamaan.
Kepala Subdirektorat Pendidikan Diniyah Takmiliyah dan Pendidikan Al-Qur'an, H. Aziz Syaifuddin, menambahkan kalau kerja sama ini harus dibuat simpel, terukur, dan nggak tumpang tindih materinya.
Siap uji coba
Forum juga mengusulkan nilai MDT bisa langsung masuk ke komponen nilai mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI). Plus, kalau sekolah kekurangan guru PAI, mereka bisa hiring guru MDT lewat rekomendasi FKDT. Urusan honor guru MDT lewat dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) juga lagi dikaji.
Sebagai langkah konkret, Kemenag, Kemenko PMK, dan FKDT bakal menyusun naskah akademik sekaligus menyiapkan pilot project (program percontohan). Proyek ini bakal menguji coba model kerja sama, manajemen waktu, kurikulum, kesiapan guru, dana, sampai sistem penilaiannya.
Pemerintah berharap lewat sinergi ini, pendidikan agama dan karakter siswa makin slay dan kuat tanpa mengganggu jam sekolah formal. Alhasil, generasi muda masa depan bisa tumbuh jadi pribadi yang beriman, berakhlak mulia, disiplin, dan punya jiwa nasionalisme yang kokoh. (nAD/aNs)
Gen Z Takeaway
Kebijakan sekolah lima hari sering kali bikin kita pulang kesorean dan gak sempat ngaji. Nah, lewat kolaborasi baru ini, jam belajar agama di MDT bakal dibikin fleksibel (cuma 1–2 kali seminggu) dan nilainya bakal langsung diakui secara resmi oleh sekolah formal. Jadi, kamu tetap bisa memperkuat akhlak dan spiritual skill tanpa perlu takut kewalahan atau kekurangan waktu istirahat!









