Kolaborasi Sains dan Fikih: Kemenag Bedah Akurasi Arah Kiblat

Pewarta: Nur Nadiah Islamiyah
Editor: Anri Syaiful
Kamis, 16 Juli 2026 | 14:02 WIB
Kolaborasi Sains dan Fikih: Kemenag Bedah Akurasi Arah Kiblat
Kolaborasi Sains dan Fikih: Kemenag Bedah Akurasi Arah Kiblat (Kemenag)

astakom.com, Jakarta– Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama baru saja menggelar seminar ilmiah internasional bertajuk International Seminar on Islamic Astronomy and Rashdul Qibla on the Spot di Unit Percetakan Al-Qur’an (UPQ) Ciawi, Bogor.

Pertemuan lintas negara yang menjadi bagian dari rangkaian Peaceful Muharam 1448 H ini bener-bener insightful, karena sukses memadukan pendekatan sains geodesi modern, khazanah fikih antar-mazhab, standardisasi prosedur regional, serta prinsip kemudahan (taysir) dalam menyempurnakan ketetapan arah kiblat bagi umat Islam.

Hitungan geodesi Bumi

Dari aspek sains bumi, hitung-hitungan arah kiblat ternyata nggak bisa asal-asalan ditarik garis lurus di peta datar. Direktur Pemetaan Batas Wilayah dan Nama Rupabumi Badan Informasi Geospasial (BIG), Khafid, menjelaskan bahwa ketelitian arah kiblat sangat bergantung pada ilmu geodesi melalui perhitungan matematika komparatif kelengkungan bumi. Secara geodesi, arah kiblat ditentukan melalui garis lingkaran besar bumi (orthodrome), yakni jalur terpendek menuju Ka'bah, dan bukan garis lurus di peta datar.

“Arah kiblat yang digunakan adalah jarak terdekat menuju Ka’bah, yaitu melalui garis orthodrome. Inilah konsep yang dipakai dalam penentuan arah kiblat karena mengikuti geometri bumi yang hampir bulat,” tutur Khafid di Bogor, dikutip oleh astakom pada Kamis, (16/7/2026).

Khazanah fikih Mazhab

Sementara dari sisi hukum Islam, perbedaan pandangan para imam mazhab mengenai batasan arah kiblat dinilainya sebagai sebuah kekayaan intelektual yang tidak perlu diperdebatkan. Guru Besar Ilmu Falak UIN Walisongo Semarang, Ahmad Izzuddin, menerangkan bahwa perbedaan pandangan para imam mazhab mengenai batasan arah kiblat ('ainul Ka'bah versus jihatul Ka'bah) adalah ijtihad yang memperkaya khazanah keilmuan Islam dan tidak perlu dipertentangkan.

“Imam Syafi’i berpendapat bahwa orang yang berada jauh tetap berusaha menghadap tepat ke bangunan Ka’bah (‘ainul Ka’bah). Sementara Imam Malik, Imam Hanafi, dan Imam Ahmad bin Hanbal berpendapat cukup menghadap ke arah Ka’bah (jihatul Ka’bah) karena mempertimbangkan kesulitan bagi mereka yang berada sangat jauh dari Makkah,” tutur Ahmad Izzuddin.

Standardisasi prosedur regional

Dalam hal implementasi kebijakan, Malaysia menawarkan model standardisasi yang sangat terstruktur dan proper banget. Dosen Jabatan Fiqh-Usul dan Sains Gunaan Universiti Malaya, Mohd Saiful Anwar Mohd Nawawi, memaparkan bahwa Malaysia memiliki lima tahapan prosedur operasional baku (SOP) dari JAKIM yang wajib dipatuhi sebelum sertifikat arah kiblat suatu bangunan diterbitkan.

“Setiap masjid atau surau yang akan dibangun wajib memperoleh kebenaran daripada pihak agama negeri dan menjalani proses pengukuran arah kiblat menggunakan kaedah yang telah distandardkan,” jelas Mohd Saiful Anwar.

Prinsip kemudahan syariat

Meskipun instrumen teknis penentu arah kiblat sekarang kian mutakhir, Peneliti Senior Office of the Mufti, Islamic Religious Council of Singapore (MUIS), Firdaus Yahya, mengingatkan umat agar tetap tenang dengan memegang prinsip kemudahan (taysir). Menurutnya, esensi penentuan kiblat dalam Islam adalah bentuk ikhtiar terbaik manusia, di mana syariat tidak akan membebani seseorang di luar batas kemampuannya.

“Islam mengajarkan agar seorang muslim berikhtiar mencari arah kiblat yang benar. Jika setelah berusaha ternyata diketahui arah tersebut kurang tepat, maka hal itu tidak membatalkan ikhtiar yang telah dilakukan,” ucap Firdaus.

Sebagai jembatan praktis, para pakar sepakat mengimbau masyarakat di Asia Tenggara untuk memanfaatkan fenomena alam Rashdul Kiblat (Istiwa A'zam) saat matahari berada tepat di atas Ka'bah pada 15 dan 16 Juli 2026. Momen ini bisa dipakai untuk mengkalibrasi arah kiblat secara mandiri dan presisi di kediaman masing-masing tanpa alat yang ribet.

Menutup jalannya seminar, Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah Kemenag, Arsad Hidayat, menegaskan krusialnya kerjasama regional ini untuk memperkokoh literasi keagamaan yang inklusif, moderat, dan berbasis ilmu pengetahuan.

“Kami ingin masyarakat memahami bahwa perbedaan pendekatan dalam menentukan arah kiblat merupakan kekayaan khazanah keilmuan Islam. Yang terpenting adalah membangun ikhtiar terbaik berdasarkan ilmu yang dapat dipertanggungjawabkan dan tetap menjaga persatuan umat,” ucap Arsad. (nAD/aNs)

Gen Z Takeaway

Nentuin arah kiblat itu nggak bisa asal tarik garis lurus di peta datar karena bumi itu bulat, jadi butuh matematika geodesi. Tapi tenang aja, perbedaan sudut pandang antar-mazhab itu bagian dari kekayaan ilmu, dan Islam selalu pakai prinsip taysir (memudahkan) yang nggak bakal bikin umat kewalahan. Plus, pas banget tanggal 15–16 Juli 2026 ini ada fenomena matahari tepat di atas Ka'bah, jadi momen terbaik buat kita kalibrasi arah kiblat sendiri di rumah tanpa ribet!

Kemenag kemenag update Kementerian Agama Sains dan Fikih Kiblat Rashdul Qiblat Rashdul Qibla

Infografis

Terkini

Pelatihan Barista Kopi Warga Binaan

Sejumlah warga binaan belajar menjadi barista di Lapas Wanita Tangerang, Banten, Rabu (15/07/2026) dalam pelatihan kerja Disnaker demi wirausaha setelah bebas.

Footage 09:01 WIB