Cek Fakta: Benarkah Narasi Calon Mahasiswa Batal Kuliah Lantaran Tak Mampu Bayar? Ini Penjelasannya

Pewarta: Dhea Vallerina Riyon
Editor: Anri Syaiful
Rabu, 8 Juli 2026 | 00:08 WIB
Cek Fakta: Benarkah Narasi Calon Mahasiswa Batal Kuliah Lantaran Tak Mampu Bayar? Ini Penjelasannya
Ilustrasi / Cek Fakta: Benarkah Narasi Calon Mahasiswa Batal Kuliah karena Tak Mampu Bayar? Ini Penjelasannya [astakom/str-Panji Arkananta]

astakom.com, Jakarta - Belakangan ini, beredar unggahan di media sosial, salah satunya melalui akun LinkedIn berinisial (AS), yang membahas banyaknya calon mahasiswa yang disebut tidak melanjutkan kuliah karena terkendala biaya. Dalam unggahan tersebut juga disampaikan klaim bahwa kondisi tersebut akan menyebabkan banyak kursi di perguruan tinggi negeri (PTN) tidak terisi.

Narasi itu kemudian ramai dibahas, banyak memicu beragam tanggapan dari warganet. Namun, benarkah informasi tersebut sesuai dengan data resmi pemerintah?

Berdasarkan penelusuran redaksi astakom.com, klaim tersebut perlu diluruskan. Melansir dari media sosial yang mengutip keterangan resmi Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek), informasi yang beredar telah disalahartikan karena mencampurkan beberapa data berbeda dan menarik kesimpulan yang tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya.

Isu: Calon mahasiswa batal kuliah karena tak punya biaya

Status: Hoax

Faktanya:

Melansir dari media nasional, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto menegaskan informasi yang menyebut puluhan ribu calon mahasiswa tidak melanjutkan kuliah tidak menggambarkan kondisi yang sebenarnya.

Brian menjelaskan, data yang ramai diperbincangkan merupakan hasil evaluasi penerimaan mahasiswa baru tahun 2025, bukan data proses Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (SNPMB) tahun 2026 yang hingga kini masih berlangsung.

"Informasi yang menyebut terdapat sekitar 60 ribu mahasiswa yang diterima namun tidak melakukan daftar ulang tidak menggambarkan kondisi yang sebenarnya," ujar Brian Yuliarto dalam keterangan resmi, Jumat silam (03/07/2026).

Selain itu, hingga berita ini ditulis tidak ditemukan data resmi dari Kemendiktisaintek maupun Panitia SNPMB yang menyatakan terdapat 113 ribu calon mahasiswa tidak melakukan registrasi ulang karena ketiadaan biaya.

Data Resmi: Peserta tidak registrasi ulang jauh lebih sedikit

Status: Fakta

Melansir dari media nasional berdasarkan data resmi Panitia SNPMB tahun 2025, angka yang sempat ramai diperbincangkan sebenarnya merupakan gabungan dari dua komponen berbeda, yaitu:

  • 42.315 kursi yang tidak terisi.
  • 17.816 peserta yang telah diterima, tetapi tidak melakukan registrasi ulang.

Artinya, peserta yang benar-benar tidak melakukan registrasi ulang berjumlah 17.816 orang, bukan seluruh angka yang selama ini ramai diperbincangkan.

Sementara itu, dari total 585.642 peserta yang dinyatakan diterima, sebanyak 567.826 peserta atau 97,2 persen telah melakukan registrasi ulang dan melanjutkan proses menjadi mahasiswa baru.

Menurut Brian, 42.315 kursi yang tidak terisi bukan disebabkan minimnya peminat, melainkan karena perguruan tinggi tetap mempertahankan standar akademik dalam proses seleksi.

"Perguruan tinggi tetap menerapkan standar mutu dalam proses seleksi sehingga kursi yang belum memenuhi kualifikasi tidak diisi semata-mata untuk memenuhi target daya tampung. Kebijakan tersebut merupakan bentuk komitmen dalam menjaga kualitas penyelenggaraan pendidikan tinggi agar lulusan yang dihasilkan memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat, dunia kerja, dan industri," kata Brian.

Penyebab peserta tidak daftar ulang bukan hanya soal biaya

Status: Fakta

Hasil analisis Panitia SNPMB menunjukkan terdapat berbagai faktor yang menyebabkan sebagian peserta tidak melakukan registrasi ulang.

Beberapa di antaranya yakni:

  • diterima pada program studi yang bukan pilihan utama sehingga memilih mengikuti jalur seleksi lain;
  • diterima di perguruan tinggi kedinasan atau perguruan tinggi kementerian/lembaga lainnya;
  • pertimbangan pribadi maupun keluarga;
  • sebagian pendaftar KIP Kuliah tidak memenuhi persyaratan setelah proses verifikasi atau memperoleh bantuan parsial sehingga masih membutuhkan dukungan biaya hidup dari keluarga.

Dengan demikian, tidak seluruh peserta yang tidak melakukan registrasi ulang disebabkan oleh faktor ekonomi atau tidak memiliki biaya kuliah.

Brian juga menegaskan proses verifikasi KIP Kuliah dilakukan agar bantuan pemerintah benar-benar diterima oleh mahasiswa yang paling membutuhkan.

"Kemdiktisaintek menegaskan bahwa proses verifikasi KIP Kuliah dilakukan untuk menjaga prinsip ketepatan sasaran sehingga bantuan pemerintah diberikan kepada calon mahasiswa yang benar-benar berasal dari keluarga yang paling membutuhkan," ujar Brian.

Klaim banyak kursi PTN kosong juga perlu dilihat sesuai data

Status: Hoax

Unggahan yang beredar juga mengaitkan banyaknya calon mahasiswa yang disebut batal kuliah dengan anggapan bahwa sebagian besar kursi PTN akan kosong.

Faktanya, melansir media nasional, pada penerimaan mahasiswa baru tahun 2025 total daya tampung PTN melalui jalur SNBP, SNBT, dan Seleksi Mandiri mencapai 627.957 kursi. Dari jumlah tersebut, sebanyak 585.642 peserta diterima, sehingga terdapat 42.315 kursi atau sekitar 6,7 persen yang tidak terisi.

Menurut Kemendiktisaintek, kondisi tersebut terjadi karena perguruan tinggi tetap menjaga standar mutu akademik, sehingga kursi yang belum memiliki peserta dengan kualifikasi sesuai tidak diisi hanya demi memenuhi kuota. (deA/aNs)

Gen Z Takeaway

Di era media sosial, angka besar memang mudah menarik perhatian. Namun, angka tanpa konteks bisa memunculkan kesimpulan yang keliru. Berdasarkan penjelasan resmi Kemendiktisaintek yang dilansir media nasional, narasi yang menyebut banyak calon mahasiswa batal kuliah karena tidak memiliki biaya tidak sepenuhnya sesuai fakta. Data resmi menunjukkan peserta yang tidak melakukan registrasi ulang berjumlah 17.816 orang, dengan penyebab yang beragam, bukan semata-mata karena faktor ekonomi. Karena itu, sebelum ikut membagikan sebuah unggahan, pastikan selalu memeriksa sumber dan konteks datanya agar tidak ikut menyebarkan informasi yang menyesatkan.

Kemendiktisaintek Kemendikti Saintek SNPMB Mahasiswa

Infografis

Terkini