Ditjen PE2HU Perkuat Ekosistem Ekonomi Haji Lewat Kementerian Haji dan Umrah
astakom.com, Jakarta – Direktorat Jenderal Pengembangan Ekosistem Ekonomi Haji dan Umrah (Ditjen PE2HU) Kementerian Haji dan Umrah tengah memaksimalkan dampak ekonomi dari pelaksanaan ibadah haji bagi negara. Melalui serangkaian program strategis, upaya penguatan ekosistem ekonomi tersebut menjadi fokus utama dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) yang digelar di Jakarta pada Senin (06/07/2026).
Potensi Rp80 triliun
Nilai ekonomi dari sektor haji dan umrah di Indonesia diperkirakan mencapai Rp80 triliun setiap tahunnya. Melihat potensi yang begitu besar, Direktur Jenderal PE2HU, Jaenal Effendi, menyatakan bahwa pengembangan ekosistem ekonomi haji yang terintegrasi mutlak diperlukan guna mengoptimalkan perputaran dana tersebut bagi negara.
"Pengembangan ekosistem ekonomi haji merupakan upaya untuk memastikan penyelenggaraan haji tidak hanya memberikan manfaat dari sisi pelayanan ibadah, tetapi juga menghadirkan nilai tambah bagi perekonomian nasional melalui peningkatan keterlibatan produk, jasa, dan pelaku usaha dalam negeri,” ucap Jaenal dikutip oleh astakom pada Selasa, (07/072026).
Bumbu nusantara go global
Salah satu langkah konkret yang terus diperkokoh adalah memperluas masuknya produk lokal untuk memenuhi kebutuhan jemaah haji dan umrah. Upaya ini dibuktikan lewat ekspor lebih dari 300 ton bumbu Nusantara yang mencakup 28 jenis varian, guna memasok sekitar 3,1 juta paket makanan siap saji di Tanah Suci.
Maksimalkan empty flight
Di sektor transportasi dan pariwisata, Ditjen PE2HU memaksimalkan pemanfaatan penerbangan kosong (empty flight) untuk mendatangkan pelancong dari Timur Tengah ke tanah air. Inisiatif hasil kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan ini tercatat telah menjaring 1.723 penumpang dan bakal terus dikembangkan guna memperluas dampak ekonominya di masa depan.
Investasi & digitalisasi
Selain itu, penguatan ekosistem ekonomi haji ditempuh melalui strategi investasi terintegrasi dari hulu hingga hilir, khususnya dalam memantapkan sistem pengadaan dan distribusi produk lokal bagi kebutuhan jemaah. Langkah ini membuka peluang besar bagi pelaku usaha nasional untuk mengambil peran hingga 30% - 40% dalam rantai nilai haji dan umrah. Guna mendukung seluruh ekosistem tersebut secara modern, pengembangan Platform Ekonomi Haji berbasis digital juga terus dipacu.
Jaenal menekankan kalau kunci keberhasilan pengembangan ekosistem ini terletak pada kolaborasi yang solid antar-pemangku kepentingan. Atas dasar itu, Ditjen PE2HU berkomitmen terus mempererat sinergi lintas sektor guna memperkokoh rantai pasok nasional, memacu investasi, mendongkrak daya saing produk domestik, serta memperluas dampak positif ekonomi haji bagi masyarakat luas.
“Ekosistem ekonomi haji tidak dapat dibangun oleh satu pihak. Sinergi seluruh pemangku kepentingan menjadi kunci untuk memperkuat rantai pasok nasional, membuka peluang investasi, meningkatkan daya saing produk dalam negeri, serta menghadirkan manfaat ekonomi yang berkelanjutan bagi masyarakat,” ucap Jaenal.
Lewat momentum Rakernas tersebut, Ditjen PE2HU menegaskan kembali komitmennya untuk mematangkan eksekusi berbagai program strategis. Langkah penguatan ekosistem dan penajaman sinergi lintas sektor ini diharapkan mampu memperkuat potensi ekonomi haji, sekaligus memberikan kontribusi nyata bagi pertumbuhan ekonomi nasional. (nAD/aNs)
Gen Z Takeaway
Ibadah haji gak cuma soal spiritual, tapi juga ladang cuan raksasa buat ekonomi lokal! Dengan perputaran duit Rp80 triliun per tahun, pemerintah lagi gaspol lewat Ditjen PE2HU buat mastiin produk lokal (kayak ekspor ratusan ton bumbu Nusantara) dan digitalisasi platform ekonomi haji bisa kasih impact nyata buat pelaku usaha dalam negeri. Support lokal sampai ke Tanah Suci!









