Menteri Bahlil Masih Persiapkan CNG Buat Ganti LPG? Bidik Metana Gas Murni Versi Rumah Tangga Jalan Bulan Juli

Pewarta: Shintya
Editor: AR Purba
Senin, 29 Juni 2026 | 15:46 WIB
Menteri Bahlil Masih Persiapkan CNG Buat Ganti LPG? Bidik Metana Gas Murni Versi Rumah Tangga Jalan Bulan Juli
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia dan Tabung LPG ke CNG. [Ilustrasi AI/Kolase foto]

astakom.com, Jakarta - Kementerian ESDM terpantau masih terus tancap gas menyiapkan compressed natural gas (CNG) ukuran 3 kilogram (kg) sebagai alternatif baru pengganti liquefied petroleum gas (LPG) 3 kg untuk kebutuhan rumah tangga. 

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menargetkan produksi tabung CNG 3 kg mulai berjalan pada Juli 2026 setelah melewati tahap uji coba keamanan.

Fyi, pengembangan tabung CNG udah masuk tahap ketiga pengujian. Teknologi ini dibuat dengan standar khusus karena tekanan gas CNG jauh lebih tinggi dibanding LPG, yaitu mencapai 200 sampe 250 bar. Makanya tabung CNG dilengkapi katup valve khusus supaya penggunaan di sektor rumah tangga tetap aman.

Masuk uji tahap ketiga

Bahlil pastikan masyarakat tidak perlu melakukan “upgrade besar-besaran” kayak mengganti kompor saat nantinya beralih pakai CNG, jadi cukup mengganti gas aja. Pemerintah bersama PT Pertamina (Persero) sekarang masih fokus memastikan aspek safety, mulai dari ketahanan tabung terhadap ledakan sampe risiko kebakaran.

"Itu bisa menahan peledakan dan kebakaran sampai 1.000 cc. Itu sudah sekarang lagi diuji tahap ketiga, mudah-mudahan bulan Juli sudah bisa produksi," kata Bahlil kepada media dalam Energy Forum di Hotel Borobudur Jakarta, dikutip oleh astakom.com pada Senin (29/6/2026).

CNG udah dipakai industri

Pemerintah menilai penggunaan CNG bukan sekadar wacana baru yang tiba-tiba muncul. Teknologi ini sebelumnya sudah banyak digunakan di sektor industri dan komersial.

Saat ini, tabung CNG berkapasitas 12 kg dan 50 kg telah dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan, termasuk dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG), hotel, sampe restoran.

Jadi ini sebagai upaya pemerintah memperluas pemanfaatannya ke masyarakat rumah tangga, khususnya penerima subsidi energi.

"Ini bukan barang muncul tiba-tiba dari Fak-Fak datang, tidak, ini sudah ada," kata Bahlil.

Gas lokal melimpah jadi alasan pemerintah push CNG

Dorongan penggunaan CNG juga berkaitan dengan potensi cadangan gas alam Indonesia yang besar. Bahlil menyebut Indonesia memiliki sumber gas domestik yang cukup kuat untuk mendukung transisi energi ini.

Salah satunya berasal dari temuan cadangan gas oleh perusahaan energi asal Italia, Eni di Kalimantan Timur. Cadangannya diperkirakan mencapai sekitar 5 triliun kaki kubik (TCF), ditambah sekitar 2 TCF lainnya.

Lapangan gas tersebut diproyeksikan mulai berproduksi pada 2028 hingga 2029 dengan kapasitas mencapai 3.000 million standard cubic feet per day (MMSCFD). Angka ini disebut jauh lebih besar dibanding kebutuhan gas untuk menggantikan konsumsi LPG nasional yang diperkirakan berada di bawah 800 MMSCFD.

Push ekosistem yang lebih sustainable

"Maka kita dorong sekarang CNG. CNG itu gasnya pakai C1, C2 dan itu melimpah di Indonesia," kata Bahlil.

Dengan konsep memanfaatkan sumber energi domestik, pemerintah melihat CNG sebagai langkah untuk memperkuat ketahanan energi nasional.

Kalau produksi mulai berjalan sesuai target, tabung CNG 3 kg bakal menjadi salah satu opsi baru dalam ekosistem energi rumah tangga Indonesia yang lebih “sustainable” dan berasal dari sumber daya alam dalam negeri. (Shnty/aRsp)

Gen Z Takeaway

CNG 3 kg siap jadi “new player” energi rumah tangga Indonesia, dengan target produksi mulai Juli 2026. Pemerintah klaim teknologi ini aman dan nggak butuh upgrade besar-besaran. Dorongan CNG datang karena cadangan gas lokal melimpah dan dianggap bisa bikin energi Indonesia makin mandiri.

CNG CNG 3 KG LPG Gas Metana Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia

Infografis

Terkini