Viral Anak Sekolah Menyeberangi Sungai di Aceh Barat, Benarkah Jembatan Canggai–Jambak Belum Diperbaiki?

Pewarta: Dhea Vallerina Riyon
Editor: AR Purba
Senin, 29 Juni 2026 | 17:17 WIB
Viral Anak Sekolah Menyeberangi Sungai di Aceh Barat, Benarkah Jembatan Canggai–Jambak Belum Diperbaiki?
Anak-anak di Pante Ceureumen, Aceh Barat, terpaksa menyeberang sungai untuk pergi ke sekolah. [Tangkapan layar Tiktok/anwaryunus21]

astakom.com, Jakarta — Video yang memperlihatkan sejumlah anak sekolah menyeberangi Sungai Meureubo di Kecamatan Pante Ceureumen, Kabupaten Aceh Barat, kembali menjadi sorotan publik. 

Video yang turut diunggah melalui akun social network Azwir Zubir itu memicu pertanyaan mengenai kelanjutan rehabilitasi jembatan gantung penghubung Gampong Canggai dan Gampong Jambak yang rusak akibat banjir bandang.

Dalam unggahannya, Azwir Zubir menyoroti kondisi anak-anak yang harus mempertaruhkan keselamatan demi bisa bersekolah dan mempertanyakan sejauh mana penanganan infrastruktur yang dijanjikan pemerintah.

Lantas, benarkah video tersebut? Apakah jembatan sudah dibangun atau justru masih terbengkalai?

Redaksi astakom.com melakukan penelusuran terhadap pemberitaan resmi, pernyataan Pemerintah Kabupaten Aceh Barat, serta informasi yang dipublikasikan sejumlah media nasional.

Narasi yang beredar

Anak-anak sekolah di Aceh Barat masih harus menyeberangi sungai karena jembatan gantung penghubung Gampong Canggai dan Gampong Jambak rusak dan hingga kini belum dapat digunakan.

Faktanya

Berdasarkan hasil penelusuran, narasi tersebut benar, namun perlu dilengkapi dengan konteks mengenai proses rehabilitasi yang sedang dipersiapkan pemerintah daerah.

Lokasi dalam video memang berada di Gampong Canggai–Jambak, Kecamatan Pante Ceureumen, Kabupaten Aceh Barat. Jembatan gantung yang menjadi akses utama masyarakat rusak akibat banjir bandang pada akhir November 2025. Sejak saat itu, warga harus menggunakan jalur alternatif atau menyeberangi Sungai Meureubo dengan perahu. Kondisi ini juga dialami siswa SD Negeri Alue Lhok yang setiap hari harus menyeberangi sungai untuk berangkat ke sekolah.

Pemerintah Kabupaten Aceh Barat melalui Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR), Fadly Octora, membenarkan kondisi tersebut. Menurutnya, rehabilitasi jembatan telah ditetapkan sebagai salah satu prioritas pemerintah daerah.

"Proyek rehab jembatan gantung ini rencananya akan segera ditender dalam waktu dekat ini. Kami berharap pada bulan Juli mendatang, pengerjaan fisiknya sudah bisa dimulai." Jelas Fadly Octora dikutip dari media nasional.

Fadly menjelaskan, saat ini pemerintah sedang mempercepat proses administrasi agar proyek dapat segera memasuki tahap tender.

Ia juga mengakui putusnya jembatan telah berdampak terhadap berbagai sektor kehidupan masyarakat.

"Kami sangat merasakan kondisi masyarakat di sana, terutama anak-anak sekolah yang harus bertaruh risiko menyeberang sungai atau naik perahu." Sambung Faldy Octora.

Menurutnya, kerusakan jembatan tidak hanya menghambat akses pendidikan, tetapi juga aktivitas ekonomi, pelayanan kesehatan, dan pelayanan publik masyarakat di kawasan pedalaman Pante Ceureumen.

Anggaran Rehabilitasi sudah ada

Pemerintah Kabupaten Aceh Barat memastikan anggaran rehabilitasi telah tersedia. Dana lebih dari Rp1 miliar dialokasikan melalui Transfer ke Daerah dan Dana Desa (TKDD) Tahun Anggaran 2026.

Fadly optimistis proyek dapat segera direalisasikan setelah proses tender selesai.

"Insya Allah, kalau tidak ada hambatan, pada Juli 2026 proyek rehabilitasi jembatan gantung penghubung Gampong Canggai dan Jambak akan segera terealisasi setelah proses tender dilakukan."

Publik nantikan update progres rehabilitasi jembatan oleh Pemda

Meski demikian, hingga penelusuran dilakukan, belum ditemukan pengumuman resmi dari Pemerintah Kabupaten Aceh Barat yang menyatakan pekerjaan fisik telah dimulai, rehabilitasi telah selesai, ataupun jembatan telah kembali difungsikan. Informasi resmi terakhir masih menyebut proyek berada pada tahap administrasi dan persiapan tender dengan target pelaksanaan pada Juli 2026.

Pemerintah juga mengajak masyarakat untuk ikut mengawal proses rehabilitasi tersebut.

"Kami memohon doa dan dukungan dari seluruh lapisan masyarakat agar proses ini berjalan lancar. Jembatan gantung ini adalah kebutuhan mendesak yang menjadi perhatian serius Pemerintah Kabupaten Aceh Barat."

Kesimpulan

Hasil penelusuran menunjukkan video yang viral bukan hoaks. Peristiwa tersebut memang terjadi di Gampong Canggai–Jambak, Kecamatan Pante Ceureumen, Kabupaten Aceh Barat. Jembatan gantung penghubung kedua gampong rusak akibat banjir bandang pada akhir November 2025 sehingga masyarakat, termasuk anak-anak sekolah, harus mencari alternatif untuk menyeberangi Sungai Meureubo.

Pemerintah Kabupaten Aceh Barat telah menetapkan rehabilitasi jembatan sebagai prioritas, mengalokasikan anggaran lebih dari Rp1 miliar, dan menargetkan pekerjaan dilakukan setelah proses tender. Namun, hingga informasi resmi terakhir yang tersedia, belum ada pengumuman progres rehabilitasi. (deA/aRsp)

Gen Z Takeaway

Di era media sosial, konten viral sering kali memancing emosi sebelum fakta terungkap. Kasus jembatan gantung Canggai–Jambak menunjukkan bahwa video yang beredar memang nyata, tetapi perkembangan penanganannya harus tetap mengacu pada informasi resmi, bukan asumsi. Pemerintah sudah mengalokasikan anggaran dan menargetkan rehabilitasi, namun belum mengumumkan secara resmi bahwa proyek selesai atau jembatan kembali berfungsi. Karena itu, sebelum ikut membagikan atau menyimpulkan sebuah informasi, biasakan melakukan cek fakta agar opini yang terbentuk benar-benar didasarkan pada data, bukan sekadar narasi yang viral.

Video Viral BeritaViral Cek fakta Aceh Barat

Infografis

Terkini