Walaah, Tantri Kotak Ditipu Teman Sendiri? Berawal dari Sahabat hingga Dugaan Rugi Rp10 Miliar
astakom.com, Jakarta - Kepercayaan pada sosok teman yang terjalin selama bertahun-tahun justru berujung pada dugaan penipuan. Hal ini dialami vokalis Kotak, Tantri Syalindri. Ia mengaku menjadi salah satu korban setelah menerima tawaran kerja sama bisnis dari seseorang yang telah dikenalnya sejak 2021.
Kasus ini mencuat setelah Tantri mengungkap pengalamannya melalui media sosial pribadinya. Ia menyebut bukan hanya dirinya yang dirugikan, tetapi juga sejumlah korban lain dengan total kerugian yang diperkirakan mencapai sekitar Rp10 miliar.
Hingga kini, Tantri masih berharap ada penyelesaian secara baik-baik. Namun, ia mengaku bersama korban lain telah mengumpulkan bukti apabila nantinya harus menempuh jalur hukum.
Berawal dari pertemanan, berlanjut ke tawaran bisnis
Tantri mengungkapkan bahwa dirinya mengenal terduga pelaku sejak 2021. Hubungan mereka terjalin karena anak-anak mereka bersekolah di tempat yang sama. Seiring waktu, keduanya menjadi dekat hingga saling percaya.
Pada 2025, terduga pelaku menawarkan kerja sama bisnis berupa penyertaan modal untuk pembelian produk. Awalnya Tantri mengaku sempat menolak karena tidak ingin urusan bisnis merusak hubungan pertemanan.
Namun, setelah melihat bisnis tersebut berjalan dan dilandasi rasa percaya, ia akhirnya memutuskan untuk ikut bergabung.
""Awalnya aku ragu karena khawatir urusan bisnis akan memengaruhi pertemanan. Namun karena kepercayaan yang sudah terbangun dan pengalaman yang selama ini berjalan lancar, aku akhirnya luluh juga," ungkap Tantri, seperti dikutip dari media nasional pada Jumat, (26/6/2026).
Selama kurang lebih satu tahun, kerja sama itu disebut berjalan lancar sehingga tidak memunculkan rasa curiga dari para korban.
Kontak terputus, korban mulai saling mencari informasi
Situasi berubah setelah transaksi terakhir dilakukan sekitar 19 Juni 2026. Tantri mengaku nomor telepon dan akun media sosial terduga pelaku mendadak tidak bisa dihubungi.
Ia bersama korban lainnya kemudian mencoba mencari keberadaan terduga pelaku hingga mendatangi rumah keluarganya. Namun, upaya tersebut belum membuahkan hasil.
Melalui komunikasi antarkorban, Tantri menyadari bahwa bukan hanya dirinya yang mengalami kejadian serupa. Bahkan, menurut informasi yang diterimanya, ada anggota keluarga terduga pelaku yang juga diduga menjadi korban.
"Ternyata setelah kami saling komunikasi, korbannya banyak," ujar Tantri.
Temuan tersebut membuat para korban mulai mengumpulkan bukti dan mendata nilai kerugian masing-masing.
Kerugian diperkirakan Rp10 Miliar, masih utamakan itikad baik
Berdasarkan komunikasi yang dilakukan para korban, total kerugian diperkirakan mencapai sekitar Rp10 miliar. Meski demikian, angka tersebut masih merupakan klaim para korban dan belum melalui proses pembuktian di pengadilan.
Tantri mengatakan dirinya belum ingin terburu-buru membawa persoalan tersebut ke jalur hukum. Ia masih berharap terduga pelaku bersedia datang memberikan penjelasan dan menunjukkan itikad baik.
"Kami masih menunggu itikad baiknya. Kalau memang mau menyelesaikan dengan baik, kami masih membuka kesempatan," kata Tantri.
Meski begitu, ia memastikan seluruh bukti transaksi telah disiapkan apabila penyelesaian damai tidak tercapai.(deA/aRsp)








