Dari Lapak Es Kacang Merah Menuju Mimpi Menjadi Dokter: Kisah Dinda dan Peluang Kedua
astakom.com, Jakarta — Siang itu di tahun 2024, di bawah terik kawasan Kemiling, Bandar Lampung, Lampung, Dinda Tri Listya Zuniar (16) sibuk membantu ibunya menuangkan sirup ke atas mangkuk-mangkuk es kacang merah. Di saat remaja seusianya mengenakan seragam putih-biru, Dinda harus melipat mimpinya rapat-rapat.
Sejak kelas VII SMP pada tahun 2023, ia terpaksa putus sekolah karena impitan ekonomi keluarga. Ayahnya seorang sopir, dan pendapatan dari jualan es hanya cukup untuk menyambung hidup.
Namun, takdir mengetuk lapak dagangannya melalui sebuah pertemuan tak terduga. Sebuah mobil merah menepi, dan sang pengemudi melontarkan pertanyaan sederhana yang kelak mengubah garis hidup Dinda: "Kamu masih sekolah?"
"Saya jawab jujur, saya putus sekolah sejak 2023, Pak," kenang Dinda mengingat momen di tahun 2024 tersebut.
Pria asing itu kemudian menceritakan program baru pemerintah, yakni Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) yang digagas Presiden Prabowo Subianto. Tanpa ragu, Dinda mengangguk mantap. "Saya bilang, saya mau, Pak. Selagi saya masih bisa sekolah." tegasnya.
Tak lama berselang, petugas Program Keluarga Harapan (PKH) menyambangi rumahnya di Kaliawi untuk mengurus administrasi. Dinda resmi mendapatkan tiketnya kembali ke ruang kelas melalui SRT 35 Bandar Lampung pada September 2025.
Membayar waktu yang hilang
Masuk ke sekolah berasrama ini seperti membuka gerbang dunia baru bagi Dinda. Jika dulu ia hanya bisa belajar bahasa Inggris secara mandiri lewat ponsel di sela-sela jualan es, kini ia melahap berbagai mata pelajaran formal, mulai dari rumus matematika hingga sejarah.
Ketertarikannya pada pelajaran sejarah bahkan melahirkan sebuah resolusi besar di kepalanya. "Aku suka sejarah. Kalau nanti insya Allah sukses, aku ingin mendirikan sekolah gratis untuk membantu anak-anak yang bernasib sama seperti aku dulu," ujar remaja yang juga bercita-cita menjadi dokter ini.
Sebagai fasilitas rintisan, Dinda mengaku kehidupan di asrama SRT 35 sangat memanusiakan siswa. Kebutuhan personal dari hal sekecil sabun mandi, sikat gigi, hingga detergen dipenuhi secara cuma-cuma. Bahkan, urusan mencuci pakaian seragam sudah dibantu mesin cuci sehingga siswa bisa fokus belajar.
Meski demikian, sebagai anak yang haus ilmu, ia menyelipkan satu permintaan sederhana. "Buku di perpustakaan tolong ditambah lagi. Biar anak-anak Sekolah Rakyat bisa membaca lebih banyak. Ilmu itu tidak pernah habis," pintanya retoris.
Menjawab sinisme dengan prestasi
Di luar dinding sekolah, program Sekolah Rakyat ini tak luput dari riuh kritik dan sentimen politik. Namun, bagi anak jalanan yang diselamatkan oleh sistem ini, sinisme di luar sana hanyalah angin lalu. Dinda memilih tidak beretorika untuk membela sekolahnya. Ia memilih menjawabnya dengan pembuktian.
"Untuk orang-orang yang menjelekkan Sekolah Rakyat, ke depan Dinda bakal buktiin kalau program ini tidak ada yang gagal. Semua berhasil kalau kita mau belajar," tegas Dinda dengan nada bicara yang dewasa melampaui usianya.
Bagi Dinda, kesuksesan anak-anak marjinal seperti dirinya di masa depan adalah tamparan paling telak bagi para pengkritik. "Biarkan nanti kami yang membuktikan sendiri saat kami sudah sukses. Kami akan tunjukkan bahwa kami berasal dari keluarga tidak mampu, sekolah di Sekolah Rakyat, dan kami bisa berhasil." (Usm/ACwan/aNs)
Gen Z Takeaway
Kisah Dinda ini bener-bener definisi from zero to hero! Dari yang tadinya terpaksa putus sekolah demi bantuin ibunya jualan es kacang merah, langsung dapet plot twist ketemu orang random bermobil merah yang ngebuka jalan ke Sekolah Rakyat programnya Pak Prabowo. Sekarang dia bisa upgrade skill digital, dapet fasilitas asrama yang full support anti ribet, dan punya mimpi big scale pengen jadi dokter sekaligus bikin sekolah gratis. Buat yang hobi nyinyirin program ini, Dinda cuma mau bilang: Savage! Mending liat buktinya nanti pas anak-anak marjinal ini pada sukses dan slay di masa depan!









