Menantang Jarak 20 Km, Sekolah Rakyat Bandar Lampung Desak Lahan Permanen

Pewarta: A. Cuwantoro
Editor: Anri Syaiful
Sabtu, 13 Juni 2026 | 09:29 WIB
Menantang Jarak 20 Km, Sekolah Rakyat Bandar Lampung Desak Lahan Permanen
Sekolah Rakyat Terintegrasi 35 Bandar Lampung [Dok. Instagram @srt35bandarlampung]

astakom.com, JakartaSekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 35 Bandar Lampung, Lampung, berhasil mengubah nasib anak-anak marjinal dari keluarga rentan menjadi melek digital. Namun, asa yang baru tumbuh sejak September 2025 ini kini membentur dinding realitas: mereka belum memiliki gedung permanen.

Selama ini, SRT 35 menumpang di Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP) Kemnaker yang kapasitasnya terbatas untuk 75 murid. Masalah besar muncul pada tahun ajaran 2026/2027, di mana sekolah harus menerima 60 murid baru jenjang SD dan SMP. 

Solusi darurat diungsikan ke fasilitas SRMA 32 di Lampung Selatan

Sebagai solusi darurat, puluhan murid baru tersebut akan diungsikan ke fasilitas SRMA 32 di Lampung Selatan yang jaraknya membentang sejauh lebih dari 20 kilometer.

"Belum terbayang bagaimana kami membagi tugas guru, wali asrama, dan wali asuh untuk menangani murid tambahan itu, mengingat jarak yang jauh dan keterbatasan SDM," ujar Kepala SRT 35 Bandar Lampung, Anton Hamidi, Kamis silam (11/06/2026). 

Ia mendesak Pemerintah Kota Bandar Lampung segera mempercepat penyediaan lahan permanen.

Tantangan SRT 35 memang berlipat ganda karena mayoritas murid berasal dari keluarga desil terbawah ekonomi yang akrab dengan trauma perceraian, KDRT, hingga pengabaian. Menurut Anton, selain fasilitas digital satu murid satu laptop yang kini sudah lengkap disokong pemerintah, sekolah mendesak butuh kehadiran psikolog khusus untuk mendampingi pemulihan psikologis siswa.

Di sisi lain, operasional sekolah masih menyisakan pekerjaan rumah minor, seperti distribusi logistik seragam yang ukurannya kedodoran dan sepatu yang kekecilan bagi siswa.

Memutus mata rantai putus sekolah

Meski demikian, program ini terbukti nyata memutus mata rantai putus sekolah. Bahkan, anak-anak yang dulunya luntang-lantung tanpa NIK kini bisa mengakses pendidikan dan berprestasi. Keberhasilan ini memicu respons emosional dari para orang tua murid. 

"Secara spontan mereka menyampaikan, ‘Terima kasih Bapak Presiden, terima kasih Bapak Prabowo. Sekarang anak kami sudah sekolah lagi dan perkembangannya sangat baik,’" tutur Anton.

Bagi Anton, dampak riil ini adalah jawaban terbaik bagi para pengkritik program di luar sana. "Fakta di lapangan berbicara dengan sendirinya. Kami tidak meng-counter kampanye negatif dengan retorika, tetapi menunjukkan hasil nyata," tegasnya. 

Kini, bola panas berada di tangan Pemkot Bandar Lampung untuk segera menyediakan lahan demi masa depan anak-anak marjinal tersebut. (Usm/ACwan/aNs)

Gen Z Takeaway

SRT 35 Bandar Lampung ini sebenernya core-nya udah keren parah—anak-anak marjinal yang tadinya hopeless sekarang bisa upgrading pake fasilitas digital plus laptop 1-on-1. Tapi ya gitu, sekolah ini lagi kena mental health test dan butuh healing berupa lahan permanen secepatnya; bayangin aja murid baru nambah tapi mereka harus survive oper-operan kampus sejauh 20 km, belum lagi kudu nge-heal trauma masa lalu anak-anaknya yang complex banget. Gws buat birokrasinya, semoga Pemkot gercep ngasih tanah biar project keren ini gak flop!

Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 35 Bandar Lampung sekolah rakyat Sekolah Rakyat Prabowo

Infografis

Terkini