Pengamat Pasar Keuangan Spill #SellSingapore Punya Makna Besar: Dari Nilai Ekonomi dan Nasionalisme Finansial RI
astakom.com, Jakarta - Hashtag #SellSingapore ramai digunakan di media sosial akhir-akhir ini setelah beberapa oknum yang ngide meramaikan hashtag #SellIndonesia.
'Sell Indonesia' yang tadinya buat menggerakkan massa menjual aset Indonesia direspons netizen dengan tagar #SellSingapore.Moitoring redaksi astakom.com dari beberapa percapkapan publik sosmed, justru belakangan ini konglomerat Indonesia mulai melepas aset besar mereka di Singapura.
Tapi di kalangan komunitas pasar modal dan diskusi yang digembar gembor sama Dr. Gema Goeyardi, hastag itu punya makna lebih kompleks daripada sekadar slogan politik atau ekonomi.
Dikutip dari RRI, simplenya, #SellSingapore itu bentuk kritik terhadap kondisi saat ini yaitu sebagian besar nilai ekonomi Indonesia dianggap lebih banyak mengalir dan dihargai di Singapura dibandingkan di Indonesia sendiri. Di beberapa diskusi yang beredar, Singapura dinilai sebagai pusat tempat modal, investasi, dan tempat berkumpulnya valuasi bisnis Indonesia.
Nasionalisme finansial
#SellSingapore yang viral saat ini merupakan simbol dari kegelisahan sebagian masyarakat dan investor terhadap hubungan ekonomi Indonesia-Singapura. Di balik slogan yang heboh itu, ada pesan yang lebih besar, yaitu keinginan dan harapan supaya Indonesia mampu menghargai, membiayai, dan mengembangkan asetnya sendiri tanpa terlalu bergantung pada pusat keuangan luar negeri.
Karena itu, #SellSingapore lebih tepat dipahami sebagai gerakan kesadaran ekonomi dan nasionalisme finansial, bukan cuma slogan bersifat ajakan buat memusuhi Singapura. Tujuan akhirnya adalah agar Indonesia suatu saat bisa menjadi pusat modal dan investasi regional yang mampu menyaingi bahkan melampaui peran yang selama ini dimainkan oleh Singapura.
Ada penjualan properti di Singapura
Dilansir dari Forbes pada Jumat (12/6/2026), di Singapura sendiri terjadi kenaikan atau inflasi di sejumlah properti dan aset. Bahkan perusahaan yang dimiliki orang Indonesia, OUE Commercial REIT, beberapa waktu lalu mencari pembeli untuk gedung pencakar langitnya, One Raffles Place, di kawasan Central Business District Singapura.
Nilai propertinya diperkirakan mencapai SGD2,4 miliar (Rp32 triliun). Posisi OUE REIT memegang saham efektif sekitar 68 persen di One Raffles Place.
OUE REIT adalah perusahaan properti yang terdaftar di bursa Singapura milik keluarga Riady, OUE Ltd, yang dipimpin oleh putra Mochtar, Stephen.
Grup Lippo milik keluarga yang punya kekayaan bersih USD2,4 miliar, memiliki investasi yang mencakup real estat, ritel, media, perawatan kesehatan, dan pendidikan.
Nilai perusahaan RI malah dihimpun di luar negeri
Pada isu ini, persepsi yang muncul di pelaku pasar modal saat investor menarik dana dari pasar Indonesia dan memindahkannya ke instrumen atau pusat keuangan di Singapura persepsinya Indonesia kehilangan sebagian potensi pertumbuhan ekonominya. Isu ini menjadi salah satu pemicu diskusi yang ramai di kalangan investor ritel.
Nggak sedikit juga startup dan perusahaan besar Indonesia yang secara operasional ada di Indonesia, tetapi struktur perusahaan induknya ada di Singapura. Hal ini bikin sebagian masyarakat mempertanyakan kenapa nilai perusahaan Indonesia justru tercatat atau dihimpun di luar negeri.
Ingin memperkuat pasar modal domestik
Jadi kalau diterjemahkan ke dalam bahasa ekonomi, #SellSingapore sebenarnya bukan tentang menjual Singapura. Akan tetapi, tentang mengurangi ketergantungan terhadap pusat keuangan luar negeri.
Lanjut, tagar ini juga dimaknai untuk meningkatkan daya saing Indonesia, memperkuat pasar modal domestik. Mendorong investor melihat potensi jangka panjang Indonesia, dan menjadikan Indonesia bukan hanya produsen nilai, tetapi juga pusat penghargaan nilai tersebut. (Shnty/aRsp)









