Ujug-ujug Kementerian ESDM Kaji Penggunaan CNG 3 Kg, Yuk Simak Kondisi Energi Gas di Negara Maju

Pewarta: Dhea Vallerina Riyon
Editor: AR Purba
Jumat, 12 Juni 2026 | 09:44 WIB
Ujug-ujug Kementerian ESDM Kaji Penggunaan CNG 3 Kg, Yuk Simak Kondisi Energi Gas di Negara Maju
Gambar LPG ukuran 3 kg dan CNG ukuran 3 kg. (astakom/AI)

astakom.com, Jakarta - Seperti sebuah ungkapan, gak ada angin gak ada petir. Tau-tau Kementerian ESDM lagi ngulik opsi baru buat perubahan LPG alias elpiji ke Compressed Natural Gas (CNG). 

Beberapa pekan lalu diinformasikan pihak ESDM, evolusi LPG-CNG lagi masuk tahap pengujian Compressed Natural Gas (CNG) 3 kilogram buat jadi alternatif gas melon subsidi.

Melansir astakom.com, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengklaim saat ini ‘Pemerintah’ lagi ngetes pengembangan tabung CNG ukuran rumah tangga di dua lokasi sekaligus, yakni China dan Indonesia. 

Pengujian masih difokusin ke aspek keamanan karena tekanan gas di tabung CNG jauh lebih tinggi dibanding LPG biasa, bahkan bisa nyampe 200–250 bar. Selain aspek keamanan, Kementerian ESDM mengaku masih ngulik mekanisme distribusi sampai skema subsidi supaya nantinya tetap bisa dijangkau masyarakat. 

Di tengah proses kajian tersebut, kondisi di negara-negara maju nunjukkin bahwa gas dengan turunan bahan bakar Hidrokarbon butana C4 H10 dan Metana CH4 (LPG-CNG) masih jadi bagian penting dalam sistem bahan bakar energi rumahan hingga industri, meski transisi menuju energi rendah emisi terus jalan.

Jepang masih andalkan gas buat jaga stabilitas energi

Melansir dari New Straits Times dalam laporan berjudul “Malaysia, Japan strengthen ties through Petronas-JERA LNG deal, ringgit-yen cooperation” yang tayang pada Rabu, (10/6/2026), Jepang memperkuat kerja sama energi lewat kesepakatan jangka panjang antara perusahaan energi Malaysia, Petronas, dan perusahaan listrik terbesar Jepang, JERA. Kesepakatan tersebut mencakup suplai sekitar 2 juta ton liquefied natural gas (LNG) per tahun selama 20 tahun, mulai 2028.

Kerja sama itu nunjukin bahwa Jepang masih masukin gas sebagai bagian penting dari strategi keamanan energi nasional. Di saat yang sama, Jepang juga terus ngembangin energi rendah emisi, termasuk hidrogen dan energi terbarukan. Namun, gas masih dipakai buat bantu menjaga kestabilan pasokan listrik dan kebutuhan industri, terutama saat permintaan energi meningkat atau produksi energi lain berubah.

Jerman tetap masukin gas di tengah ekspansi energi hijau

Melansir dari pengumuman resmi Pemerintah Kanada berjudul “Canada secures first European LNG deal” pada Kamis, (11/6/2026), perusahaan energi Jerman SEFE (Securing Energy for Europe) ngamanin kerja sama LNG jangka panjang dengan proyek Ksi Lisims LNG di Kanada. 

Dalam kesepakatan tersebut, Jerman diproyeksikan menerima sekitar 1 juta ton LNG per tahun hingga 20 tahun, dengan pengiriman yang diperkirakan mulai awal 2030-an.

Langkah ini nunjukin bahwa meski energi terbarukan terus diperbesar, Jerman masih masukin gas sebagai bagian dari strategi keamanan pasokan energi. Dalam beberapa tahun terakhir, negara-negara Eropa juga makin fokus buat diversifikasi sumber energi dan ngurangin risiko gangguan pasokan global. 

Produksi listrik dari tenaga surya dan angin memang terus naik, tapi pasokannya tetap bisa berubah tergantung kondisi cuaca sehingga gas masih dipakai buat bantu jaga kestabilan sistem kelistrikan.

Negara maju belum ninggalin gas, tapi cara pakainya berubah

Melansir dari laporan Gas Market Report Q1 2026 milik International Energy Agency (IEA), pertumbuhan pasokan LNG global diperkirakan makin cepat sepanjang 2026 dan ikut mendorong kenaikan permintaan gas dunia ke level yang lebih tinggi. Kawasan Asia Pasifik bahkan diproyeksikan nyumbang sekitar setengah dari pertumbuhan permintaan gas global tahun ini.

Meski begitu, model penggunaannya nggak selalu sama dengan Indonesia. Kalau RI lagi ngulik CNG 3 kg buat rumah tangga, negara maju seperti Jepang dan Jerman lebih banyak nggunain jaringan gas rumah tangga (piped natural gas), LNG skala besar, atau sistem gas yang udah terintegrasi sama infrastruktur nasional. Perbedaan pendekatan ini biasanya disesuaiin sama kebutuhan energi, kondisi geografis, dan kesiapan teknologi di masing-masing negara. (deA/aRsp)

Gen Z Takeaway

Kalau ditarik simpel, negara maju ternyata belum move on dari gas—mereka cuma upgrade cara pakainya. Jepang masih nge-lock pasokan LNG jangka panjang, Jerman tetap masukin gas ke strategi energinya, sementara Indonesia lagi nyari formula yang paling cocok lewat uji coba CNG 3 kg. Jadi, isu ini bukan cuma soal ganti gas melon, tapi juga soal gimana tiap negara bikin sistem energi yang tetap aman di tengah kondisi global yang gampang berubah.

Berita Spill CNG gas CNG 3 KG Kementerian ESDM bahan bakar Hidrokarbon

Infografis

Terkini