Harga Minyak Dunia Turun, Brent USD87,62, WTI USD81,72, Sinyal Drama Timteng Mereda?

Pewarta: Shintya
Editor: Anri Syaiful
Selasa, 28 Juli 2026 | 15:38 WIB
Harga Minyak Dunia Turun, Brent USD87,62, WTI USD81,72, Sinyal Drama Timteng Mereda?
Harga Minyak Dunia Turun, Brent USD87,62, WTI USD81,72, Sinyal Drama Timteng Mereda? [Ilustrasi/AI]

astakom.com, Jakarta - Harga minyak mentah dunia turun pada Selasa (28/07/2026) pagi. Sentimen positif ini datang setelah Amerika Serikat (AS) dan Iran yang sepakat buat gencatan senjata alias menghentikan eskalasi untuk sementara waktu.

Padahal sebelumnya, pasar sempat dibuat khawatir setelah harga minyak melonjak drastis sampai 20 persen cuma dalam waktu dua minggu, bahkan bikin minyak jenis Brent menyentuh angka USD100 per barel akibat eskalasi di Timur Tengah itu.

Pantauan dari data astakom.com pada Senin pukul 20.37 EDT (atau Selasa pukul 08.37 WIB), minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak September 2026 terpantau turun sekitar 1,08 persen ke level USD81,72 per barel. 

Di waktu yang sama, minyak jenis Brent juga ikutan turun 0,84 persen ke angka USD87,62 per barel.

Sempat melonjak

Sebenarnya, tren penurunan harga ini sudah mulai kelihatan sejak pukul 14.45 ET (18:45 GMT). Saat itu, kontrak berjangka Brent untuk bulan Oktober merosot cukup dalam sebesar 6,5 persen menjadi USD85,67 per barel. 

Harga minyak mentah WTI berjangka untuk September juga ikutan anjlok hingga 7,8 persen ke angka USD82,32 per barel.

Padahal kalau ditarik ke belakang, grafik harga minyak ini sempat bertengger tinggi alis naik banyak. Harga Brent tercatat sempat melesat 20,6 persen selama dua minggu, sementara WTI naik 19,2 persen.

Lonjakan Brent sampai menyentuh USD100 per barel pekan lalu dipicu oleh eskalasi Iran yang makin meluas. Gak cuma di Selat Hormuz, ketegangan bahkan merembet sampai ke Laut Merah. Hal bikin pelaku pasar panik karena berpotensi besar mengacaukan jalur ekspor minyak mentah dari kawasan Timur Tengah.

Pentagon kehabisan stok

Untungnya, tensi panas ini mereda setelah Washington memutuskan buat menyudahi eskalasi yang sudah berlangsung selama 13 malam berturut-turut. 

The New York Times pada hari Jumat melaporkan bahwa Presiden AS Donald Trump telah menghentikan rencana untuk meningkatkan operasi militer AS di Iran secara tajam setelah bertemu dengan para penasihat utamanya dan anggota senior pemerintahan.

Ada pihak yang menduga bahwa keputusan penting ini diambil karena persediaan pertahanan udara milik Pentagon sudah mulai menipis.

Pasar mulai optimis

Direktur investasi di AJ Bell, Russ Mould, menjelaskan bahwa penurunan tajam harga minyak hingga kembali ke level USD90 per barel ini sukses bikin pasar saham global bernapas lega dan memulai pekan ini dengan performa yang lebih optimis.

Meredanya situasi ini juga terjadi berkat campur tangan Oman yang mencoba menjadi mediator alias penengah konflik. Oman berusaha menengahi kesepakatan mengenai masalah pelik terkait jalur pelayaran penting di Selat Hormuz.

Mould menuturkan bahwa minyak mentah Brent sempat kembali menyentuh USD100 per barel akhir pekan lalu saat Washington dan Teheran masih hobi saling bersitegang.

Sinyal harga minyak bisa balik lagi ke level USD70/barel

Namun, inisiatif damai dari Oman memberikan angin segar dan harapan baru bagi para investor bahwa kesepakatan yang langgeng antara Amerika dan Iran bisa benar-benar terwujud.

Sejak adanya kesepakatan perdamaian awal pada 8 April lalu, proyeksi utama pasar memang menilai bahwa eskalasi militer sudah mencapai puncaknya, sehingga langkah logis berikutnya adalah de-eskalasi atau penurunan tensi.

"Hal itu pada gilirannya mendukung ekspektasi penurunan harga minyak kembali ke angka USD70 per barel, di mana harga berada sebelum serangan awal Amerika dan Israel pada akhir Februari," tambah Mould dikutip oleh astakom.com pada Selasa (28/7/2026).

Plot Twist dari jalur pelayaran

Meski situasinya mulai chill, pasar masih harus waspada, cermat dan nggak boleh abai sama gangguan pengiriman laut yang sampai sekarang masih berlanjut. Faktor ini diprediksi masih bisa ngetrigger fluktuasi harga minyak mentah ke depannya.

Lantaran, terlihat dari jumlah kapal komoditas yang melintasi Selat Hormuz setiap harinya terpantau makin sedikit selama akhir pekan kemarin. Gak cuma di situ, lalu lintas kapal di Selat Bab el-Mandeb-jalur super vital yang menghubungkan Laut Merah dan Teluk Aden juga dilaporkan melambat pasca ketegangan dari kelompok Houthi yang menyasar fasilitas minyak milik Arab Saudi. (Shnty/aNs)

Gen Z Takeaway

Harga minyak dunia auto turun setelah AS dan Iran sepakat gencatan senjata, bikin sentimen pasar langsung lebih chill. Meski sempat nge-spike sampai USD100 per barel, investor kini mulai optimistis. Tapi, risiko dari jalur pelayaran Timur Tengah masih bisa bikin harga minyak tiba-tiba volatile lagi.

harga minyak dunia turun harga minyak dunia eskalasi timur tengah Minyak Mentah Dunia

Infografis

Terkini